UN Jadi Syarat Masuk PTN, Apa Kata Sekolah?


Ayu Rahayu Elfitri | Inggried Dwi Wedhaswary | 
 
JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan, mulai tahun ini nilai akhir ujian nasional (UN) akan dijadikan evaluasi akhir penerimaan calon mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri (PTN). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh mengatakan, kebijakan ini diterapkan sebagai bagian dari upaya menyatukan sistem. Bagaimana tanggapan sekolah?

Kompas.com meminta tanggapan dari dua SMA di Jakarta dan Depok, Jawa Barat, yaitu SMA 24 Jakarta dan SMA 1 Depok. Wirda selaku perwakilan bidang humas sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana SMA 24 Jakarta mengatakan, hingga saat ini, pihaknya belum menerima informasi mengenai akan dijadikannya nilai UN sebagai salah satu instrumen kelolosan di sebuah PTN.

"Sampai sekarang yang kami tahu, informasi tersebut masih berupa isu. Saya justru baru tahu sekarang karena dari tahun-tahun sebelumnya, informasi tersebut sudah ada dan masih berupa wacana saja," ujarnya, ketika dijumpai pada pekan lalu.

Menurutnya, jika memang akan diterapkan, maka sebaiknya dilakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah melalui musyawarah kepala sekolah (MKS). Wirda berpendapat, dengan sosialisasi yang matang, sekolah bisa mempersiapkan para siswa dan tidak ada "kekagetan" di kalangan peserta didik. Ia mengkhawatirkan, para siswa akan menjadi tidak percaya diri dan menambah beban baru bagi mereka.

"Sudut pandangnya pun berbeda. Kalau menjadi syarat untuk masuk PTN, berarti ada saringan yang tidak tersaring, sedangkan kami berharap semua murid lulus," tambahnya.

Ia menambahkan, informasi mengenai kebijakan ini sebaiknya diberitahukan jauh-jauh hari, bahkan sejak siswa memasuki bangku SMA. "Nilai UN, yang sesuai dengan SKBM (standar kelulusan belajar minimal) hanya untuk kelulusan, tentu berbeda dengan standar masuk universitas," kata Wirda.

Sementara itu, Supyana, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA Negeri 1 Depok, mengatakan, hingga saat ini belum ada informasi yang diterima pihak sekolah terkait dijadikannya UN sebagai syarat masuk PTN.

"Kalau nanti dapat info itu dan ternyata benar, menurut saya hal itu sangat riskan. Masih banyak kelemahannya," kata dia, saat ditemui terpisah.

"Tidak menggambarkan prestasi anak yang sesungguhnya. Baiknya, untuk nilai UN tidak dijadikan syarat. Nilai UN seharusnya berbeda dengan ujian masuk PTN sehingga, kalau dibedakan, persaingan antar-anak dan sekolah lebih jelas. Dari prestasinya pun lebih jelas, terlihat perbedaannya," tambah Supyana.

Sebagai guru, ia menyatakan keberatan jika kebijakan itu diterapkan. Akan tetapi, jika sudah menjadi sebuah keputusan, maka sebagai pelaksana, ia akan menerimanya.

"Sebagai guru, saya tidak bisa apa-apa. Saya hanya nurut perintah dari atasan. Kalau itu benar, ya itu mesti dilakukan. Kemudian, kita baru bisa memberi bekal dari segi mental kepada siswa," katanya.

http://edukasi.kompas.com/read/2012/01/24/09200918/UN.Jadi.Syarat.Masuk.PTN.Apa.Kata.Sekolah.

Rekayasa Nilai Siswa, Akses 10 SMA Ditutup


| Inggried Dwi Wedhaswary |

 
PADALARANG, KOMPAS.com - Sekitar 10 SMA tidak memperoleh kesempatan mengikuti jalur undangan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri karena terbukti merekayasa nilai rapor siswa tahun lalu. Akses sekolah-sekolah itu diblokir oleh panitia seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri.
Ketua Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), yang juga Rektor Institut Teknologi Bandung, Akhmaloka mengatakan, sekolah- sekolah itu berada di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.
”Lamannya diblokir sehingga sekolah itu tidak bisa mengakses. Kata kuncinya (password) dinonaktifkan,” kata Akhmaloka seusai mendampingi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Rabu (22/2) malam, di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
Salah satu bukti kecurangan diperoleh panitia SNMPTN dari pengakuan siswa yang direkomendasikan mengikuti jalur undangan. Menurut pengakuan siswa itu, nilai-nilai yang diterima panitia bukanlah nilai asli. Kecurangan ini ditemukan tahun lalu dan sanksi diberikan tahun ini. Beberapa sekolah curang itu sudah mengklarifikasi temuan itu dan membantah telah berbuat curang. Yang terjadi semata-mata kesalahan pengisian data.
”Jumlahnya sekarang mungkin tidak sampai 10. Masih ada beberapa sekolah yang tidak bisa memberi jawaban atau data yang meyakinkan. Mereka diblokir sampai ada klarifikasi yang meyakinkan,” kata Akhmaloka.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menegaskan, sekolah yang terbukti curang akan diberi sanksi tegas seperti pemblokiran itu. Sanksi itu otomatis akan menghambat atau bahkan menutup kesempatan siswa masuk ke PTN melalui jalur undangan.
”Sejak awal sudah diingatkan agar selalu jujur. Jangan berlaku curang dengan merekayasa nilai siswa. Sudah diberi kesempatan kok malah curang. Harus diberi hukuman,” kata Nuh.
Meski termasuk tindak kriminal karena memalsukan data, kata Akhmaloka, panitia tidak memiliki wewenang menindak sekolah, guru, atau kepala sekolah yang terlibat. Dari sisi hukum, kasus kecurangan ini diserahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwajib.
”Yang akan rugi jelas siswa. Tahun lalu kasus ini pernah ribut karena orangtua merasa anaknya sudah dikorbankan oleh sekolah. Tolong pikirkan siswanya,” ujarnya.
Sampai saat ini sudah ada 6.400 sekolah yang mendaftarkan atau merekomendasikan siswanya melalui jalur undangan. Adapun siswa yang telah mendaftarkan dirinya setelah diusulkan sekolah mencapai 1.400 siswa. Hasil SNMPTN jalur undangan akan diumumkan pada 28 Mei 2012 pukul 18.00 WIB. (LUK) 

Perguruan Tinggi Bukan Pabrik Sarjana

| Inggried Dwi Wedhaswary 
 
JAKARTA, KOMPAS.com - Perguruan tinggi bukanlah ”pabrik” sarjana, tetapi institusi yang menghasilkan manusia mandiri, kreatif, dan berkualitas. Di sisi lain, masyarakat juga tidak boleh cepat merasa puas jika sudah meraih gelar sarjana.
Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta saat orasi di wisuda sarjana Universitas Mataram di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (25/2), mengatakan, karena cepat berpuas diri, angka pengangguran terdidik tergolong tinggi. Sarjana yang menganggur, misalnya, sekitar 14,2 persen, sedangkan lulusan diploma yang menganggur sekitar 15,7 persen.
Untuk mengatasi pengangguran ini, kata Hatta, lulusan perguruan tinggi tidak semestinya bercita-cita menjadi pegawai, tetapi harus belajar mandiri dan kreatif dengan berwirausaha. Hingga saat ini pun, jumlah wirausaha di Indonesia masih minim, hanya sekitar 400.000 orang atau 0,18 persen dari jumlah penduduk. Padahal, idealnya minimal 4,4 juta orang atau dua persen dari jumlah penduduk, seperti halnya di negara maju.
Untuk mendorong jiwa kewirausahaan, terutama di bidang teknologi, lanjut Hatta, Kementerian Riset dan Teknologi melaksanakan program Technopreneurship Pemuda untuk menumbuhkan minat pemuda menjadi technopreneur.
Saat peluncuran pengembangan sistem inovasi daerah (sida) di Mataram, Gusti Muhammad Hatta mengatakan, kawasan Nusa Tenggara Barat dikembangkan sebagai pusat agribisnis sapi potong unggulan dengan menerapkan iptek dan sumber daya manusia yang andal. Pengembangan ini untuk mendorong kemandirian karena impor sapi Indonesia pada tahun 2011 sangat tinggi, yakni 500.000 sapi dan ribuan ton daging sapi. Gubernur Nusa Tenggara Barat Zainul Majdi mengatakan, pihaknya juga mencanangkan Program Bumi Sejuta Sapi di NTB. (YUN/RUL)

http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/27/08272661/Perguruan.Tinggi.Bukan.Pabrik.Sarjana

TRY OUT SMAN 1 JETIS


Minggu , 4 Maret 2012
IDR Rp 13.000,-
Pendaftaran 20 Februari - 2 Maret 2012
Hari Biasa
12.00-17.00
Hari Minggu & Libur
08.00-16.00

Di SMAN 1 JETIS BANTUL
info @osis_SMANIS


Daftar Link Ke Laman Resmi PTN


 
 
NAMA PTN LINK PTN
UNIVERSITAS SYIAHKUALA http://www.unsyiah.ac.id
UNIVERSITAS MALIKUSSALEH http://www.unimal.ac.id
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN http://www.unimed.ac.id
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA http://www.usu.ac.id
UNIVERSITAS ANDALAS http://www.unand.ac.id
UNIVERSITAS NEGERI PADANG http://snmptn.unp.ac.id
UNIVERSITAS RIAU http://www.unri.ac.id
UNIVERSITAS JAMBI http://www.unja.ac.id
UNIVERSITAS SRIWIJAYA http://www.unsri.ac.id
UNIVERSITAS BENGKULU http://www.unib.ac.id
UNIVERSITAS LAMPUNG http://www.unila.ac.id
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA http://www.untirta.ac.id
UNIVERSITAS INDONESIA http://simak.ui.ac.id
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA http://www.unj.ac.id
INSTITUT PERTANIAN BOGOR http://www.ipb.ac.id
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG http://snmptn.itb.ac.id
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA http://pmb.upi.edu
UNIVERSITAS PADJADJARAN http://www.unpad.ac.id
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN http://www.unsoed.ac.id
UNIVERSITAS DIPONEGORO http://www.undip.ac.id
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG http://www.unnes.ac.id
UNIVERSITAS SEBELAS MARET http://spmb.uns.ac.id
UNIVERSITAS GADJAH MADA http://um.ugm.ac.id
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA http://www.uny.ac.id
UNIVERSITAS AIRLANGGA http://www.unair.ac.id
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOVEMBER http://smits.its.ac.id
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA http://www.unesa.ac.id
UNIVERSITAS TRUNOJOYO http://www.trunojoyo.ac.id
UNIVERSITAS NEGERI MALANG http://www.um.ac.id
UNIVERSITAS BRAWIJAYA http://www.selma.ub.ac.id
UNIVERSITAS JEMBER http://www.unej.ac.id
UNIVERSITAS UDAYANA http://www.unud.ac.id
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA http://www.undiksha.ac.id
UNIVERSITAS TANJUNG PURA http://www.untan.ac.id
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO http://www.ung.ac.id
UNIVERSITAS CENDRAWASIH http://www.uncend.ac.id
UNIVERSITAS MATARAM http://www.unram.ac.id
UNIVERSITAS NUSA CENDANA http://www.undana.ac.id
UNIVERSITAS PALANGKARAYA http://upr.ac.id
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT http://www.pendaftaran.unlam.ac.id
UNIVERSITAS MULAWARMAN http://www.unmul.ac.id
UNIVERSITAS NEGERI MAKASAR http://www.unm.ac.id
UNIVERSITAS HASANUDDIN http://www.unhas.ac.id/pmb
UNIVERSITAS TADULAKO http://www.untad.ac.id
UNIVERSITAS HALUOLEO http://www.unhalu.ac.id
UNIVERSITAS NEGERI MANADO http://unima.ac.id/UNIMAWeb-SNMPTN.php
UNIVERSITAS SAM RATULANGI http://www.unsrat.ac.id
UNIVERSITAS PATTIMURA http://snmptn.universitaspattimura.ac.id
UNIVERSITAS KHAIRUN http://www.unkhair.ac.id
UNIVERSITAS NEGERI PAPUA http://www.unipa.ac.id
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIEF KASIM http://www.uin-suska.ac.id
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA SYARIEF HIDAYATULLAH http://www.uinjkt.ac.id
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG JATI http://www.uinsgd.ac.id
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA/YK http://www.uin-suka.ac.id
IAIN SUNAN AMPEL http://www.sunan-ampel.ac.id
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG http://www.uin-malang.ac.id
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN http://www.uin-alauddin.ac.id
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG http://www.ubb.ac.id
UNIVERSITAS MUSAMUS MERAUKE http://www.unmus.ac.id
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN http://www.borneo.ac.id
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI http://umrah.ac.id

http://www.snmptn.ac.id/i_page.php?m_id=4

Tak Selalu RSBI Lebih Unggul dari Sekolah Reguler


Ester Lince Napitupulu | Marcus Suprihadi
 
JAKARTA, KOMPAS.com — Alasan pemerintah terus mempertahankan rintisan sekolah bertaraf internasional karena mutu pendidikan Indonesia bakal berdaya saing internasional perlu dipertanyakan. Pasalnya, evaluasi yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan justru menunjukkan bahwa tak selalu sekolah RSBI unggul dari sekolah reguler.
Bahkan, dalam beberapa skor penilaian, termasuk Bahasa Inggris yang seharusnya menjadi keunggulan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), siswa dan guru di sekolah reguler lebih unggul.
Ini terlihat di jenjang SMP di mana skor Bahasa Inggris siswa RSBI 7,05, sedangkan siswa reguler 8,18. Guru Bahasa Inggris di SMP juga punya skor yang lebih tinggi, yaitu 6,2, dibandingkan dengan guru RSBI yang 5,1. Ini juga terjadi pada guru Bahasa Inggris di jenjang SMA.
Selisih skor nilai-nilai antara siswa RSBI dan reguler umumnya di bawah 1 dari skor 0-9. Hal ini terjadi karena, dari kajian, guru-guru sekolah reguler justru mempunyai skor yang lebih baik dari guru di RSBI.
Ambil contoh, guru SMA reguler ternyata lebih unggul dalam skor di mata pelajaran Fisika, Biologi, dan Bahasa Inggris. Di Matematika hampir sama. Kemampuan pedagogi guru juga tidak jauh berbeda.
Bahkan, di SD, skor pedagogi guru sekolah reguler lebih unggul. Di jenjang SMP juga berbeda kecil, kecuali di SMA yang perbedaannya lebih dari 1 poin.
S Hamid Hasan, ahli evaluasi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jumat (17/2/2012), mengatakan, tidak berarti bahwa kemampuan RSBI lebih baik dari sekolah reguler yang unggul. "Asal sekolah diberi fasilitas yang baik, guru yang kompetensinya bagus, tanpa embel-embel RSBI pun sekolah tetap bisa menunjukkan kualitas. Untuk apa pemerintah menciptakan perbedaan-perbedaan dalam pendidikan lewat RSBI," tutur Hamid.
Retno Lisyarti, guru SMA RSBI di Jakarta, mengatakan, pemerintah tidak mampu membangun kapasistas guru yang dibutuhkan untuk sekolah bermutu. Dana dari masyarakat dan pemerintah yang mengucur ke sekolah RSBI lebih untuk peningkatan sarana, kegiatan, honor guru, dan membayar pengajar asing yang digaji lebih mahal.
Menurut Retno, di sekolah RSBI ada guru asing yang ditetapkan harus dari kawasan Eropa atau Australia. Bayarannya lebih mahal dibandingkan dengan guru Indonesia. Untuk kelas internasional yang bayarannya Rp 31 juta per tahun, kata Retno, siswa mendapat pengajaran ekstra dari beberapa guru asing. Utamanya saat siswa hendak menghadapi ujian internasional Cambridge atau IB.
"Kebijakan RSBI pun menciptakan ketidakadilan bukan hanya kepada masyarakat. Guru dalam negeri saja dipandang lebih rendah daripada guru asing," kata Retno.

http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/17/18134726/Tak.Selalu.RSBI.Lebih.Unggul.dari.Sekolah.Reguler

Pemerintah Bersikeras Pertahankan RSBI


foto
Protes soal program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta (10/6). TEMPO/ Seto Wardhana

TEMPO.CO, Surakarta - Keberadaan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) digugat masyarakat. Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan mengajukan gugatan kepada Mahkamah Konstitusi untuk membatalkan Pasal 50 Ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menjadi dasar munculnya RSBI.

Sementara Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Suyanto menegaskan keberadaan RSBI harus dipertahankan. “Kalau judicial review pasal 50 dikabulkan MK, maka RSBI akan hilang. Dan semua kerja keras selama ini menjadi sia-sia,” ujar Suyanto di sela The 3rd National Science Olympiad SMP RSBI 2012 di Surakarta, Selasa 14 Februari 2012.

Dia menilai keberadaan RSBI sangat penting karena bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Menurutnya, sebuah institusi pendidikan bisa dibedakan menurut fasilitas pelayanan pendidikan, yaitu ada yang standar pelayanan minimal, standar nasional, RSBI dan terakhir SBI.

Karenanya, dia meminta semua pihak meyakinkan kepada masyarakat tentang pentingnya RSBI. Seluruh pemangku kepentingan seperti pemerintah, kepala sekolah, guru, hingga siswa, menurutnya, punya tanggung jawab yang sama untuk mempertahankan eksistensi RSBI.

Apalagi, tambahnya, keberadaan RSBI merupakan amanat UU Sistem Pendidikan Nasional. “RSBI juga tidak tertutup bagi siswa miskin tapi berprestasi. Buktinya ada kuota 20 persen untuk siswa miskin,” katanya.

Meskipun bersikeras mempertahankan RSBI, Suyanto tidak bisa menjawab soal kapan akhirnya RSBI berubah menjadi SBI. Menurutnya, peningkatan status dari RSBI menjadi SBI tidak bisa tiba-tiba dan harus dikondisikan. “Tidak bisa besok atau lusa jadi SBI,” ucapnya.

Pihaknya, kata Suyanto, tidak bisa mematok kapan sebuah sekolah harus menjadi SBI, mengingat dengan menjadi SBI berarti harus siap bersaing di tingkat internasional. “Tapi jika dalam 7 tahun tidak bisa menjadi SBI, sekolah itu akan dikembalikan menjadi SSN (sekolah standar nasional),” dia menegaskan.

RSBI pertama kali muncul pada tahun ajaran 2006/2007. Saat ini dari sekitar 150 ribu sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan sekolah menengah kejuruan di Indonesia, baru 1.125 yang berstatus RSBI. Suyanto mengatakan jumlah sekolah RSBI tidak perlu banyak-banyak, asalkan berkualitas.

Terkait pengelolaan RSBI, dia mengatakan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007, RSBI semestinya dikelola pemerintah provinsi. “Tapi ada yang sudah siap, ada yang belum,” katanya.

Wali Kota Surakarta Joko Widodo tidak mempermasalahkan pengelolaan RSBI. Menurutnya, yang penting asas kemanfaatan dalam pengelolaan. “Mana yang lebih bermanfaat, itu yang dipilih. Mau dikelola siapa pun, tidak masalah,” katanya.

Di Surakarta terdapat beberapa sekolah RSBI, misalnya SD Cemara Dua, SMP 1 dan SMP 4, SMA 1, SMA 3, SMA Batik, SMA MTA, dan SMA Regina Pacis. Kemudian SMK 2, SMK 4, SMK 5, dan SMK 6.

UKKY PRIMARTANTYO

http://www.tempo.co/read/news/2012/02/14/079383936/Pemerintah-Bersikeras-Pertahankan-RSBIhttp://www.tempo.co/read/news/2012/02/14/079383936/Pemerintah-Bersikeras-Pertahankan-RSBI

Pendidikan dan Peradaban Indonesia


Jika Anda mahir menyetir, pasti mudah bagi Anda untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi (SIM). Kemahiran menyetir modal Anda lulus ujian mendapatkan SIM. Namun, jika perilaku berlalu lintas Anda tak disiplin, dipastikan Anda takkan pernah mendapatkan SIM. Kanada, punya cerita menarik tentang hal ini.

Pendidikan dan Peradaban Indonesia
Di Kanada, seseorang yang sudah pandai menyetir belum tentu akan memperoleh SIM jika pada saat tes mengemudi orang tersebut hanya mendemonstrasikan keterampilan menyetir tanpa mengindahkan kedisiplinan berlalu lintas. Sebaliknya, seseorang yang belum begitu mahir menyetir bisa mendapatkan SIM bila pada saat dites memperlihatkan perilaku menyetir yang baik dengan mengedepankan sikap disiplin berlalu lintas. Menarik bukan? 

Membangun budaya disiplin lebih diutamakan daripada sekadar pandai menyetir, sebuah ilustrasi tentang bagaimana pemerintah suatu negara melakukan proses pendidikan bagi warga negaranya. 

Pendidikan itu berbeda dengan pelatihan & pengajaran. Setiap orang bisa mengikuti kursus menyetir. Di sana ada proses transfer pengetahuan bagaimana cara menyetir yang baik. Artinya, proses pengajaran telah dilakukan oleh instruktur kepada peserta kursus. 

Mengajar, artinya ada proses transfer ilmu pengetahuan. Dari tak tahu menjadi tahu cara menyetir, dan menambah ilmu tentang teknik menyetir. Ilmu yang diperoleh peserta kursus kemudian dipraktikkan secara berulang-ulang, itulah pelatihan. Pendidikan lebih berfokus pada proses menyadarkan peserta kursus untuk bersikap disiplin dalam mematuhi aturan lalu lintas yang berlaku. 

Pendidikan hanya akan berhasil dilakukan jika ada pembiasaan dan peneladanan. Tahu teori tentang kedisiplinan belum tentu membuat seseorang akan berperilaku disiplin jika dia tidak paham mengapa harus berlaku disiplin. 

Memberhentikan kendaraan ketika melihat lampu merah, itu tindakan disiplin. Namun, jika berhenti kalau ada polisi yang sedang berjaga saja, kita layak pertanyakan sikap kedisiplinannya. Apa pula jadinya jika polisi memberi contoh tak terpuji dengan melabrak lampu merah atau menyalip kendaraan dari bahu jalan. Jika tak ada proses pembiasaan dan peneladanan, maka sejatinya proses pendidikan akan gagal total. 

Prof. Fuad Hasan (mantan Mendiknas RI) pernah menyatakan bahwa pendidikan merupakan ikhtiar pembudayaan. Pendidikan tidak hanya merupakan prakarsa bagi terjadinya pengalihan pengetahuan dan keterampilan (transfer of knowledge and skills), tetapi juga meliputi pengalihan nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial (transmission of cultural values and social norms). Andai ketika kursus menyetir selesai, peserta mampu memiliki kemahiran menyetir dan perilaku disiplin yang sama baiknya. Itulah hakikat proses pendidikan yang sesungguhnya. 

Ingat, amal tanpa ilmu bisa jadi amalnya tertolak karena segala sesuatu ada ilmunya. Orang-orang terdidik paham tak semua ilmu membawa kebaikan bagi dirinya. Dia hanya pilih dan pelajari ilmu yang bermanfaat saja. Praktik dan latihan dalam kehidupan nyata akan membuat orang-orang terdidik semakin menghayati ilmu yang dimilikinya lewat proses belajar. Mereka adalah orang-orang yang pintar memaknai sesuatu dalam hidupnya, bukan orang yang ‘merasa pintar’. 

Pendidikan mestinya bisa menghasilkan orang-orang yang bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri. Semakin mengenal ‘diri’, semakin jujur dengan diri sendiri, semakin otentik, dan menjadi semakin unik tak terbandingkan (Andrias Harefa, Buku Menjadi Manusia Pembelajar, 2008).

Proses Dehumanisasi dalam Pendidikan

Kegagalan terbesar dari sistem pendidikan kita bukan terletak pada masalah lemahnya pendidikan mencerdaskan rakyat, tetapi terletak pada masalah ketidakmampuan pendidikan menyadarkan rakyat terhadap permasalahan hidup yang nyata. 

Siapa yang tak miris melihat situasi bangsa terkini. Tawuran masal mudah sekali terjadi. Dari mulai gesekan antar pelajar, hingga tawuran antar kampung. Tak ada lagi logika. Semua masalah tampaknya hanya bisa diselesaikan dengan otot saja. Hampir tak ada bedanya perilaku orang yang berpendidikan maupun yang tak sempat terdidik karena tak punya akses mendapatkan pendidikan berkualitas. Ini jelas menjadi sebuah ironi.

Pendidikan sudah dianggap berhasil jika sudah ada gedung sekolah, kurikulum, guru, siswa, kegiatan pembelajaran, dan fasilitas pendukung lainnya. Kita lupa tidak pernah mencermati secara serius perubahan apa yang sudah terjadi pada anak-anak kita melalui kegiatan pendidikan? Jangan-jangan, pendidikan malah membuat anak-anak kita jadi tak punya jati diri, kehilangan arah, cerdas namun tak berakhlak, dan tak paham untuk apa mereka menuntut ilmu. 

Koruptor terdidik semakin banyak, orang cerdas Indonesia berani jual aset negara, budaya mencontek di sekolah dibiarkan, harga diri & kehormatan guru masih dilecehkan, mahasiswa makin doyan tawuran daripada lakukan debat ilmiah di kampus mereka, dan korupsi dana bantuan operasional sekolah masih meramaikan berita-berita di media massa. Ini menyertai hadirnya pendidikan karakter di bumi pertiwi. 

Jika ujung-ujungnya hanya sekadar tahu teori tentang karakter, situasi carut marut masih tetap akan berlangsung. Sekali lagi, dunia pendidikan takkan mampu beri kontribusi pada bangsa ini untuk keluar dari keterpurukan.

Fenomena ini yang diistilahkan oleh Paulo Freire, Banking Concept of Education. Ciri utamanya adalah komunikasi bersifat antidialogis, guru mengajar-murid belajar, guru tahu segalanya-murid tidak tahu apa-apa, guru bicara-murid mendengarkan, guru adalah subjek proses belajar-murid objek belajar. Pendidikan kehilangan nilai-nilai humanisme. Semua orang hanya menjejali isi kepalanya dengan pengetahuan-pengetahuan baru. Tak peduli pengetahuan itu berguna atau tidak bagi dirinya. Celakanya jika pengetahuan itu digunakan untuk menyengsarakan orang lain. 

Kondisi lebih naas lagi jika pendidikan kita hanya mampu menghasilkan akademisi yang gemar plagiat, pengusaha serakah, penguasa khianat, pelajar/mahasiswa hobi tawuran, dan peradaban yang celaka dan mencelakakan. Akhirnya, peradaban bangsa akan luluh lantak jika pilar pendidikan Indonesia masih dibangun atas dasar prinsip Tut Wuri Nggerogoti (Di Belakang Mengegerogoti), Ing Madya Ngangkut Banda (Di Tengah Mengangkut Harta), Ing Ngarsa Terus Ngapusi (Di Depan Selalu Menipu).

Masa depan nyatanya bukan terletak pada ilmu yang diperoleh, bukan pada kecerdasan yang dikembangkan, dan bukan pada keahlian yang dikuasai. Sesungguhnya masa depan terletak pada perilaku. 

Bahkan Plato pun berujar, “Bersikaplah yang baik karena semua orang yang kita jumpai sedang menghadapi masalah besar”. Setuju atau tidak, pendidikan punya peran penting dalam membangun peradaban suatu bangsa hingga tetap eksis di masa depan. Utamanya, menghasilkan manusia yang berakhlak mulia sebagai inovator dan aktor intelektual yang melestarikan nilai-nilai baik di muka bumi ini. Bagaimana menurut Anda? 



Asep Sapa'at
Teacher Trainer di Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa


Redaktur: Johar Arif


http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/12/02/16/lzhab2-pendidikan-dan-peradaban-indonesia

Jangan Terjebak "Cap" Program Studi Favorit


Indra Akuntono | Inggried | 


JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri, Herry Suhardiyanto mengatakan, hasil SNMPTN pada tahun ini menunjukkan banyaknya peserta yang gagal lolos, meski mengantongi nilai di atas rata-rata nasional. Penyebabnya karena mereka hanya memilih satu program studi yang selama ini dianggap sebagai program studi favorit sehingga tingkat kompetisinya semakin tinggi. Sebanyak 154.954 peserta SNMPTN atau 28 persen dari total peserta tidak lolos seleksi meski memperoleh nilai di atas rata-rata nasional.

"Karena memang ada beberapa program studi yang nilai kompetitifnya sangat tinggi. Strategi memilihnya tidak boleh salah, karena jika kurang cerdas memilih, maka dikhawatirkan tidak mampu mencapai nilai terendah. Buktinya banyak anak pintar yang nilainya di atas rata-rata, tapi tidak diterima karena kalah bersaing di program studi yang sangat ketat. Ini sangat penting untuk diedukasikan kepada masyarakat," ujar Herry, Selasa (28/6/2011), di Jakarta.Oleh karena itu, Herry berharap, ke depannya masyarakat dapat lebih mengedukasi dan memahami mengenai program studi yang akan dipilih. Menurutnya, apapun program studinya tetap sama. Untuk mengisi semua tempat yang disediakan, maka ia mengimbau masyarakat tidak membuat persepsi mengenai program studi favorit atau tidak favorit.
Herry menjelaskan, mekanisme SNMPTN 2011 jalur ujian tertulis/keterampilan adalah perebutan tempat. Setiap peserta harus mencapai batas nilai terendah yang ditetapkan di masing-masing program studi dan masing-masing perguruan tinggi.
"Demikian ketatnya program studi favorit. Bahkan, ada peserta yang terpental, meski nilainya 90. Sementara di program studi lain, ada yang nilainya 30 tapi diterima. Jadi, memang mekanismenya adalah perebutan tempat," jelasnya.
Pada SNMPTN 2011 ini, sebanyak 118.233 peserta dinyatakan lolos dari total jumlah peserta 540.953 orang. Pengumuman peserta yang lolos dapat diakses secara online pada 30 Juni 2011.
Jumlah peserta yang lolos tersebut terdiri dari kelompok IPA sebanyak 56.856 orang dan kelompok ujian IPS sebanyak 61.377 orang.


http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/28/19031690/Jangan.Terjebak.Cap.Program.Studi.Favorit

IPS Bukan Buangan


Nah, menjelang akhir semester II biasanya menjadi awal kebingungan yang melanda siswa kelas X untuk memilih jurusan di bangku SMA. IPA adalah jurusan yang dianggap sebagai jurusan bagi orang-orang yang pintar di bidang akademis dan cenderung lebih dipandang.
Sementara jurusan IPS dianggap sebagai kelas bagi orang-orang yang memiliki kemampuan kurang sehingga tidak bisa masuk di kelas IPA. Bahkan, terkadang kelas IPS kerap disebut sebagai ”kelas buangan”. Apakah betul seperti itu?
”Itu masalah klasik dan mendasar. Diskriminasi itu saya rasa merupakan pola pikir sebagian dari mereka yang merasa bisa hidup dengan eksakta semata. Itu pola pikir purba yang tidak realistis,” ungkap salah seorang siswa IPS di SMA Negeri 3 Denpasar, Bali, yang berprestasi di bidang karya tulis ilmiah, I Wayan Anantha Surya Kusuma Kepakisan.
”Coba silakan buktikan, apakah memang benar IPS itu kumpulan anak bodoh, anak buangan, atau anak sisa? Itu tidak sepenuhnya benar. Saya orang sosial dan saya merasakan diskriminasi itu, ” kata Surya, panggilannya.
Apa yang dikatakan Surya dibenarkan I Made Adnyana. Menurut Adnyana, selama 30 tahun menjadi guru Geografi di SMA Negeri 3 Denpasar, siswa kelas IPS banyak menyumbang prestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik.
Terbukti pada tahun 2011 ini, Putu Sanjiwacika Wibisana, siswa kelas IPS, berhasil memboyong medali emas Olimpiade Ekonomi Nasional. Begitu juga dengan I Wayan Arya Swarnata dan Luh Putu Ratih Kumala, keduanya siswa kelas IPS, yang kembali mendapat kesempatan untuk bersaing di tingkat nasional untuk memperebutkan medali emas Olimpiade Ekonomi Nasional. Mereka lolos di seleksi tingkat kabupaten/kota dan Provinsi Bali.
”Kalau dilihat dari realitas, memang benar penerimaan di universitas itu lebih memandang anak-anak IPA. Jadi, perlu ada sosialisasi lebih. Seperti dulu, SMK juga mendapat diskriminasi. Tapi, sekarang di televisi sudah ada penyuluhan tentang SMK,” ujar salah seorang siswa IPA yang juga ingin menjadi siswa IPS, Pande Putu Tara Anggita, ketika ditanya pendapatnya untuk mengatasi diskriminasi pada kelas IPS.
Menurut Adnyana, salah satu cara ampuh untuk memperbaiki citra IPS di mata masyarakat adalah dengan meningkatkan prestasi siswa IPS, seperti yang dilakukan teman-teman IPS yang menjadi peraih medali di berbagai olimpiade itu. Yuk, kita buktikan, MuDAers!

Jangan Bingung Memilih Jurusan!


Ayu Rahayu Elfitri | Inggried Dwi Wedhaswary 

KOMPAS.com - Memilih jurusan terkadang menjadi masalah tersendiri bagi calon mahasiswa. Hal ini terjadi ketika mereka belum mengetahui minat dan bakatnya sejak dini. Alhasil, tak sedikit yang merasa telah salah memilih jurusan ketika duduk di bangku perkuliahan. Sebelum hal itu terjadi pada Anda, lima hal di bawah ini bisa dipertanyakan kepada diri sendiri sebelum mengambil keputusan. Apa saja?

1. Apa yang Anda suka?
Ketahui dan kenali apa yang Anda sukai. Jangan memilih jurusan hanya karena mengikuti pilihan orang lain atau agar tetap bersama teman dekat. Dalam mengambil keputusan, bicaralah pada hati kecil Anda, dan pilih yang akan membuat bersemangat!

2. Apakah Anda baik dalam suatu bidang?
Anda harus mengetahui keunggulan Anda dalam suatu bidang tertentu. Hal itu bisa diukur dengan melihat bagaimana respons orang-orang sekitar dengan apa yang Anda hasilnya. Misalnya, apakah Anda selalu mendapat pujian dari suatu pertunjukan atau karya seni? Jika Anda memiliki kecendrungan alami ke arah minat dan ketrampilan tersebut, Anda dapat mempertimbangkannya sebagai pilihan untuk menentukan jurusan.

3. Apa profesi yang ingin Anda jalani?
Apakah Anda ingin menjadi dokter, guru atau pengacara? Jangan membatasi diri Anda dalam melakukan hal-hal dalam bidang tersebut. Jika Anda ingin menjadi dokter, tapi memiliki ketertarikan pada sastra maka lihatlah dahulu jurusan tersebut sebelum menentukan pilihan.

4. Keterampilan apa yang ingin Anda pelajari? 

Anda harus mengetahui dengan jelas, apa keterampilan yang perlu lebih didalami saat memilih sebuah profesi atau bidang. Misalnya, Anda menyukai teater dan memiliki impian akan menghabiskan waktu Anda di bidang itu, maka cari tahulah keterampilan apa yang harus Anda kuasai jika ingin sukses menjalaninya. Atau, jika Anda ingin mempunyai perusahaan, sejak awal Anda harus mempelajari seluk beluk tentang bisnis, etika, pemasaran, humas, dan pelayanan. Pilih dengan cermat jurusan yang akan membuat Anda tertarik di dalamnya.

5. Faktor-faktor apa yang harus dipertimbangkan?
Banyak siswa yang memilih jurusan karena terpengaruh keluarga, keuangan, atau budaya. Sambil menjelajahi jurusan yang Anda pilih, ingatlah bahwa faktor kekuatan eksternal akan memengaruhi kehidupan di kampus Anda dari berbagai sisi. Menemukan jurusan yang dapat memberikan keseimbangan untuk impian internal Anda dan dukungan dari luar akan membuat situasi yang lebih mudah dikendalikan.

Selamat memilih!
http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/02/09190415/Jangan.Bingung.Memilih.Jurusan.

Jangan Gunakan "Sistem Kebut Semalam"

KOMPAS.com - Lupa adalah sesuatu yang manusiawi dan wajar kita alami. Tetapi, kalau terus menerus lupa mengingat materi pelajaran? Wah, bisa repot juga. Apalagi, jika tengah mempersiapkan diri menghadapi ujian. Daya ingat adalah suatu proses yang sangat penting dalam menjawab soal-soal ujian. Bagaimana mungkin kita bisa menghadapi ujian, tapi lupa dengan materi belajar? Ada banyak strategi yang bisa diterapkan. Yang jelas, jangan menggunakan strategi yang umumnya digunakan para pelajar: sistem kebut semalam!

Nah, sepuluh tips berikut mungkin bisa membantu Anda dalam meningkatkan daya ingat belajar. Sebagai informasi, beberapa strategi di bawah ini telah diterapkan dalam literatur psikologi kognitif. Strategi ini menawarkan sejumlah cara yang bagus untuk meningkatkan daya ingat dan retensi informasi. Simak, yuk!

1. Fokuskan perhatian Anda pada materi yang Anda pelajari 
Perhatian adalah salah satu komponen utama dari memori. Agar sebuah informasi pada ingatan Anda berpindah dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang, ada cara yang bisa dilakukan. Apa itu? Cobalah untuk belajar di tempat yang bebas dari gangguan, seperti televisi, musik, atau hiburan lainnya.

2. Hindari belajar dengan sistem 'kebut semalam'

Belajarlah secara teratur. Penelitian menunjukkan bahwa dengan sistem belajar yang teratur akan membuat seseorang dapat mengingat materi pembelajaran lebih baik dan lebih panjang daripada mereka yang menggunakan sistem 'kebut semalam', dengan waktu yang sangat terbatas.

3. Susun dan atur setiap informasi yang Anda pelajari 

Para peneliti menemukan bahwa setiap informasi telah diatur dalam memori dan sudah dikelompokkan. Gunakan memori itu untuk menata dan mengorganisasi materi yang Anda pelajari. Cobalah mengelompokkan bagan-bagan atau istilah-istilah secara bersamaan pada catatan Anda.

4. Memanfaatkan perangkat mnemonik
Perangkat mnemonik merupakan alat untuk membantu ingatan/menghafal informasi. Perangkat ini juga menjadi teknik yang sering digunakan oleh siswa untuk membantu mengingat. Sebagai contoh, Anda mungkin mengasosiasikan istilah yang perlu Anda ingat dengan  benda yang akrab dengan Anda. Misalnya, dengan syair, lagu, atau lelucon tertentu.

5. Menguraikan dan melatih lagi setiap informasi yang sudah Anda pelajari 

Untuk mengingat suatu informasi, Anda perlu untuk mengkodekan apa yang telah Anda pelajari ke dalam memori jangka panjang. Salah satu teknik pengkodean paling efektif dikenal sebagai latihan elaboratif. Contoh dari teknik ini adalah dengan mencari kata kunci dari sebuah definisi. Mempelajari definisi tersebut, kemudian membaca penjelasannya secara lebih rinci. Ulangi proses ini beberapa kali, maka daya ingat Anda akan jauh lebih baik.

6. Menghubungkan informasi baru dengan hal-hal yang sudah Anda ketahui 

Ketika Anda sedang mempelajari bahan asing, luangkan waktu untuk menghubungkan informasi tersebut dengan hal-hal yang sudah Anda ketahui. Dengan menghubungkan ide yang baru dengan ingatan sebelumnya, Anda bisa secara tak diduga mengembangkan kemungkinan mengingat informasi yang baru dipelajari.

7. Visualisasikan informasi untuk meningkatkan daya ingat 
Banyak orang mendapatkan keuntungan besar dari memvisualisasikan informasi yang mereka pelajari. Perhatikan foto, grafik, atau gambar dalam buku teks Anda. Jika Anda tidak  ada, buatlah sendiri. Gambarlah grafik atau bagan di pinggir catatan Anda. Gunakan stabilo atau pena berwarna pada kelompok yang terkait dengan materi Anda.

8. Mengajarkan konsep belajar baru kepada orang lain 
Penelitian menunjukkan bahwa dengan mengeraskan suara pada saat belajar akan meningkatkan daya ingat. Pendidik dan psikolog juga menemukan bahwa siswa yang mengajarkan belajar dengan konsep baru kepada orang lain akan meningkatkan pemahaman dan daya ingat. Anda dapat menggunakan pendekatan ini dalam proses belajar Anda.

9. Memberikan waktu ekstra pada bagian yang sulit 
Pernahkah Anda merasa bahwa mengingat sebuah informasi di awal dan di akhir kadang-kadang lebih mudah? Para peneliti telah menemukan bahwa urutan informasi dapat berperan dalam proses mengingat.Hal ini dikenal sebagai efek posisi serial.

Sementara, mengingat informasi di tengah lebih sulit. Anda dapat mengatasi masalah ini dengan menghabiskan waktu ekstra pada informasi ini. Strategi lain adalah dengan mencoba restrukturisasi informasi sehingga akan lebih mudah untuk diingat. Bila Anda menemukan bagian yang sangat sulit, curahkan waktu ekstra untuk menghafal informasi tersebut.

10. Variasikan rutinitas studi Anda 
Banyak cara untuk meningkatkan daya ingat Anda, yaitu dengan sesekali mengubah rutinitas belajar. Jika Anda terbiasa untuk belajar pada lokasi tertentu, coba pindah ke tempat yang berbeda pada sesi belajar berikutnya. Misalnya, jika Anda belajar di malam hari, cobalah menghabiskan beberapa menit di pagi hari untuk meninjau informasi yang telah Anda pelajari pada malam sebelumnya. Dengan menambahkan unsur baru pada sesi belajar ini, Anda dapat meningkatkan efektivitas secara signifikan dalam upaya Anda untuk meningkatkan daya ingat Anda dengan jangka panjang.

http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/14/08395411/Jangan.Gunakan.Sistem.Kebut.Semalam.

Pendaftaran SNMPTN Jalur Tertulis Dimulai 10 Mei 2012

REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU -- Ketua Humas Universitas Bengkulu, Suharyanto, mengatakan, pendaftaran SNMPTN 2012 jalur undang sudah dimulai pada 1 Februari dan ditutup pada 29 Februari. 

Pada jalur undangan tersebut, siswa dipilih berdasarkan nilai kognitif rapor semester 3, 4 dan 5. Jalur undangan diselenggarakan secara nasional sehingga peserta bisa mendaftar melalui PTN lain.

Pendaftaran jalur undangan secara online dimulai pada 1 hingga 29 Februari 2012 dilakukan oleh masing-masing Kepala Sekolah dan akan mendapatkan nomor dan password siswa, sedangkan bagi siswa sudah menerima nomor dan password dapat segera melakukan pendaftaran di Bank Mandiri sebesar Rp 175.000.

Untuk jalur tertulis, pendaftaran secara online akan dimulai pada 10-31 Mei 2012, sedangkan pelaksanaan ujiannya pada 12-13 Juni 2012, setiap peserta akan dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp 150.000 untuk IPA dan IPs serta Rp 175.000 untuk IPC.

http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita-pendidikan/12/02/12/lz9j5w-pendaftaran-snmptn-jalur-tertulis-dimulai-10-mei-2012
Redaktur: Heri Ruslan
Sumber: antara