BREAKING NEWS OKTOBER

SELAMAT ATAS KEBERHASILAN TIM DEBAT SMAN 1 JETIS YANG MERAIH JUARA 2 DALAM LOMBA DEBAT BAHASA INGGRIS TINGKAT KABUPATEN BANTUL.

76.000 Sekolah Belum Memiliki Perpustakaan



JAKARTA, KOMPAS.com — Sebanyak 76.478 sekolah dari jenjang SD hingga SMA sederajat belum memiliki perpustakaan. Padahal, perpustakaan merupakan sarana standar yang harus ada di sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Lebih dari 50 persen SD, yakni 55.545 sekolah, belum memiliki perpustakaan. Di SMP, 12.029 sekolah belum mempunyai perpustakaan. Adapun di jenjang SMA/SMK, 8.904 sekolah tidak memiliki perpustakaan.

Kepala Perpustakaan Nasional Sri Sularsih di Jakarta, Minggu (7/10/2012), mengatakan, pengadaan perpustakaan sekolah menjadi tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Dengan alokasi pendidikan nasional yang semakin meningkat, seharusnya keberadaan perpustakaan di sekolah juga meningkat, termasuk koleksi bukunya.

Menurut Sri, perpustakaan sekolah harus dikembangkan. Sesuai dengan amanat Undang-Undang Perpustakaan, sekolah harus mengalokasikan 5 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah untuk meningkatkan koleksi perpustakaan.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemdikbud Suyanto menjelaskan, tahun 2012, pemerintah akan membangun 9.442 perpustakaan. Pada 2013, dibangun 1.500 perpustakaan lagi sehingga pada akhir tahun 2013 ditargetkan 75 persen SD sudah memiliki perpustakaan.

Di SMP, 20.540 sekolah (63 persen) sekolah sudah memiliki perpustakaan. Kekurangan perpustakaan yang cukup besar terjadi di SMK. Dari 9.875 SMK, baru 4.362 sekolah atau tak sampai 50 persen yang memiliki perpustakaan, sedangkan 5.513 sekolah tak memiliki perpustakaan.

Di tingkat SMA, dari 11.535 sekolah, baru 8.144 sekolah yang memiliki perpustakaan. Adapun 3.391 sekolah belum dilengkapi perpustakaan.

Ketua Umum Ikatan Penerbit Buku Indonesia Lucya Andam Dewi mengatakan, pemerintah mendukung berbagai upaya peningkatan minat baca masyarakat. ”Perpustakaan sekolah jadi salah satu cara potensial untuk membangun minat baca di kalangan siswa, yang jumlahnya puluhan juta orang,” ujar Lucya.

Diah Harianti, Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud, menyatakan, ada pemikiran supaya perpustakaan sekolah tidak hanya dimanfaatkan siswa dan guru, tetapi juga masyarakat sekitar. (ELN)

Sumber

Kurikulum Pendidikan Baru Tidak Masuk Akal


JAKARTA, KOMPAS.com — Rencana pemerintah melahirkan kurikulum pendidikan nasional yang baru terus menuai kritik. Kali ini, budayawan Mohammad Sobari menilai kurikulum pendidikan yang baru menjadi tidak masuk akal karena memilah-milah unsur pelajaran di setiap jenjang.


Rencana besar yang akan tersemat dalam kurikulum pendidikan mendatang adalah mengelompokkan tujuan pendidikan berdasarkan jenjangnya. Peserta didik di tingkat SD akan diterpa mata pelajaran yang dapat membangun sikap, siswa SMP lebih difokuskan pada mata pelajaran yang mengasah keterampilan, dan SMA pada pengetahuan.

Padahal, menurut Sobari, pembangunan sikap, keterampilan, dan pengetahuan merupakan satu kajian yang berkesinambungan.

"Entah logika apa yang digunakan untuk memilah-milah ketiga unsur pelajaran untuk tiga kelompok itu. Tidak masuk akal sama sekali," katanya kepada Kompas.com, Kamis (4/10/2012).

Sobari juga memberikan perhatian pada pentingnya diberikan porsi lebih kepada sekolah untuk membuat kurikulum secara otonom. Pasalnya, kurikulum nasional tidak akan sepenuhnya cocok dengan kebutuhan lokal yang karakteristiknya berbeda-beda.

Misalnya, kata dia, kurikulum untuk mata pelajaran yang bersifat universal dapat ditampung dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), sejarah nasional (termasuk sejarah dunia), dan bahasa. Akan tetapi, mata pelajaran seperti Pendidikan Agama, Muatan Lokal, dan Matematika harus menjadi kebijakan lokal yang penyusunannya dilakukan oleh sekolah.

"Yang universal bisa ditampung dalam mata pelajaran tertentu, tetapi ada beberapa mata pelajaran yang harus diserahkan pada kebijakan lokal. Termasuk di dalamnya adalah ujian," tandasnya.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sendiri sejak lama mulai mengevaluasi kurikulum. Pasalnya, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang digunakan sejak 2006 dinilai tidak memberikan hasil signifikan pada pembangunan pendidikan nasional.

Terkait dengan hal itu, nantinya pemerintah pusat akan mengambil alih seluruh hal dalam penyusunan kurikulum, dan hak sekolah untuk menyusun kurikulumnya sendiri secara otomatis menjadi berkurang. Kurikulum yang baru akan diuji publik sebelum Februari tahun depan dan mulai berlaku pada tahun ajaran 2013-2014.

Peminat Bahasa Indonesia di Australia Terus Turun


SEMARANG, KOMPAS.com - Peminat bahasa Indonesia di Australia dari tahun ke tahun terus menurun. Selain dipengaruhi iklim politik, hal itu disebabkan maraknya penggunaan bahasa Inggris di Indonesia. Akibatnya, warga Australia tak lagi memandang penting bahasa Indonesia.


George Quinn, pengajar Budaya, Sejarah, dan Bahasa dari Australian National University, mengungkapkan hal itu di Salatiga, Jawa Tengah, Selasa (2/10). Quinn yang merupakan Ketua Australian Society of Indonesian Language Educators datang ke Salatiga menghadiri Konferensi Internasional Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing.



Quinn menyebut realitas itu sebagai permasalahan serius di Australia selama 10 tahun terakhir. ”Dari TK hingga setingkat SMA di Australia setiap tahun kehilangan 10.000 siswa yang memutuskan keluar dari kelas Bahasa Indonesia. Di universitas, peminat bahasa Indonesia turun 37 persen dibandingkan 10 tahun lalu,” katanya.



Di Australia, Bahasa Indonesia selama ini masuk dalam kurikulum nasional, tetapi sifatnya pilihan. Quinn mengatakan, Bahasa Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Bahasa Jepang dan Perancis yang banyak dipilih siswa. Sejak dulu, Bahasa Indonesia menduduki peringkat yang sama, tetapi kini jumlahnya peminatnya merosot.



Tidak hanya di Australia, bahasa Indonesia juga dipelajari banyak warga dari Jepang, Korea, China, Amerika Serikat, Jerman, Rusia, Inggris, Meksiko, Italia, dan Uzbekistan.



Ketua Asosiasi Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Nyoman Riasa mengakui, semangat untuk mempelajari bahasa Inggris di Indonesia lebih tinggi ketimbang bahasa Indonesia. Dalam ujian nasional, misalnya, rata-rata nilai Bahasa Inggris justru lebih tinggi dibandingkan dengan Bahasa Indonesia. ”Padahal, banyak warga asing yang justru tertarik belajar bahasa Indonesia,” tutur Nyoman. (UTI)

Sumber

Workshop Peningkatan Produksi Film Indonesia


JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk meningkatkan kualitas produksi film, Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman Kemdikbud akan melaksanakan workshop bertema "Filmku Bangsaku" di tujuh kota yakni Jakarta, Bandung, Denpasar, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, dan Makassar pada tanggal 22 Oktober hingga 30 November 2012.
Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sulistyo S Tirtokusumo, Selasa (9/10/2012) di Jakarta, menjelaskan, para narasumber yang akan hadir antara lain Michael Sheridan (sutradara dan dosen perfilman dari University Boston of Arts), Koji Imaizumi (sutradara dari Jepang), Slamet Rahardjo Djarot, Garin Nugroho, Rudi Sujarwo, Didi Petet, Gotot Prakosa, dan Arya Kusumadewa.
Para peserta workshop difasilitasi peralatan syuting dan mengedit. Mereka dibagi beberapa kelompok produksi, untuk membuat film fiksi atau dokumenter selama empat hari.
Para peserta terdiri atas pembuat film, guru SMK Broadcasting dan dosen, komunitas film, dan dari dunia industri TV dan Film. Tiga film terbaik akan diberikan penghargaan dan filmnya diputar pada Jambore Film pada Desember 2012.

Sumber

UKG Kedua Masih Jauh dari Sempurna


JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Sulistiyo menganggap pelaksanaan uji kompetisi guru (UKG) secara online pada gelombang kedua ini relatif sudah berjalan lancar, namun dalam soal pencapaian nilai, dia menyebutkan sampai saat ini belum juga membaik.

"UKG tahap dua sudah berjalan di beberapa daerah. Pelaksanaannya relatif lancar, meskipun masih ada beberapa masalah teknis, tapi sedikit jika dibandingkan dengan pelaksanaan UKG tahap satu. Untuk DKI Jakarta yang dimulai pada hari ini, idealnya akan lebih lancar dibanding daerah lain," ucap Sulistiyo kepada Kompas.com, Selasa (9/10/2012).

Menurut pengamatannya, sedikit masalah teknis itu antara lain seperti kemunculan data guru yang masih tidak sesuai dengan kompetensi mata pelajarannya, atau ada beberapa daerah yang belum dapat login, dan soalnya tidak muncul lagi.

"Ya, masih ditemukan beberapa masalah teknis di jaringannya juga," katanya lagi.

Berkaitan dengan nilai UKG, Sulistiyo menuturkan pencapaian nilai UKG para guru masih dianggap belum membaik, bahkan kemampuan guru, terutama para senior masih jauh dari harapan.

"Nilai UKG, insyaallah juga belum membaik. Masih banyak para guru yang kemampuannya masih di bawah rata-rata, memang belum sesuai harapan. Di samping itu, soal-soal yang dikerjakan juga belum sesuai benar dengan kisi-kisi yang disediakan," katanya lagi.

Ia juga menilai, capaian angka yang dihasilkan para peserta UKG online ini memang hanya diperuntukkan sebagai pemetaan para guru.

"Jadi ketika nilai UKG tidak baik, ini sekaligus sebagai cermin bahwa pendidikan dan pembinaan guru yang terjadi selama ini masih jauh dari sempurna," tandasnya.

UKG gelombang dua ini, dipandangnya akan lebih banyak guru yang lebih siap mengikuti UKG. Peserta tidak lagi takut menghadapi ujian secara daring tersebut.

"Rata-rata mereka sudah lebih siap menghadapi ujian. Meski tetap disayangkan, sosialisasi tentang UKG juga belum membaik, sehingga menyebabkan pemahaman guru terhadap UKG dan hasilnya masih sangat variatif, masih banyak yang jauh dari memadai," katanya lagi.

Sulistiyo juga mengkritisi sial penyebutan lulus dan tidak lulus yang masih belum dimaknai dengan benar. Padahal yang perlu dikomunikasikan dengan baik soal pemanfaatan hasil UKG adalah untuk pemetaan guru.

"Yang paling penting kan pemenuhan janji pemerintah yang akan melatih dan membina semua guru, biat tidak menjadi, "omdo"," ujarnya.

Sumber

Pikirkan Siswa dari Sekolah di Pedalaman


JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat pendidikan Institut Teknologi Bandung (ITB), Iwan Pranoto, memberi catatan penting kepada pemerintah terkait dengan mekanisme Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Bagi dia, yang terpenting, pemerintah berpikir agar kebijakan itu mewakili peserta didik yang bersekolah di daerah pedalaman.

"Yang penting itu bagaimana keterwakilan sekolah di pedalaman supaya siswanya bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi negeri (PTN)," kata Iwan saat dihubungi Kompas.com, Jumat (14/9/2012) siang.

Iwan menjelaskan, keterwakilan sekolah di daerah dapat diangkat dengan cara memperbaiki data dan peta seluruh sekolah berdasarkan kualitasnya. Pasalnya, selama ini dia menilai mahasiswa di PTN, khususnya PTN favorit, lebih didominasi para pelajar dari kota-kota besar. Bahkan, bila dikerucutkan lagi, masyarakat dari Pulau Jawa adalah sebagian besarnya.

"Kenyataannya lain, anak-anak berlian seperti tertutup lumpur karena sekolahnya kurang bagus, sedangkan anak-anak dari sekolah bagus seperti beling yang dipoles sehingga menyerupai berlian," ungkapnya.

Jalur masuk ke PTN kemungkinan akan berubah mulai tahun depan. Majelis Rektor PTN sampai saat ini masih terus merumuskan proporsi di setiap jalur masuknya. Meski belum final, Ketua Majelis Rektor PTN Idrus Paturusi menyampaikan, pintu masuk PTN melalui jalur undangan akan diperlebar menjadi 90 persen, sisanya disiapkan untuk para siswa yang lulus di tahun pelajaran sebelumnya.

Menurut Iwan, proporsi 90 persen jalur undangan untuk saat ini belum baik dilaksanakan. Pasalnya, selain lemahnya data mengenai sekolah berdasarkan kualitas, pemerintah juga dituding memutuskan kebijakan itu tanpa riset yang jelas.

"Katanya mau membangun budaya riset di universitas maka semua kebijakan harus berdasarkan riset. Nah, keluar angka 90 persen itu risetnya dari mana," pungkasnya.

Sumber

Perlebar Jalur Undangan SNMPTN Picu Manipulasi Nilai



JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana memperlebar jalur undangan dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) terus menuai perhatian. Pasalnya, rencana itu dianggap jauh dari rasa adil.

Pengamat pendidikan Universitas Paramadina, Mohammad Abduhzen mengatakan, rencana itu belum tepat dilaksanakan dalam waktu dekat. Setidaknya sampai layanan dan mutu pendidikan dapat dibangun merata secara nasional.

"Rencana itu untuk saat ini belum tepat. Kenapa? Karena kualitas pendidikan belum merata," kata Abduhzen kepada Kompas.com, Kamis (13/9/2012), di Jakarta.

Ia menyampaikan, kebijakan sebelumnya soal 60 persen jalur undangan untuk masuk ke PTN juga belum optimal. Sejumlah ketidaksiapan di lapangan akhirnya memicu kecurangan.

"Manipulasi nilai akan banyak, karena sekolah berlomba meloloskan anak-anak," ucapnya.

Untuk diketahui, masuk PTN melalui jalur undangan dilakukan berdasarkan rekomendasi sekolah atas nilai rapor. Setiap sekolah memiliki jatah berbeda yang ditentukan oleh akreditasinya. Sekolah terakreditasi A mendapat jumlah terbesar, yakni 50 persen jumlah siswa yang lulus masuk dalam rekomendasi sekolah ke jalur undangan.

"Apalagi kalau menggunakan nilai UN, manipulasi mungkin akan lebih banyak," tandasnya.

Sumber

Jadikan Nilai UN Standar Masuk PTN, 'No Way'



JAKARTA, KOMPAS.com - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menolak rencana pemerintah untuk menjadikan nilai ujian nasional (UN) sebagai tolak ukur dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Pasalnya, rencana itu dianggap tidak menyelesaikan masalah kecurangan UN yang sudah lama terjadi.

"Jangan jadikan UN sebagai bobot nilai masuk PTN dan tetap diadakan jalur ujian tertulis untuk SNMPTN seperti pada biasanya," kata ketua FSGI Retno Listiarty saat dihubungi Kompas.com, Jumat (14/9/2012).

"Jadi, sekali lagi jangan jadikan UN penentu masuk PTN, karena selama 2011 saja, kecurangan yang ditemukan sangat masif dan sistemik di 14 daerah. Jadi naif kalo nilai UN akan dijadikan bobot masuk PTN," tegasnya.

Menurutnya, sistem tes tertulis masih menjadi metode seleksi yang tepat meski juga diwarnai sejumlah kelemahan. Namun, jumlah kasusnya tidak banyak.

"Kalo bagi saya, sistem tes tertulis, meski ada kelemahan, namun tetap menjadi metode penerimaan yang lebih transparan dan selama bertahun-tahun terbukti baik. Nyaris kita tidak pernah mendengar ada kunci jawaban atau soal beredar untuk SNMPTN/sipenmaru, bahkan UMPTN jaman dulu, paling banter ditemukan joki, itupun jumlahnya tidak banyak," tuturnya.

Guru SMAN 13 Jakarta ini juga menyarankan pihak pemerintah tidak boleh lagi membantah kecurangan yang terjadi, sebab kecurangan UN sudah semakin masif, sistematik dan struktural. Selain itu, Retno juga mengimbau kepala daerah, kepala dinas, dan kepala sekolah untuk tidak menganggap hasil UN sebagai prestasi pendidikan daerah.

"Karena masih naif itu soal kecurangannya," tandasnya


Sumber
.

Hanya 17 Persen Lulusan SMA Jambi Lolos SNMPTN


JAMBI, KOMPAS.com - Rektor Universitas Jambi Aulia Tasman mengatakan, dari 24 ribu lebih siswa lulusan SMA sederajat di Provinsi Jambi pada 2012 hanya 17 persen yang masuk ke perguruan tinggi melalui SNMPTN.
Menurut dia, kondisi ini sangat memprihatinkan. Keberhasilan masuk melalui SNMPTN dapat menjadi salah satu indikator keberhasilan pendidikan, sebab Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) merupakan jalur penerimaan mahasiswa yang terbilang ketat dan murni.
"Sangat memprihatinkan sekali. Bayangkan, dari 24 ribu siswa yang lulus SMA tahun 2012, hanya 17 persen saja yang lulus melalui SNMPTN. Dimana 83 persennya?," katanya, Jumat (5/10/2012).

Menurut Aulia Tasman, secara umum siswa yang mampu bersaing dalam SNMPTN berasal dari sekolah-sekolah dalam Kota Jambi. Sementara siswa dari SMA di daerah secara umum tidak mampu bersaing dalam SNMPTN ini.
Berdasarkan data dari Universitas Jambi, tercatat jumlah lulusan SMA dari Kota Jambi yang diterima di SNMPTN mencapai 229 orang.
Sementara,lulusan SMA dari kabupaten Merangin, yang lolos SNMPTN hanya mencapai 28 orang. Kota Sungai Penuh dan Kerinci hanya 36 orang.
Kabupaten Bungo 28 orang, Sarolangun 20 orang, Tebo 22 orang, Batanghari 34 orang, Tanjabbar 24 orang, Tanjabtim 13 orang.
Minimnya lulusan SMA di Jambi yang lolos dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri ini menurut Aulia Tasman lebih disebabkan sistem pengajaran dan rendahnya SDM pengajar yang ada.
"Ini harus diwaspadai, dan dicarikan jalan keluarnya, jangan sampai soal ini akan menjadi masalah ke depannya," kata Aulia.
Selain minimnya jumlah siswa yang lolos dalam SNMPTN masalah lain yang menjadi persoalan serius adalah minimnya daya tampung Perguruan Tinggi di Jambi.
"Daya tampung perguruan tinggi negeri di Jambi hanya 11 ribu, sementara lulusan SMA 24 ribu. Ini jelas akan menjadi masalah," sebutnya.
Persoalan daya tampung ini akan menjadi soal pada tahun 2013 sebab, seperti diakui Aulia Tasman, pada tahun tersebut pihaknya akan mengutamakan mahasiswa undangan dengan kuota 60 persen.
Selain itu diakui Aulia, pihaknya akan membantu mahasiswa asal Jambi untuk masuk ke PTN melalui program UMB.
"Persaingan SNMPTN dilakukan secara nasional, sedangkan persaingan dalam UMB dilakukan antara alumni SMA di Jambi saja," katanya.

Sumber

Cegah Tawuran dengan Membina Bakat Siswa



JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Seksi Peserta Didik Direktorat Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Arfah Laidiah, menyatakan perlu adanya dukungan berbagai pihak untuk ikut bertanggung jawab menyelesaikan konflik tawuran yang sedang marak. Bersamaan dengan penggodokan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud), Arfah mengatakan kementerian fokus untuk mendorong sekolah dan orangtua mengembangkan bakat dan minat dari setiap peserta didik.

"Sementara Permendikbud masih dalam proses pengkajian, saat ini dukungan dari kami adalah membina bakat dan minat siswa dari kegiatan-kegiatan mereka. Bahwa para pelajar dapat menjadi lebih mawas diri dan terus meningkatkan prestasinya dari minat dan bakatnya, Saya yakin tawuran akan beres, apalagi banyak pihak yang berpartisifasi mendukung anti tawuran ini, maka mereka semakin percaya diri," katanya kepada wartawan usai menghadiri diskusi publik anti tawuran pelajar di SMA Negeri 54 Jakarta Timur, Jumat (5/10/2012) sore.

Hanya saja, Arfah mengatakan bahwa butuh kesadaran dari generasi muda, terutama pelajar tingkat menengah, untuk menggali bakat dan minatnya melalui kegiatan-kegiatan yang positif. Kesadaran ini akan muncul hanya dengan dukungan dari orangtua, guru dan sekolah sebagai institusi yang terdekat dalam kehidupan sehari-sehari.

Selain itu, gerakan bersama penanggulangan konflik tawuran membutuhkan inisitif dari para pemangku kebijakan. Inisiatif ini, lanjut Arfah, sedang diupayakan kementerian untuk mendorong semua pihak serius menuntaskan tawuran. Kementerian disebutnya akan terus menggodok peraturan-peraturan yang akan diterapkan bagi pelajar, guru dan sekolah yang terlibat dalam aksi tawuran.

Sumber

Ini Alasan untuk Lanjutkan Studi ke Selandia Baru




JAKARTA, KOMPAS.com - Selandia Baru dan Indonesia memiliki hubungan bilateral dalam sektor pendidikan tinggi yang makin baik. Usai menandatangani nota kesepahaman dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Kementerian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, beberapa waktu lalu, Selandia Baru akan menjadi salah satu negara tujuan yang diserbu para pelajar Indonesia.

Salah satu kebijakan pemerintah Selandia Baru yang menguntungkan untuk mahasiswa internasional adalah standar biaya pendidikan yang akan disamakan dengan warga lokal. Dengan keunggulan yang sama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, biaya studi di Selandia Baru tergolong jauh lebih murah dibandingkan di Australia.

"SPP di Selandia Baru sangat murah karena dianggap sama dengan mahasiswa domestik. Pemerintah memberikan subsidi untuk itu sehingga diharapkan dengan ini mahasiswa yang belajar di Selandia Baru semakin banyak," kata Duta Besar Selandia Baru untuk ASEAN, David Taylor di Gedung JICA Kemendikbud, Jakarta.

Untuk program master kelas regular, biaya pendidikan berkisar mulai dari 13.000-50.000 dollar Selandia Baru. Selain itu, selalu ada beberapa program istimewa khusus untuk mahasiswa program master atau doktor yang mampu memberikan kontribusi, misalnya mengajar di masyarakat.

Beasiswa tentu juga ditawarkan. David menjelaskan dalam waktu dekat ini ada 10 tenaga pendidik yang mendapat beasiswa untuk belajar di Selandia Baru melalui kerja sama dengan Kemendikbud.

"Di bidang perguruan tinggi di politeknik antara Indonesia dengan Selandia Baru, kita akan tingkatkan beasiswa," tambahnya.

Ide-ide segar

Sebagai negara dengan usia muda dan bebas dari tradisi-tradisi pengikat, Selandia Baru telah berhasil mencapai kemandirian dalam perjalanannya. Semangat membuat negara yang dikenal sebagai penghasil kiwi ini sebagai sumber alami bagi munculnya ide-ide segar.

“Cara berpikir yang inovatif ini dicerminkan dalam cara kami mengajar dan belajar. Sistem pendidikan kami mengutamakan cara pemikiran dan praktek pengajaran yang inovatif yang jauh melampaui cara belajar menghafal,” tuturnya.

Namun, dia menjelaskan, sebagai bekas jajahan negara Inggris, Selandia Baru memiliki sistem pendidikan berdasarkan sistem prestisius Inggris. Fasilitas, sumber, and staf pengajar yang disediakan memiliki sertifikat atau kualifikasi yang dihargai dan dapat dipindahkan/dimanfaatkan di seluruh dunia.

David mengatakan, Penilaian Pelajar Internasional atau Programme for International Student Assessment (PISA) yang melakukan survei tiga tahunan mengenai taraf prestasi pelajar dari pelajar berusia 15 tahun di negara-negara OECD menempatkan sistem pendidikan Selandia Baru sebagai salah satu yang bergengsi. Selandia Baru secara konsisten duduk di peringkat atas survei terhadap prestasi pelajar.

“Dalam kajian PISA yang paling akhir, para siswa di selandia baru yang berumur 15 tahun itu sudah berperingkat kedua dalam kemampuan membaca, dan peringkat ketiga di dunia dalam ketrampilan matematikanya,” ujar David lagi.

David juga menjelaskan bahwa universitas-universitas Selandia Baru masuk dalam 500 besar survei internasional, seperti The Times Higher Education Supplement dan Shanghai Jiao Tong.

“Tidak hanya itu, di Selandia Baru juga setiap pelajar akan dapat menikmati lingkungan yang menunjang pembelajaran. Di dalam kelas-kelas yang kecil, para pelajar menerima lebih banyak perhatian secara pribadi dari guru-guru mereka daripada yang akan mereka peroleh di bagian dunia lainnya,” paparnya lagi.

Para pelajar internasional akan memperoleh pendampingan secara pribadi yang tidak terbatas oleh tembok kampus. Mahasiswa internasional berhak atas pendampingan di dalam dan di luar ruang kelas.

Sumber


Tawuran pelajar bukan bukti kegagalan sistem pendidikan


... 'khan cuma di Jakarta, tapi di Tulungagung 'khan nggak ada...

Surabaya (ANTARA News) - Tawuran pelajar hingga mematikan siswa merebak di Tanah Air, menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, bukan bukti dari kesalahan dan kegagalan sistem pendidikan nasional.

Kementerian itu kini memang sedang merumuskan penguatan pendidikan karakter dalam kurikulum pendidikan.

"Itu kasus saja, bukan berarti sistem pendidikan yang salah, karena kalau sistem yang salah, berarti itu (tawuran) ada dimana-mana. Itu 'khan cuma di Jakarta, tapi di Tulungagung 'khan nggak ada. Di Jakarta pun tidak semua sekolah," katanya, di Surabaya, Minggu.

Dia menjelaskan pihaknya sejak tahun 2010 hingga saat ini memang sedang merumuskan pembenahan kurikulum untuk memperkuat pendidikan karakter dalam dunia pendidikan.

"Itu sudah kami lakukan sejak 2010, tapi pembenahan masih sedang dirumuskan, karena itu saya tidak bisa mengatakan sekarang. Apakah nanti ada pendidikan Pancasila lagi, perumusan (pembenahan kurikulum) itu masih sedang dalam proses, tunggu saja," katanya.

Tentang kasus tawuran antarpelajar SMAN 6 dan SMAN 70 di Jakarta, mantan Rektor ITS Surabaya itu menyatakan kasus tawuran itu tidak berdiri sendiri, tapi melibatkan orang luar yang "memelihara" tawuran itu.

Sumber

Kurikulum baru pendidikan akan pangkas jumlah mata pelajaran



"Kurikulum mendatang yang sedang disusun oleh tim...akan ditekankan pada model pembelajaran tematik dan lebih mengarah pada pendidikan karakter,"

Jakarta (ANTARA News) - Kurikulum baru pendidikan nasional yang tengah dipersiapkan pemerintah bersama tim penyusun nantinya akan memangkas jumlah mata pelajaran menjadi lebih sedikit sehingga meringankan peserta didik, kata Wamendikbud bidang Pendidikan Musliar Kasim.

"Jumlah mata pelajaran yang banyak membebani siswa dan membuat siswa menjadi bosan. Kurikulum mendatang yang sedang disusun oleh tim terdiri atas para pakar dan tokoh pendidikan seperti Franz Magnis Suseno, Prof Juwono Sudarsono dan lainnya akan ditekankan pada model pembelajaran tematik dan lebih mengarah pada pendidikan karakter," kata Musliar dalam jumpa pers bersama Wamendikbud bidang kebudayaan Wiendu Nuryanti terkait Gerakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa di Jakarta, Kamis petang.

"Pendidikan karakter akan lebih banyak dipelajari siswa di tingkat sekolah dasar dimulai sejak dini, semakin tinggi jenjangnya pelajaran terkait pendidikan karakter berkurang dan diganti dengan pelajaran keilmuan," kata Musliar dan menambahkan perubahan kurikulum tersebut merupakan program besar Kemdikbud dimulai sejak tahun 2010.

Sementara itu, Wamendikbud bidang kebudayaan Wiendu Nuryanti mengatakan kurikulum yang sedang dalam penyusunan tersebut diharapkan akan memberikan perubahan pada model pembelajaran yang memberikan ruang gerak bagi siswa untuk berekspresi seluas-luasnya. 

"Pembangunan karakter sebagai sentral dari pendidikan nasional akan disinergikan dengan kebudayaan untuk menyebarkan virus pembangunan karakter dan targetnya bukan hanya peserta didik tetapi juga guru dan masyarakat luas yang diwakili oleh komunitas-komunitas seperti seniman dan budayawan dan sebagainya," katanya.

Penyusunan kurikulum pendidikan nasional yang baru diharapkan rampung pada Februari 2013. Sebelum disahkan dan diaplikasikan, pemerintah akan melakukan uji publik terhadap rancangan kurikulum itu untuk memperoleh kritik dan masukan dari masyarakat.

Kemdikbud saat ini telah membentuk dua tim, yakni tim pertama bertugas menyusun kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Adapun tim kedua bertugas menyusun kurikulum pendidikan tinggi.

Tim penyusun juga mengevaluasi kurikulum yang berlaku saat ini, seperti soal banyaknya mata pelajaran yang harus dipelajari siswa, jam sekolah, hingga mencari penyebab mengapa sering terjadi tawuran siswa, rendahnya kemampuan siswa berbahasa asing, serta berbagai persoalan lain. 

Gerakan Pembangunan Karakter 

Lebih lanjut Wamendikbud Wiendu Nuryanti menjelaskan rencana pemerintah untuk melaksanakan kegiatan Gerakan Nasional Pembangunan Karakater Bangsa melalui program penanaman nilai budaya di lingkungan sekolah yang dilaksanakan di 10 provinsi, antara lain DKI Jakarta, Aceh, Banten, Jawa Barat, NTB dan Maluku.

"Selain menyasar sekolah, gerakan pembangunan karakter juga akan dilaksanakan kepada masyarakat luas melalui Gerakan Bersih Desa Budaya yang difokuskan pada desa-desa yang dengan tradisinya masih menjalankan dan menopang karifan lokal, seperti budaya gotong royong," katanya.

Program Gerakan Bersih desa pada tahap awal sebagai proyek percontohan dilaksanakan di enam daerah, yakni Laweyan, Lasem , Setu Babakan, Sasirangan, Pandesikek dan Cuci Nagari Maluku, katanya.

Sumber

Internalisasi Pancasila pada Tataran Nilai, Bukan Formalitas


Jakarta --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, mengatakan, Pancasila yang sudah dirumuskan para pejuang sebagai ideologi negara Indonesia harus dipertahankan. Bukan sekadar dalam makna Pancasila saja, tapi internalisasinya mutlak dilakukan.
“Pancasila yang sudah dirumuskan para sesepuh harus dipertahankan. Disaat batas-batas negara tidak jelas, dan pengaruh media internasional begitu kuat, maka internalisasi nilai menjadi mutlak,” demikian disampaikan Mendikbud usai upacara Peringatan Kesaktian Pancasila, di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Senin (1/10).

Mendikbud menegaskan, internalisasi Pancasila jangan sampai terjebak pada formalitas semata. Tapi harus dilihat dari segi nilai. Untuk itu, dalam penyempurnaan kurikulum yang akan dilakukan pada 2013 mendatang, akan dirumuskan kembali mata pelajaran yang terkait dengan nilai-nilai Pancasila. Urusan ideologi dan internalisasi Pancasila akan ditata kembali dan disempurnakan.
“Misal lulusan SD, mereka diharapkan setelah lulus SD kompetensinya apa? Apa hanya hafal Pancasila saja? Tentu tidak. Itu yang saya maksud jangan terjebak formalitas yang hanya hafalan saja,” katanya.
Empat hal dikemukakan Mendikbud tentang kurikulum. Yaitu standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar evaluasi. Dalam standar kompetensi, ada tiga aspek yang terkait yaitu, attitude, skill, dan knowledge atau disingkat ASK. 
“Jadi derajat masing-masing ASK di setiap jenjang penekanannya beda-beda. Di perguruan tinggi attitude nya beda dengan anak SD. Knowledge dan skill-nya juga. Dia sebagai inspirasi,” katanya. (AR)

Sumber