UN, Antara Romantisme dan Dramatisasi

JAKARTA, Jesaba News - Pemerintah sudah mengambil sebuah keputusan bahwa Ujian Nasional (UN) tahun depan akan tetap dilaksanakan. Namun demikian, banyak pihak yang masih keukeuh menolak keputusan tersebut.

Salah satu penolakan datang dari pengamat pendidikan Mohammad Abduhzen. Dia menilai bahwa UN tidak tepat diterapkan kembali setiap tahun karena belum adanya kajian ilmiah mengenai dampak dan manfaat UN. Sehingga tidak ada alasan yang kuat untuk mendukung pelaksanaan UN dari tahun ke tahun.

"Saya belum menemukan kajian ilmiah untuk UN. Yang banyak saya temukan justru romantisme dan dramatisasi UN," ungkap Abduhzen spert dikutip oleh Okezone dalam talk show Sindo Radio bertajuk "Ujian Nasional, Ujian Bagi Negara" di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (5/10/2013).

Ia menambahkan bahwa ketika ada UN, pendidikan Indonesia boleh dikatakanberkualitas. Namun, lanjutnya, tidak bisa pendidikan dinyatakan maju atau mundur dengan pedoman satu faktor saja karena pendidikan merupakan hal yang kompleks.

Ia menambahkan bahwa UN juga dipakai untuk mendramatisasi pendidikan seakan tanpa UN, pendidikan mengambambang. Selain itu UN juga menihilkan peran guru dalam evalusasi dikarenakan fungsi guru dalam menentukan standar kompetensi lulusan (SKL). 

Namun dalam poin fungsi UN untuk pemetaan pendidikan di seluruh Indonesia, Abduhzen menyatakan sepakat dengan poin tersebut mengingat pemetaan pendidikan memang dibutuhkan dalam setiap pendidikan modern.

Abduhzen kemudian menegaskan bahwa fokus pertanyaan kenapa harus berlaku UN seperti ini setiap tahun di setiap wilayah? Kemudian muncul suatu anggapan apabila tidak dihadang dengan kelulusan, maka murid dipastikan tidak serius untuk menghadapi UN. Maka perlu dicari alternatif jika memang UN tidak efektif!

Dia menambahkan, UN telah berjalan selama 10 tahun dan dalam peningkatan mutu pendidikan belum memberikan hasil yang signifikan. bahkan UN justru dijadikan ladang praktik kecurangan, baik guru maupun murid. Abduhzen mengungkapkan bahwa dari 500 guru yang ia lakukan penetian, sebanyak 80 persen terbukti terlibat dalam kecurangan UN.

Sumber
Okezone Kampus
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar