Nobar Film Gratis untuk Pelajar di 12 Provinsi, Mau?




JAKARTA, KOMPAS.com - Upaya penyemaian nilai-nilai budaya sebagai pembentuk karakter bangsa disajikan dalam bentuk unik. Dengan tajuk "Nonton Bareng Film Inspiratif", Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menggelar nonton bareng di beberapa daerah yang tersebar di tanah air.


Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryanti menyampaikan, kegiatan ini akan segera dilaksanakan mulai bulan ini sampai Oktober 2012 yang menyasar pada para pelajar. Nonton bareng dan gratis ini bertujuan untuk memaksimalkan pemanfaatan media dalam rangka menumbuhkan nilai karakter bangsa. Diharapkan, kegiatan ini dapat membuka kesempatan khususnya pada pelajar di daerah untuk menonton film berkualitas dan penuh inspirasi.

"Bisa juga menggugah pelajar untuk berdiskusi mengenai nilai positif yang terkandung di dalam film, sejalan dengan membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya nilai karakter bangsa," kata Wiendu, di gedung Kemendikbud, Jakarta, Rabu (5/9/2012).

Di luar itu, lanjut Wiendu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk membuka ruang diskusi seluruh pemangku kepentingan di daerah tentang pentingnya menumbuhkembangkan pendidikan nilai-nilai kebangsaan.

Sasaran utama dari kegiatan ini adalah pelajar, dan para tenaga pendidik. Alasan lain digelarnya kegiatan ini adalah karena semakin maraknya budaya asing yang masuk dan dengan mudahnya digandrungi generasi muda.

Film-film yang akan diputar dibagi dalam beberapa kategori dan judul film. Kategori film anak, misalnya Garuda di Dadaku 2 dan Lima Elang. Sedangkan film Batas, Negeri 5 Menara, dan Ruma Maida dimasukkan dalam kategori film umum. Kelima judul film itu dinilai mewakili dan bermuatan nilai-nilai positif guna persemaian karakter dan semangat kebangsaan.

Nonton bareng akan digelar di sejumlah sekolah dan balai rakyat atau alun-alun warga di 12 daerah di Indonesia, yaitu Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Banten, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Nanggroe Aceh Darussalam.

Sumber

Mukhtasar Ingin Menduniakan Filsafat

YOGYA (KRjogja.com) - Usai terpilih kembali, Mukhtasar mengaku telah yakin jika dirinya memang akan menang. Pasalnya, ia merasa memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh kandidat pesaingnya. Salah satunya adalah pengalaman mengelola fakultas filsafat saat ia menjabat di periode sebelumnya.


"Saya berpatokan pada pengalaman satu periode lalu dalam membangun jaringan internasional di Filsafat. Fakultas filsafat kini sudah dikenal di jaringan internasional dan organisasi filsafat di dunia sudah mulai mengenal Filsafat di UGM. Yakni mulai dari Eropa hingga Afrika," ujarnya.

Menurutnya, pada saat menjabat sebagai dekan, ia telah berusaha keras untuk mengindonesiakan filsafat dengan mengenalkan fakultas ini pada masyarakat luas. Sebab diakui jika filsafat belum banyak dikenal orang khususnya calon mahasiswa baru.

"Dulu fakultas filsafat itu tidak terlalu diminati mahasiswa baru dan bahkan banyak yang tidak tahu. Namun dengan terobosan yang kami lakukan, yakni mengenalkan filsafat pada siswa SMA, terbukti kini mahasiswa filsafat meningkat sampai 100 persen dibanding tahun sebelumnya," ungkap Mukhtasar.

Baginya, filsafat merupakan fakultas yang strategis untuk dikembangkan, terutama karena filsafat di UGM merupakan satu-satunya yang menjadi fakultas di universitas negri di Indonesia. Prinsip pengembangan filsafat di UGM juga tidak sama, yakni menggunakan pendekatan filsafat Barat untuk menganalisis kearifan lokal filsafat di Indonesia.

"Filsafat adalah fakultas yang strategis untuk dikembangkan terlebih karena UGM adalah satu-satunya yang memiliki itu. Karenanya kami selalu upayakan untuk menduniakan filsafat salah satunya dengan membuka kesempatan bagi dosen untuk berinteraksi dengan lembaga filsafat internasional, mengirim mereka ke luar negri dan sekolah S3 kesana," imbuhnya. (Aie
)


Sumber
KRJogja

Jokowi: Prioritaskan Kualitas Pendidikan


JAKARTA (KRjogja.com)- Kualitas pendidikan adalah prioritas yang utama, baru endidikan gratis. Calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menilai yang terpenting dari program pendidikan bukan  gratisnya.


Seharusnya dengan total anggaran pendidikan DKI Jakarta yang sangat besar, yaitu sekitar Rp9,8 triliun, kualitas pendidikan di ibukota dapat ditingkatkan adalah kualitas pendidikannya.
Demikian Calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yang juga Wali Kota Solo, ketika menghadiri acara silaturahmi bersama Ikatan Keluarga Alumni Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta di Gedung Serba Guna Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (15/9). 



Karena kalau pendidikannya gratis, namun kualitasnya rendah, itu percuma," kata Jokowi. Jika terpilih sebagai gubernur DKI maka dirinya mengaku memiliki konsep tersendiri terkait masalah pendidikan di Jakarta. 


"Saya pikir di wilayah-wilayah pinggiran Jakarta harus dibangun juga sekolah-sekolah unggulan. Maksudnya, dibangun SD, SMP dan SMA yang berkualitas, sehingga warga tidak bertumpuk di pusat Jakarta," katanya.
Jokowi menuturkan, sekolah berkualitas dimaksud adalah sekolah dengan infrastruktur, tata ruang, serta fasilitas yang lengkap.



"Artinya, infrastruktur dilengkapi, fasilitas juga dilengkapi, dan yang paling penting adalah mengenai tata ruang, karena harus ada penghijauan," ujarnya.(Ati)


Sumber

Hati-hati, Jangan Tertipu Kisi-kisi Soal UN


JAKARTA, KOMPAS.com - Masyarakat diimbau untuk berhati-hati dan tidak mempercayai kisi-kisi atau bocoran soal ujian nasional (UN) yang diperjualbelikan bebas di pasaran. Pasalnya, tidak akan ada kisi-kisi atau kunci jawaban UN yang diperjualbelikan terlebih dengan embel-embel akurasi yang tinggi.


Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Chairil Anwar Notodiputro menyampaikan, kisi-kisi UN 2013 tidak disajikan dalam bentuk butir-butir soal. Akan tetapi, kisi-kisi yang diberikan hanya menampilkan judul, atau panduan mengenai materi apa saja yang akan diujikan.

"Kami tidak mengeluarkan kisi-kisi UN dalam bentuk butiran soal. Tapi hanya tor-nya saja, bukan latihan soal. Hati-hati jika ada pihak yang coba menipu dengan iming-iming akurasi tinggi," kata Chairil kepadaKompas.com, Sabtu (15/9/2012), di Jakarta.

Kisi-kisi soal UN akan dijadikan landasan untuk pembuatan soal ujian. Bersama Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Kemendikbu terus berkoordinasi menggodok kisi-kisi tersebut. Rencananya, kisi-kisi UN akan disosialisasikan kepada seluruh siswa pada Oktober bulan depan. Semua tergantung keputusan dari BSNP atas draf kisi-kisi yang direkomendasikan oleh Kemendikbud.

Mengenai jumlah soalnya, telah ditentukan bahwa UN 2013 menggunakan 20 tipe soal. Diharapkan, banyaknya jenis soal akan menyulitkan siswa untuk mencontek sekaligus menekan tingkat kecurangan demi menjaga dan meningkatkan kredibilitas UN.

Sumber


Mahfud MD: Pendidikan Indonesia Hanya Pintarkan Orang


YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Dr Mahfud MD menilai, pendidikan di Indonesia saat ini tidak mencerdaskan masyarakat, tetapi hanya mendidik individu agar memiliki ketajaman otak atau kemampuan berpikir. Sementara pendidikan watak dan karakter sangat diabaikan sehingga terjadi kemerosotan moral dan etika di tengah kehidupan masyarakat Indonesia.
"Kebijakan pendidikan saat ini justru bukan mencerdaskan masyarakat, melainkan hanya membuat orang jadi pandai," tuturnya, Senin (17/9/2012), saat memberikan kuliah umum di hadapan ribuan mahasiswa baru program pascasarjana Universitas Gadjah Mada di Graha Sabha Pramana (GSP).

Mahfud mengatakan bahwa cerdas dan pandai adalah dua hal yang berbeda. Kepandaian hanya menekankan pada kemampuan otak dalam berpikir menganalisis suatu hal secara rasional. Sedangkan kecerdasan merupakan pertemuan antara ketajaman berpikir, watak, dan hati nurani.

"Saat ini yang terjadi adalah pendidikan hanya memandaikan individu sehingga banyak bermunculan limbah-limbah pendidikan yang produknya hanya membebani negara," terangnya.
Dalam beberapa dekade terakhir, lanjut Mahfud, pendidikan di Indonesia seperti hanya ditujukan untuk memberikan ijazah dan gelar akademis semata. Sebab, keduanya masih menjadi ukuran untuk mendapatkan status formal di pemerintahan. Maka, tidak mengherankan apabila banyak pihak yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh ijazah dan gelar akademis.
"Banyak terjadi pelanggaran etika karena yang diinginkan hanya ijazah, bukan kecerdasan," jelas Mahfud.
Lebih lanjut, Mahfud menyampaikan, setiap perguruan tinggi harus membangun norma akademis, memperkuat tradisi akademis, serta kegiatan penunjang yang dapat memperkuat profesionalitas dan etika. Ketiga hal tersebut merupakan faktor yang harus ada untuk memperkuat etika keilmuan dalam proses pengembangan pendidikan beretika.
"Dalam pengembangannya pun harus dilakukan sama kuat karena sumber dari berbagai permasalahan yang ada adalah karena penyelenggaraan pendidikan kita yang keluar dari nilai-nilai etika yang sudah digariskan undang-undang. Jadi yang ada pendidikan sekarang ini hanya menjadi semacam proses jual beli," katanya.
Sementara sebelumnya, Rektor UGM Prof Dr Pratikno, MSoc, Sc dalam sambutannya mengatakan bahwa pendidikan bukan hanya sebatas pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga berkaitan dengan integritas moral, etika, dan karakter kebangsaan.
Menurutnya, permasalahan pendidikan di Indonesia bukan terletak pada kurang pintarnya individu, melainkan kurang pintar sebagai bangsa. Pendidikan seharusnya tidak hanya bersifat mencerdaskan individu, tetapi juga mencerdaskan bangsa.
"Untuk itu, UGM juga berkomitmen tidak hanya mencerdaskan individu, tetapi juga menjadikan bangsa yang cerdas agar menjadi bangsa yang bermartabat, berdaulat, dan dihargai di dunia internasional," paparnya.

2013, Biaya Seleksi Masuk PTN Gratis


DEPOK, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Djoko Santoso, menegaskan bahwa seluruh biaya masuk perguruan tinggi negeri (PTN) akan ditanggung oleh pemerintah mulai tahun 2013. Dengan demikian, semua siswa memiliki hak untuk ikut serta pada seleksi masuk PTN secara gratis.

"Apapun namanya, undangan atau tertulis, semua lulusan jenjang SMA boleh mendaftar langsung dan gratis," kata Djoko saat ditemui Kompas.com, di Balairung kampus UI, Depok, Rabu (12/9/2012).

Kemendikbud telah berencana sejak lama bahwa seleksi masuk PTN akan digelar dengan gratis untuk mengurangi beban masyarakat terkait biaya pendaftaran seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) yang mencapai Rp 150.000 per siswa. Pemerintah siap menggelontorkan anggaran sekitar Rp 300 juta untuk memenuhi rencana tersebut.

Namun demikian, Djoko mengatakan bahwa Majelis Rektor PTN masih merumuskan mekanisme penerimaan mahasiswa di PTN, twrmasuk mengenai bobot nilai yang akan digunakan, antara nilai rapor dan hasil Ujian Nasional (UN). Seleksi masuk PTN dibagi ke beberapa jalur, undangan, tertulis, dan seleksi mandiri di masing-masing perguruan tinggi. Khusus untuk jalur undangan, proporsi siswa yang direkomendasikan oleh sekolah ditentukan oleh akreditasi sekolah tersebut.

Djoko berharap, kebijakan ini akan membuka akses masuk ke PTN makin lebar dan berkeadilan karena memperkecil kemungkinan adanya siswa yang gagal mengikuti SNMPTN karena alasan tak memiliki biaya mendaftar.

Tahun Depan, 90 Persen Seleksi Masuk PTN Lewat Jalur Undangan


JAKARTA, KOMPAS.com - Penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri (PTN) secara nasional mulai tahun 2013 diutamakan lewat jalur undangan. Sebanyak 90 persen kursi di PTN diperbeutkan lewat seleksi nasional jalur undangan yang terbuka bagi semua siswa kelas 3 di jenjang pendidikan menenga.

"Untuk tahun depan, penerimaan mahasiswa baru yang seleksi nasional mencapai 90 persen. Kuota itu ditujukan untuk siswa yang berada di kelas tiga SMA/SMK atau sederajat pada tahun 2013. Adapun siswa yang lulus tahun lalu bisa ikut lewat ujian tulis yang jatahnya 10 persen," kata Idrus Paturusi, Ketua Majelis Rektor PTN Indonesia, Senin (10/9/2012).

Menurut Idrus yang juga Rektor Universitas Hasanuddin, Makassar, pada awalnya penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) hendak diubah seluruhnya lewat jalur undangan saja. Penerimaan mahasiswa baru dengan mempertimbangkan nilai raport selama belajar di pendidikan menengah dan nilai ujian nasional (UN).

"Namun, ada masukan supaya tetap ada kesempatan bagi lulusan tahun lalu yang mau ikut ujian lagi. Mereka bisa lewat ujian tulis yang diselenggarakan tiap PTN," ujar Idrus.
Bobot UN 

Dengan berubahnya sebagian besar penerimaan mahasiswa baru PTN lewat jalur undangan, pendaftaran menjadi terbuka buat semua siswa kelas 3 di jenjang pendidikan menengah. Sebelumnya, seleksi nasional lewat jalur undangan dikhususkan bagi siswa berprestasi yang direkomendasikan tiap sekolah, yang jumlahnya bergantung pada akreditasi sekolah.

Selain pendaftaran terbuka bagi semua siswa, biaya pendaftaran pun ditanggung pemerintah. Perubahan ini sejalan dengan ketentuan pada pasal 73 ayat 1 dan 2 Undang-undang No 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi.

Pada pasal itu disebutkan bahwa penerimaan mahasiwa baru PTN dapat lewat pola penerimaan mahasiswa baru secara nasional dan bentuk lain. Pemerintah menanggung biaya calon mahasiswa yang akan mengikuti pola penerimaan mahasiswa baru secara nasional.  

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan beban masyarakat untuk pendaftaran ujian masuk PTN selama ini cukup tinggi. Selain itu, di tingkat akhir siswa SMA/SMK juga menjadi stress karena dibebani UN dan berbagai tes masuk ke PT.

"Pemerintah memikirkan supaya ada satu cara penerimaan yang bisa berlaku untuk semuanya. Biaya pendafataran yang ditanggung masyarakat akan ditanggung pemerintah," kata Nuh.


Oktober, Kisi-kisi UN 2013 Disosialisasikan



JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merencanakan sosialisasi kisi-kisi Ujian Nasional (UN) 2013 pada bulan depan. Saat ini, Kemendikbud tengah mematangkan konsep kisi-kisi tersebut untuk kemudian dikoordinasikan bersama Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Kepala Badan Penelitian dan Pemgembangan Kemendikbud, Chairil Anwar Notodiputro mengatakan, kebijakan  untuk menerapkan 20 paket soal pada UN mendatang menuntut pihaknya melakukan pesiapan yang lebih matang, diawali dengan penyusunan kisi-kisi supaya bisa segera disosialisasikan.

"Dengan adanya 20 variasi soal memang perlu persiapan lebih, terutama kisi-kisi soal yang diujikan. Tahun lalu November akhir, tahun ini kami targetkan Oktober kisi-kisi sudah bisa dipelajari siswa," kata Chairil kepada Kompas.com, Sabtu (15/9/2012)

Akan tetapi, kata dia, sosialisasi baru bisa dilakukan setelah BSNP memberi "restu" untuk melansir kisi-kisi UN tersebut. Karena secara teknis, Kemendikbud hanya berwenang memberikan konsep atau draf kisi-kisi UN, langkah selanjutnya menjadi wewenang penuh BSNP sebagai badan yang bertanggungjawab besar pada UN.

"Balitbang Kemendikbud harus berkoordinasi dengan BSNP untuk mensosialisasikan kisi-kisi UN. Jika BSNP oke, maka itu akan langsung dibagikan ke masyarakat melalui website," pungkasnya.


Sesuai kisi-kisi

Sementara itu, Chairil juga mengatakan bahwa pembuatan soal-soal UN 2013 akan merujuk pada kisi-kisi yang bakal disosialisasikan. Dia mengatakan, rancangan ini bertujuan agar tercipta kesinambungan antara kisi-kisi UN dengan soal yang akan diujikan. Dengan demukian, para peserta UN tak akan kaget saat menghadapi ujian.

"Kisi-kisi menjadi dasar untuk pembuatan soal, supaya ada kesinambungan antara materi yang dipelajari dengan soal ujian," tuturnya.

Pemerintah telah menetapkan kebijakan untuk menggunakan 20 jenis soal pada pelaksanaan UN 2013. Hal itu dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan kredibilitas UN, sejalan dengan upaya menekan praktik kecurangan pada hajat tahunan itu, selain agar sesuai dengan rencana mengintegrasikan hasil UN sebagai tiket masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).

Sumber

Adu Strategi Hadapi 20 Tipe Soal UN




JAKARTA, KOMPAS.com - Sekolah, terutama para guru yang bertugas menyiapkan siswanya untuk menghadapi Ujian Nasional (UN) model baru, kini sudah mulai memetakan strateginya. Hal ini terkait rencana pemerintah yang akan mengeluarkan kebijakan baru membuat 20 tipe soal UN untuk mengurangi kecurangan, dan mengintegrasikan hasil UN sebagai instrumen untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). 

Guru Bidang Kurikulum SMAN 68 Jakarta Anwar Fari mengatakan, jika standar kompetensi lulusan sudah diperbaharui melalui sistem tersebut, sekolah akan tetap memperhatikan kompetensi dasar dan melakukan persiapan lebih dalam. 

"Kalau sudah ada surat keputusan dan acuan yang jelas, sekolah akan mengikutinya," ujar Farid saat dihubungi kompas.com, Senin (17/9/2012). 

Meski belum digulirkan secara resmi, Farid mengatakan rencana pengadaan 20 tipe soal UN bisa membawa perubahan. Menanggapi hal demikian, sekolah hanya akan mengajak para siswa untuk belajar lebih giat lagi. 

"Belajar saja terus dari tahun lalu juga seperti itu, maka kalau ada perubahan lagi, nanti diberitahukan kepada siswa untuk lebih giat lagi menghadapi tantangan baru. Dan lagi pula, ini sebenarnya tidak ada perbedaan, hanya porsinya saja," kata Farid.

Menurut Farid, sebenarnya soal yang nanti diberikan pada siswanya adalah sama, yakni berjenismultiple choice. Sifatnya juga lebih kepada pemahaman materi dari setiap mata pelajaran yang diujikan.

"Jadi modelnya tetap sama-sama pilihan ganda. Persiapannya hanya perlu pemantapan khusus dengan belajar terus materinya dan menganalis bentuk dan kedalaman soal-soal," jelasnya. 

Sama halnya dengan tanggapan Nurliana, Kepala SMUN 94 Semanan Jakarta Barat. Dia menganggap pengadaan 20 tipe soal UN sebagai tantangan, sehingga para guru tetap perlu memikirkan strategi pembelajaran untuk mencapai semua tujuan pendidikan. 

"Kami akan menjadikannya tantangan. Tetap memeriksa persiapan mengajar guru, mengawasi pelaksanaan pembelajaran dan mengadakan evaluasi serta menganalisa hasil evaluasi," ucapnya, membocorkan strategi belajar mengulang atau remedial dan pengayaan belajar sesuai hasil analisis sekolahnya. 

"Bukan hanya itu saja, siswa pun harus diberi motivasi agar lebih semangat belajar. Bekal seperti ini juga berguna untuk hidup mereka ke depannya, karena sehebat apapun guru semua tergantung siswanya," katanya.

Menurutnya, strategi yang perlu dilakukan adalah dengan membiasakan siswanya menghadapi variasi soal dari sekarang, sehingga meskipun berbeda jenisnya, materi yang diujikan tidak jauh berbeda dengan pelajaran di kelas. 

"Kecuali pengayaan soal-soal SMPTN terus dicampuradukkan," cetusnya.



 

Simpang Siurnya Data Pokok Pendidikan...


M.LATIEF/KOMPAS.COM
JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam beberapa tahun ini, pemerintah banyak melakukan terobosan di dunia pendidikan. Akan tetapi, semua inisiatif dilaksanakan sebelum data pokok pendidikan (dapodik) tersaji dengan mantap.


Pada pelaksanaannya, tak sedikit masalah yang muncul. Faktor pemicu terbesar adalah ketidaksiapan lapangan karena para "jugador-nya" seperti tak memiliki bekal data yang valid dan akurat, baik di tingkat daerah, maupun pusat.

Dimulai dengan program beasiswa biaya pendidikan mahasiswa berprestasi, atau sering dipendekkan menjadi bidik misi. Santunan istimewa ini pertama kali diberikan kepada 20 ribu mahasiswa di tahun 2010. Berdasarkan catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sampai triwulan pertama 2012, jumlah penerimanya telah mencapai 90 ribu mahasiswa.

Jumlah itu terus bertambah seiring dengan dimulainya tahun akademik baru. Karena rencana awalnya, plafon bidik misi di setiap tahun mencapai 20 ribu mahasiswa walau tak menutup kemungkinan ada penambahan di tengah perjalanan. Tentunya hanya untuk mereka para mahasiswa yang benar-benar miskin tapi mampu secara akademik untuk mengikuti perkuliahan.

Niat baik tentu perlu diapresiasi, akan tetapi ada hal serius yang perlu diperhatikan, yaitu kelemahan data sehingga memicu pemberian bidik misi yang salah sasaran. Mahasiswa yang mampu secara finansial juga ikut mendaftar sebagai calon penerima beasiswa tersebut. Realitanya, tak sedikit mahasiswa di perguruan tinggi negeri (PTN) yang tidak tergolong miskin akhirnya memperoleh beasiswa yang sejatinya bukan menjadi haknya.


Simpang siur


Kemendikbud selalu menjawab dengan dua hal untuk menampik lemahnya dapodik. Pertama, melemparkan masalah kepada daerah dengan alasan semua data berdasarkan pengolahan di daerah. Kedua, selalu berjanji akan terus memperkuat basis data baik dari segi jumlah siswa, jumlah guru, maupun kondisi sekolah di seluruh Indonesia. Diharapkan data tersebut dapat terinvetarisasi secara valid pada tahun 2012.

"Bukan salah sasaran, tetapi kita belum bisa menghimpun secara pasti, karena data yang kita gunakan data dari daerah. Ke depan kita akan miliki dapodik secara nasional," dikatakan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Bidang Pendidikan, Musliar Kasim beberapa waktu lalu.

Contoh lain adalah mengenai Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Tinggi. Data yang dimiliki Kemendikbud berbeda dengan data Badan Pusat Statistik (BPS), lain pula dengan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Data Kemendikbud mengenai APK Dikti hanya 16 persen, sementara BPS dan Bappenas masing-masing melansir 18 persen dan 26,3 persen.

Belum lagi saat menggulirkan program Bantuan Siswa Miskin (BSM), sasaran penerimanya juga tidak jelas. BPS melansir ada 40 juta jumlah masyarakat miskin, sedangkan dalam catatan Kemendikbud jumlah siswa miskin mencapai 70 juta jiwa.

Lemahnya dapodik berimbas pada amburadulnya layanan yang diberikan. Ada sebuah lelucon yang mengatakan, pembangunan pendidikan nasional tak akan optimal selama hanya melihat dari kacamata Jawa.

Tengok saja pelaksanaan Ujian Nasional (UN), dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Semua ketentuan diberlakukan sama, mulai dari bobot soal sampai pada standar kelulusannya masih belum adil, khususnya buat mereka, para peserta didik di timur Indonesia.

Seperti diketahui, UN dan SNMPTN dilaksanakan serba sama secara nasional, begitupun standar kelulusannya. Tidak akan terlalu masalah bagi siswa di kota besar yang kualitas pendidikannya dapat dan mungkin bisa melebihi rata-rata nasional. Tetapi bagaimana dengan siswa di daerah? Mereka menjerit, tapi tak terdengar.

Perbaiki validitas

Dalam sebuah pertemuan bersama Komisi X DPR, Ketua Indonesia Menggugat, Iwan Pranoto menyampaikan kritiknya pada pelaksanaan UN. Baginya, UN menjadi tidak logis dan tidak manusiawi saat hasilnya dijadikan penentu kelulusan. Pasalnya asupan pendidikan yang diterima para siswa masih berbeda berdasarkan kemampuan daerahnya.

"Akhirnya timbul kecurangan, itu karena pendidikan disuguhkan dengan cara yang kuno," ungkapnya.

Anggota Komisi X DPR, Dedi Gumelar menjadi salah satu anggota dewan yang paling sering menyoroti kelemahan dapodik. Baginya, kendala pembangunan pendidikan secara nasional lebih dikarenakan tiga hal, yakni data, data, dan data.

Dalam catatannya, ada kevakuman memperbarui dapodik selama lebih dari lima tahun. Itu mengapa dirinya selalu ragu akan validitas dapodik saat ini.

"Iya dong, data itu penting. Supaya kita memiliki peta untuk menyusun kebijakan semua program dan postur anggaran yang berdasarkan pada riset," kata Dedi kepada Kompas.com, Jumat (14/9/2012) pagi.

Itulah sepenggal potret mengenai kelemahan data pokok pendidikan. Belum ditambah dari sisi data tenaga pendidik yang kisruhnya masih tercium hingga saat ini. Terakhir adalah pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) yang data pesertanya terbukti karut marut. Padahal, dapodik merupakan hal terpenting yang harus dimiliki pemerintah sebagai acuan dasar untuk melaksanakan semua programnya.

Sumber

Menunggu Majalah Sekolah 'Naik Daun'


KOMPAS.com - Tak semua sekolah mempunyai majalah internal yang mengabarkan berbagai kegiatan. Kalaupun ada majalah sekolah, tim redaksinya kurang mendapat dukungan. Gimana ya cerita MuDAers yang masih tekun ”menghidupkan” majalah sekolahnya?


Kini, jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter menjadi media alternatif terpopuler untuk menuangkan ide, kabar, kisah, atau berita apa pun. Namun media fisik seperti majalah dinding (mading), newsletter, atau berbagai bentuk fisik lain rupanya masih tetap disukai, meski kurang dukungan.

Simak koran College Gazzette yang diterbitkan siswa SMA Kolese Kanisius (Canisius College) edisi bulan Februari dan Mei 2012. Koran delapan halaman itu berisi berbagai kegiatan SMA Kanisius sekaligus memperingati 85 tahun Kolese Kanisius Jakarta.

Sebelumnya, mereka menerbitkan majalah per semester, Canipress, setebal 50 halaman sejak 1980. Sayang, setelah terbit sampai tahun lalu, hingga kini mereka belum bisa menerbitkannya lagi. Meski konsepnya sudah jadi dalam bentuk soft copy.

Mengapa begitu? ”Sebenarnya anggota redaksi banyak, sekitar 30 orang. Tetapi karena sebagian besar kelas XI, jadi sulit mengaturnya,” ungkap Ketua Canipress, Mikael Reno Prasasto, siswa Kelas XII SMA Kanisius.

Meski kurang mendapat dukungan secara umum, mereka tak putus asa. Untuk itulah, mereka beralih menerbitkan koran yang menelan biaya Rp 300.000 untuk ongkos cetaknya.

”Semuanya uang kami sendiri. Banyak teman yang senang membaca koran kami, dan mendorong untuk terus menerbitkan media sekolah ini. Sekarang kami lagi berusaha meyakinkan sekolah, biar mendapat dukungan,” kata editor bahasa College Gazzette, Daniel Felix Heritono.

Hasil karya mereka yang tak dicetak, ditampilkan dalam canisiuspress.thumblr.com. Salah satu karya mereka yang ada di website itu adalah majalah Canipress edisi 67 yang belum diterbitkan.

Kondisi seperti itu juga dialami redaksi majalah Oase dari SMA Negeri 1 Solo, Jawa Tengah. Siswa SMA Negeri 1 Solo, Amalia Fitri Saraswati, mengatakan, seharusnya majalah Oase terbit per semester, tetapi karena kekurangan dana, majalah ini terbit sekali setahun.

”Sekolah memang memberikan dana untuk sekali penerbitan majalah. Sebenarnya peminat menjadi anggota redaksi banyak, tetapi yang bisa diterima hanya belasan orang. Kami juga mengalami pasang surut anggota,” ujar Amel, panggilan Amalia.

Padahal, menurut Amel, majalah yang dicetak sebanyak 970 eksemplar itu cukup diminati para siswa.

”Tetapi artikel yang mereka baca ya yang menarik atau menyangkut diri mereka saja, selebihnya kadang-kadang banyak yang tidak terbaca,” ujarnya.

Untuk itulah, Amel mengatakan, tim redaksi mesti kreatif berusaha mencari tema-tema yang dekat dengan remaja, dan membuat desain dengan warna cerah, biar menarik para pembaca.

Lebih beruntung

Siswa-siswi SMA Negeri 8 Jakarta menjadi awak redaksi yang lebih beruntung karena masih bisa mengekspresikan kreativitas menulisnya dalam bentuk majalah sekolah. Mereka hingga kini tetap gigih mengelola mading, majalah sekolah, dan produk jurnalistik mereka setiap tahun. Siswa-siswi tersebut tergabung dalam klub jurnalistik Media Siswa 8 (Mesis8).

Setiap tahun klub jurnalistik ini selalu dibanjiri peminat. ”Biasanya sepertiga angkatan baru selalu masuk menjadi anggota Mesis8,” tutur Ilham (17), ketua klub jurnalistik Mesis8, akhir pekan lalu. Satu angkatan siswa baru jumlahnya 300-an anak.

Tahun ini anggota barunya mencapai 76 siswa. Sedangkan tahun sebelumnya, jumlah anggota baru Mesis8 sebanyak 89 orang. Mereka terbagi dalam lima divisi, yaitu divisi cyber, komik, majalah, film, dan fotografi.

Divisi majalah tugasnya membuat majalah Takitri yang terbit empat bulan sekali. Divisi komik membuat komik yang akan dipajang di mading. Divisi cyber mengelola website www.gemerlapan.net.

Adapun divisi film tugasnya membuat film tahunan sekolah. Divisi mading membuat mading sebulan sekali, dan divisi fotografi mengabadikan beragam kegiatan sekolah, baik untuk buku tahunan, mading, dan majalah sekolah.

Banyaknya anggota Mesis8 sebanding dengan banyaknya produk yang mereka buat. Kelompok siswa dan siswi kelas X-XII ini rutin membuat majalah, buku tahunan sekolah, mading, dan mengelola website.

”Untuk operasional seluruh kegiatan kami, setiap anggota membayar Rp 30.000 per bulan. Selain itu, kami juga mencari sponsor dan menjual majalah Takitri,” ujar Nadila, anggota klub jurnalistik Mesis8.

Marsya, siswa kelas XII yang menjadi anggota Mesis8, mengaku tetap senang membuat mading dan majalah karena bentuk fisik karya mereka tetap harus ada.

”Bagi saya, mading dan majalah ini tetap merupakan bukti nyata karya kami. Bentuk fisik tetap tak tergantikan oleh e-book atau website,” ujar Marsya.

Butuh bimbingan

Priyadi, guru Pembina Mesis8 mengatakan, kegiatan jurnalistik dengan produk beragam menjadi ajang penyaluran kreativitas dan keilmuan siswa.

”Kasihan kalau ilmu dan kreativitas mereka tidak disalurkan. Mereka pasti akan terbebani oleh banyaknya ilmu dan materi dari hari ke hari,” ujar Priyadi.

Menciptakan karya seni seperti majalah, mading, dan produk jurnalistik lain, menurut Priyadi, membantu membuka sudut pandang pengetahuan siswa.

”Di sini mereka bisa belajar skill yang tidak dipelajari dalam pengajaran rutin seperti kerja kelompok, kebersamaan, dan kreativitas mengolah bahan menjadi produk menawan yang layak disuguhkan kepada orang lain,” kata Priyadi.

Bimbingan juga diberikan guru Bahasa Indonesia SMA Kanisius, Ignasius Arwanto, kepada Redaksi Canipress. Hanya saja, bimbingan untuk Canipress berhenti sejak tahun 2008 karena kesibukan sang guru.

”Biasanya mereka memang benar-benar berminat dalam bidang jurnalistik, jadi bukan karena diajak siswa lain. Mereka, kan, sudah mendapat pelajaran jurnalistik sejak SMP. Tetapi, sesekali juga gampang-gampang susah mengajari mereka, apalagi kalau ada yang belum pernah menulis,” ujar Arwanto.

Majalah sekolah merupakan hasil kreativitas MuDAers yang mesti berkembang. Suatu saat nanti, majalah sekolah bisa ”naik daun”, menjadi populer dan selalu dicari orang, terutama MuDAers. (SUSIE BERINDRA/ DAHLIA IRAWATI)

Sumber


Gerakan Pramuka Harus Lebih Menarik


JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah ingin mendorong agar gerakan pramuka menjadi cara pembelajaran yang menarik bagi para siswa. Saat memimpin peringatan Hari Ulang Tahun ke-51 Gerakan Pramuka di Taman Rekreasi Wiladatika Cibubur, Jakarta, Senin (3/9/2012), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak masyarakat untuk turut menjadikan gerakan pramuka sebagai media pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi anak-anak.


Agar menarik, seperti dilansir Antara, Presiden mengingatkan kembali tekad untuk melakukan revitalisasi gerakan pramuka yang telah dikumandangkan sejak tahun 2006. Menurutnya, revitalisasi merupakan penunjuk arah untuk memastikan bahwa gerakan pramuka akan tetap diminati oleh generasi muda dan membawa manfaat bagi bangsa dan dunia.

"Revitalisasi mengandung makna penguatan dan akselerasi," kata Presiden dalam peringatan yang mengusung tema ’Tingkatkan Kemandirian Gerakan Pramuka untuk Keberhasilan Pembentukan Karakter Kaum Muda’ itu.

Presiden mengatakan bahwa penguatan dan akselerasi akan membentuk fondasi kuat dalam diri anak-anak, meliputi sikap cinta tanah air, solidaritas kemanusiaan, budaya kepramukaan dan budaya ke-Indonesiaan yang berbeda-beda tetapi tetap satu.

Sementara itu, seperti dilansir Kompas Cetak, Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Azrul Azwar mengakui, di sejumlah daerah ada upaya menarik gerakan Pramuka untuk kepentingan politik.

Sumber


Wah, Bakal Ada 10 Juta Siswa SMA-SMK-MA Tahun Depan



JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memprediksi jumlah peserta didik di jenjang pendidikan menengah (SMA/SMK/MA) akan bertambah. Hal ini disebabkan mulai dirintisnya wajib belajar (wajar) 12 tahun melalui Pendidikan Menengah Universal (PMU).Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad, mengatakan, kementerian memperhitungkan penambahan jumlah 500 ribu siswa di jenjang pendidikan menengah. Jika ditotal, jumlah peserta didik di jenjang tersebut akan menembus angka 10 juta siswa.

"Sekarang jumlah siswa SMA/SMK sekitar 8,5 juta. Ditambah siswa MA 1 juta, totalnya 9,5 juta. Tahun depan saya perkirakan bertambah 500.000," kata Hamid kepada Kompas.com, Selasa (4/9/2012), di Jakarta.

Hamid menegaskan, sebelum PMU digulirkan, pertambahan jumlah siswa baru di jenjang pendidikan menengah jauh lebih kecil, yaitu 125.000-150.000 siswa setiap tahunnya. Pertambahan akan mencapai angka 500.000 karena dalam program PMU, pemerintah menawarkan bantuan untuk siswa miskin dan bantuan operasional sekolah jenjang SMA (BOSM).

Sebelumnya, Hamid mengakui bahwa prediksi jumlah siswa baru ini belum diimbangi dengan kesiapan infrastruktur. Oleh karena itu, pemerintah perlu menambah kebutuhan unit sekolah dan ruang kelas baru. Sebagai program rintisan wajar 12 tahun, pemerintah terus melakukan berbagai langkah untuk mendukung, mulai dari sarana dan prasarana sampai pada BOSM sebesar Rp 1 juta per siswa setiap tahunnya

Sumber
.

Kualitas Prodi Baru Masih Diragukan


YOGYA (KRjogja.com) - Kebijakan pemerintah terkait moratorium (penghentian sementara) pembukaan Perguruan Tinggi (PT) baru dan penambahan program studi (Prodi), jika disikapi secara baik akan mendatangkan dampak positif bagi dunia pendidikan.

Apalagi pasca disahkannya Undang-undang (UU) Pendidikan Tinggi (PT), pengelola PTN dan PTS tidak hanya dituntut
menghasilkan lulusan berkualitas, tapi harus memiliki Prodi yang memiliki keunggulan. Sayangnya masih banyak pengelola PTS belum bisa mewujudkan hal itu, karena ditengarai masih ada yang sekadar mengejar kuantitas dan keuntungan. Dengan adanya moratorium tersebut diharapkan pengelola PTS yang ingin membuka Prodi baru lebih bersikap selektif dan mempertimbangkan kondisi lapangan. Demikian dikatakan oleh Ketua Dewan Pendidikan Provinsi DIY sekaligus Guru Besar FMIPA UNY, Prof Dr Wuryadi, Jumat (31/8).

Wuryadi menyatakan, ketatnya persaingan yang terjadi di jenjang pendidikan tinggi perlu mendapatkan perhatian serius dari pengelola PTN dan PTS. Sebab jika mereka tidak cermat, cepat atau lambat akan berdampak pada kualitas. Jangan sampai PTS mendirikan Prodi baru tapi karena tidak selektif dalam memilih Prodi tersebut tidak bisa berkembang.

"Saya kira sebelum memutuskan untuk mendirikan Prodi baru alangkah baiknya jika pengelola PTS bersikap cermat. Kecermatan itu bisa dilakukan dengan melakukan evaluasi terkait kondisi Prodi yang sudah ada. Dengan cara tersebut diharapkan bisa diketahui kelebihan dan kekurangan yang ada, sehingga segera diperbaiki," terang Wuryadi. (Ria)
SumberKRJogja

Pendidikan Ciptakan Budaya Angka


JAKARTA, KOMPAS.com — Kebijakan operasional pendidikan saat ini terlalu mendewakan angka atau memakai solusi kuantitatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Akibatnya, telah terjadi dehumanisasi dan sekolah-sekolah hanya membentuk robot.

Hal itu mengemuka dalam diskusi mengenai konstitusi dan negara kesejahteraan bertema "Pendidikan yang Memerdekakan" yang diselenggarakan harian Kompas bersama Lingkar Muda Indonesia, Rabu (5/9/2012), di Jakarta.

"Tuhan kita sekarang angka sehingga perhatiannya terpusat ke kuantitatif. Semua capaian dilihat dari angka. Semua jadi hanya mengejar angka. Anak-anak menjadi instrumentatif. Ini budaya kuantifikasi," kata Jalaluddin Rakhmat.
Fenomena mendewakan angka ini mulai terlihat dari kebijakan pemerintah antara lain dalam penetapan akreditasi sekolah dan perolehan nilai atau prestasi siswa. Karena budaya kuantifikasi itu, lalu muncul suasana kompetitif dan justru membentuk individu yang akan berusaha memperoleh nilai baik dengan cara apa pun.
Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di Amerika Serikat. Bahkan, sistem pendidikan yang mengutamakan angka atau kuantitatif mulai menuai kritik dan protes masyarakat AS.
"Semua diukur dengan angka dan bukan lagi pendidikan yang memerdekakan," kata Jalaluddin.
Ujian nasional merupakan salah satu contoh budaya kuantifikasi. Ini terlihat dari kebijakan penyelenggaraan ujian nasional (UN). Kemampuan siswa hanya dinilai dari angka perolehan hasil UN dan nilai rapor serta tidak dilihat secara keseluruhan. Siswa dengan nilai UN yang lebih tinggi lantas memiliki peluang lebih besar untuk diterima di sekolah yang dinilai bermutu.
"Tidak adil menilai kualitas sekolah semata-mata dari nilai rata-rata UN lulusannya karena inputnya berbeda-beda di setiap sekolah. Kualitas pendidikan yang berbeda tidak bisa diuji dengan ujian nasional," kata Elin Driana, pemerhati pendidikan dari Education Forum.
Karena terlalu fokus pada angka, Elin menilai siswa Indonesia tidak siap menghadapi tantangan dunia saat ini dan masa depan. Ini terlihat dari hasil The Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang menunjukkan kemampuan siswa Indonesia di bidang matematika, membaca, dan sains yang rendah yakni di urutan ke-54 (kemampuan membaca) dan urutan ke-59 (sains dan matematika) dari 65 negara yang dinilai.
PISA merupakan penilaian terhadap anak-anak berusia 15 tahun dalam mengaplikasikan pengetahuan dan kemampuan di bidang matematika, membaca, dan sains untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan abad ke-21.
"Pembelajaran di sekolah hanya fokus pada kemampuan berpikir rutin, bukan melatih kemampuan siswa menyelesaikan masalah sehingga siswa tidak kreatif," kata Elin.
Ruang kelas
Untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan, pemerhati pendidikan Soedijarto menilai tidak perlu mengubah kurikulum terlebih dahulu. Ia justru menilai ada yang salah di ruang kelas. Arah pendidikan nasional yang diterjemahkan ke dalam kurikulum secara konsep sudah bagus. Hanya saja tidak dipraktikkan.
"Seharusnya anak-anak belajar menyelesaikan persoalan. Ruang kelas jarang mengajarkan cara hidup bersama dalam keberagaman. Yang salah itu ruang kelas kita, bukan kurikulumnya," kata Soedijarto.
Untuk memerdekakan pendidikan, Jalaluddin menyarankan agar memasukkan pendidikan karakter dalam kurikulum.
Karakter yang dibutuhkan siswa sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan di masa depan adalah empati, kerja sama, keterbukaan dan pikiran kritis, serta semangat penemuan yang tiada henti. 

Sumber