Kurikulum 2013 Justru Tak Lagi Buat Guru Repot



JAKARTA, KOMPAS.com — Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) akan segera berganti dengan kurikulum baru pada 2013 mendatang. Pada kurikulum baru nanti, guru tak lagi dibebani dengan kewajiban untuk membuat silabus untuk pengajaran terhadap anak didiknya seperti yang terjadi pada saat KTSP.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan bahwa pemerintah akan mengambil alih pembuatan silabus pada kurikulum baru nanti. Pasalnya, eksekusi KTSP di lapangan selama ini kedodoran karena kemampuan guru yang beragam dalam membuat silabus.

"Variasi sekolah dan guru itu luar biasa. Ada yang bisa membuat silabus, ada juga yang tidak. Jadi, kalau guru diwajibkan bikin silabus, ya remek," kata Nuh saat berkunjung ke Gedung Kompas, Palmerah, Jakarta, Jumat (21/12/2012).

Ia menambahkan bahwa pengawasan dan kontrol pendidikan dengan kurikulum yang berjalan saat ini juga sulit dilakukan mengingat masing-masing sekolah berwenang membuat silabus dan menjalankan proses pembelajaran sesuai dengan cara yang diketahuinya.

"Mengontrolnya susah bukan main. Persepsi masing-masing guru, masing-masing sekolah itu berbeda," jelas Nuh.

Tidak hanya itu, masalah yang cukup signifikan dan berdampak pada anak didik adalah banyak bermunculannya Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan konten tak sesuai. Hal ini disebabkan kemampuan guru dalam membuat soal latihan untuk murid kadang terbatas sehingga penggunaan LKS dijadikan pilihan.

"Munculnya LKS itu kan karena guru kadang susah membuat soal. Kami juga tidak bisa apa-apa karena kan sudah diserahkan pada sekolah," ungkap Nuh.

"Ya itu, makanya muncul Bang Maman, Bang Mimin, Maria Ozawa dalam LKS anak-anak," tandasnya.

Sumber
Kompas Edukasi 

Indischools Sebar 100.000 Titik "Wifi" di Semua Sekolah

SURABAYA, KOMPAS.com — Program Indischools (Indonesia Digital Schools) yang digagas PT Telkom bekerja sama dengan Kemendikbud RI menargetkan terbangunnya 100.000 instalasi titik wifi di semua sekolah di Indonesia hingga akhir 2013 nanti. Fasilitas wifi itu diharapkan mampu menunjang pola pengembangan pendidikan, khususnya pada kurikulum baru tahun depan. 

Sebanyak 100.000 titik wifi tersebut, kata General Manager Divisi Business Service Regional Jatim Firdaus Roeswandi, akan disebar di sekolah-sekolah mulai dari jenjang SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. 

"Di Jatim sendiri, fasilitas wifi kini tengah diinstal di 300 sekolah dari 17.500 titik sekolah yang ditargetkan," katanya, Sabtu (22/12/2012). 

Dia berharap, dengan kemudahan mengakses internet kecepatan tinggi (broadband) di lingkungan sekolah, para pengajar bisa menerapkan sistem pengajaran yang lebih mudah dan menyenangkan bagi pelajar maupun siswa. 

"Tapi, pengawasan dan pemantauan tetap penting dilakukan kepada siswa agar tidak menyalahgunakan penggunaan internet," tambahnya. 

Indischools adalah merupakan program Telkom di bidang pendidikan dari rencana Indonesia Digital Network (IDN) yang akan diimplementasikan sampai 2015. Melalui IDN, Telkom akan mewujudkan bangsa Indonesia yang maju, meningkatkan perekonomian bangsa melalui pemanfaatan teknologi informasi untuk mempercepat penetrasi akses broadband. 

Indischools tertuang dalam nota kesepahaman yang ditandatangani Direktur Enterprise PT Telkom M Awaluddin dan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Prof Dr Ainun Na'im, PhD dengan disaksikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh. 

Penandatanganan dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan Anugerah Ki Hajar (Kita Harus Belajar) di Jakarta, awal November lalu. SMA Negeri 5 Surabaya adalah sekolah pertama yang mulai kemarin sudah menerapkan program Indischools.

Sumber
Kompas Edukasi

Ini Pelatihan Guru, Bukan Bikin Film Kolosal...


JAKARTA, KOMPAS.com - Pelatihan guru dengan metode master teacher ini yang disiapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terkait dengan pelaksanaan kurikulum baru pada 2013 mendatang terus diragukan. Pelatihan yang akan dilakukan selama enam bulan ini dinilai sulit menuai hasil optimal.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Golkar, Ferdiansyah, mengatakan bahwa metode master teacher yang akan dilaksanakan oleh pemerintah tersebut disangsikan akan berhasil. Menurutnya, guru sendiri akan kesulitan jika kemudian harus menurunkan ilmu pada guru lain dalam jumlah yang banyak.

"Okay-lah untuk tahap pertama ini hanya ribuan saja guru yang harus dilatih. Tapi kan kalau yang dibilang menteri seperti multilevel marketing, berarti semakin ke bawah kan akan semakin banyak guru yang dilatih. Bisa jadi seorang guru mengajar ratusan guru. Ini pelatihan guru, bukan bikin film kolosal Saur Sepuh," kata Ferdiansyah saat dihubungi, Kamis (20/12/2012).

Ia juga mengaku keberatan jika guru ahli untuk program master teacher ini diambil berdasarkan nilai Uji Kompetensi Awal (UKA) dan Uji Kompetensi Guru (UKG). Menurutnya, hasil UKG yang berlangsung Agustus hingga November lalu tidak dapat dijadikan ukuran begitu saja.

"Pelaksanaan UKG juga masih banyak yang belum terlaksana dengan baik. Jika ngambilnya dari situ maka apa iya terus hasilnya baik," ujar Ferdiansyah.

Ia menambahkan bahwa untuk menjadi seorang guru ahli yang terpenting adalah mampu menyampaikan ilmu secara optimal pada anak didiknya bukan hanya sekadar mampu menjawab soal dan meraih nilai tertinggi saat uji kompetensi.

"Guru itu tidak cuma pinter ngerjain soal tapi harus bisa transfer ilmu pada peserta didiknya. Nah, sekarang ada guru yang ngajarnya bagus tapi gugup saat ngerjain soal atau masih gagap teknologi sehingga nilainya rendah. Lalu gimana ini? Tidak bisa uji kompetensi dijadikan standar begitu saja," tandasnya.

Sumber
Kompas Edukasi

Mau Dukung Petisi Tolak Perubahan Kurikulum?


JAKARTA, KOMPAS.com - Hingga saat ini, Koalisi Pendidikan bersama dengan Indonesia Corruption Watch (ICW) masih menanti dukungan publik untuk menandatangani petisi terkait penolakan perubahan kurikulum. Munculnya gagasan petisi ini diakibatkan dari langkah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dianggap tergesa-gesa dan tak mempunyai alasan kuat dalam merombak kurikulum.

Anggota ICW, Siti Juliantari, mengatakan bahwa petisi tersebut sudah ditandatangani sekitar 500 orang sejak mulai dilempar ke publik melalui situs change.org pada awal Desember lalu. Ia juga menjelaskan bahwa ajakan untuk ikut dalam petisi ini juga disuarakan melalui sosial media yaitu twitter.

"Target awal sekitar 5.000. Saat ini masih sekitar 500. Kami bergerak melalui jaringan dan juga media twitter," kata Tari, saat dihubungi, Kamis (20/12/2012).

Sayangnya, petisi ini masih belum diketahui kapan segera akan dirilis dan diserahkan pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ia mengaku hingga saat ini pihaknya masih terus membicarakan waktu rilis yang tepat dan terus menggalang massa.

"Masih dibicarakan terus untuk waktu rilisnya. Inginnya memang lebih cepat, jadi bisa buat orang lain tergerak," jelas Tari.

Seperti diketahui, Koalisi Pendidikan bersama dengan ICW, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) dan Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) menentang perubahan kurikulum yang dianggap mendadak ini. Untuk itu, tercetuslah membuat petisi online yang ditujukan bagi pihak kementerian dan dapat diakses masyarakat sejak tanggal 5 Desember.

Sumber
Kompas Edukasi

Kepala Sekolah Jangan Curang, Siswa Wajib Verifikasi





JAKARTA, KOMPAS.com - Sistem baru yang digunakan dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 ini dikhawatirkan dapat memunculkan kecurangan pada sekolah terkait dengan nilai siswa yang dimasukkan dalam Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS).

Ketua Umum Panitia Pelaksana SNMPTN 2013, Akhmaloka, mengatakan bahwa sekolah sudah diingatkan agar tidak melakukan kecurangan dalam pengisian PDSS karena akan berdampak pada siswa yang bersangkutan jika sudah diterima di perguruan tinggi yang diincar.

"Nanti kan akan kami cocokkan lagi dengan rapor aslinya. Kalau ternyata nilai di rapor asli 7, kemudian dari PDSS nilai jadi 8, ya akibatnya siswa tersebut harus mundur walaupun sudah diterima," kata Akhmaloka, saat dihubungi, Kamis (20/12/2012).

Namun ia memahami terkadang kesalahan data bisa juga disebabkan oleh human error. Oleh karena itu, siswa juga diberi waktu untuk melakukan verifikasi terhadap data yang diisikan sekolah dalam PDSS. Selama rentang waktu yang disediakan, siswa boleh mengubah nilai yang sesuai jika ternyata ada kesalahan sekolah dalam memasukkan data.

"Siswa juga harus verifikasi. Kalau tidak diverifikasi ya berarti datanya sudah benar. Karena saat masa verifikasi selesai, data yang masuk sudah tidak bisa diubah," ujar Akhmaloka.

"Jadi kalau misalnya guru salah memasukkan nilai, yang harusnya 7 tapi jadi 6, itu bisa diperbaiki saat verifikasi. Tapi kalau nilai asli 7 kemudian di PDSS jadi 8, siswa juga harus koreksi ya. Karena nanti efeknya pada siswa sendiri," tandasnya.

Sumber
Kompas Edukasi

48 SMA Masuk Daftar Hitam Universitas Brawijaya


MALANG, KOMPAS.com — Sebanyak 48 SMA di sejumlah daerah masuk daftar hitam Universitas Brawijaya  Malang, Jawa Timur. Sekolah-sekolah tersebut dinilai telah memalsukan data sehingga pada tahun ini mereka tidak mendapatkan jatah siswanya untuk masuk kampus tersebut
 "Tahun lalu, ke-48 SMA ini telah memalsukan data siswanya agar bisa diterima di UB (Universitas Brawijaya) melalui jalur undangan. Dari 48 SMA ini tidak satu pun yang berasal dari Kota Malang," kata Rektor UB Prof Dr Yogi Sugito di Malang, Kamis (20/12/2012).

Yogi mengemukakan, indikasi kecurangan dan pemalsuan data siswa tersebut diketahui ketika ada siswa yang berprestasi, tetapi tidak didaftarkan oleh sekolahnya. Namun, ada siswa (temannya) yang tidak berprestasi atau rangking justru didaftarkan dan diterima di UB.

Ia mengakui, tidak semua sekolah melakukan input data siswa yang salah itu dilakukan dengan sengaja. Ada yang sengaja dan ada pula yang tidak disengaja, tetapi UB tetap memasukkan sekolah tersebut dalam daftar hitam sehingga pada tahun ini tidak ada kuota untuk SMNPTN jalur undangan.

Sejumlah kriteria yang menjadi acuan itu di antaranya adalah berdasarkan rata-rata skor SMNPTN secara nasional, rata-rata indeks prestasi komulatif (IPK) siswa yang saat ini kuliah di UB, akreditasi sekolah bersangkutan serta popularitas sekolah berdasarkan data dari dinas pendidikan setiap daerah.

SMNPTN melalui jalur seleksi rapor (jalur undangan) tahun 2013 kuotanya akan diperbesar hingga 50 persen. Dan tahapan SMNPTN 2013 sudah dimulai dengan pengisian pangkalan data siswa (PPDS) sejak Senin (17/12/2012) hingga 8 Februari mendatang.

Sumber
Kompas Edukasi

Breaking News Desember III

Basket Putra
X1 vs XI IPS 5 dimenangkan XI IPS 5
Futsal Putra
X3 vs X6 dimenangkan X6 lewat adu penalti

Catatan : Pada pertandingan X3 melawan X6 berlangsung secara keras dan dan tensi tinggi. Akibatnya salah satu pemain X3 harus keluar lapangan terlebih dahulu setelah dihadiahi kartu merah.

Pengumuman
Diumumkan kepada siswa-siswi SMAN 1 Jetis Bahwa akan diadakan pelatihan eksebisi dari olahraga Flag Football yang diadakan oleh Jesaba Blue Sharks. Bagi yang berminat dapat menyaksikan pada hari Jumat tanggal 21 Desember 2012 pukul 08.00 WIB di Lapangan Sepakbola Jesaba.

Breaking News Desember II

Hasil Pertandingan Voli

XI IPA 2 vs XI IPS 3 dimenangkan XI IPA 2
X6 vs XI IPS4 dimenangkan XI IPS 4
XI IPS 1 vs XI IPS 5 dimenangkan XI IPS 5

Breaking News Desember I

Jesaba Games Info:
  1. Untuk Pertama kalinya Sebuah Classmeting di Bantul bahkan mungkin di Indonesia menggunakan sebuah Opening Ceremony.
  2. Classmeeting sempat ditunda 2 Jam karena para siswa diwajibkan untuk mengikuti seminar yang diadakan oleh TNI.

Pembina Osis Ikut Pembinaan Karakter Bangsa dan Bela Negara

Jurnas.com | SEBANYAK 350 orang guru dan pembina Osis (Organisasi Intra Sekolah) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mengikuti kegiatan pembinaan karakter bangsa dan bela negara, di Markas Komando (Mako) Pondok Dayung, Jakarta Utara, Selasa (11/12). Kegiatan ini dibuka oleh Komandan Komando Latihan Komando Armada RI Kawasan Barat (Dankolatarmabar), Kolonel Laut (P) Yudo Margono.

Dankolatarmabar mengatakan, kesadaran bela negara pada hakekatnya adalah kesediaan berbakti kepada negara dan berkorban membela negara. Spektrum bela negara itu sangat luas mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersama-sama menangkal ancaman nyata musuh bersenjata. Semangat bela negara ini mencakup sikap dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara.

“Bela negara merupakan tekad, sikap perilaku dan tindakan warga negara dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa negara yang dijiwai oleh kecintaan kepada NKRI,” katanya seperti dilansir dalam siaran pers Kadispen Koarmabar, Letkol Laut (KH) Agus Cahyono.

Menurutnya, bela negara merupakan fitroh manusia sebagai bentuk keserasian hubungan manusia dengan bumi tempat berpijak. Bela negara tidak pernah berubah dan mempunyai nilai yang selalu sama dari zaman ke zaman serta berbagai perubahan situasi dan kondisi yang terjadi.

Lebih lanjut, Yudo Margono mengatakan nilai yang tidak pernah berubah dari bela negara adalah sikap dan perilaku dalam bentuk pengabdian yang nyata kepada bangsa dan negara. Sedangkan yang berbeda adalah implementasinya. Jadi nilai yang sama dari bela negara adalah memberikan sesuatu kepada negara. Sedangkan yang dimaksud dengan implementasi bela negara adalah bagaimana cara bela negara itu diwujudkan.

Dankolatarmabar mengatakan nilai-nilai yang dikembangkan dalam bela negara adalah cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara. Yakin pada Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban bagi bangsa dan negara serta memiliki kemampuan awal dalam bela negara.

Salah satu strategi dalam membangun daya tangkal bangsa untuk menghadapi kompleksitas ancaman adalah melaksanakan revitalusasi pembinaan kesadaran bela negara kepada setiap warga negara. Strategi tersebut akan terwujud bila ada keterpaduan penyelenggaraan secara lintas sektoral sebagai wujud tanggung jawab bersama pembinaan SDM untuk mewujudkan keutuhan dan kelangsungan hidup NKRI.

Dankolatarmabar mengharapkan, ada kesepahaman bahwa pembinaan kesadaran bela negara sebagai upaya membangun karakter bangsa yang tak terpisahkan dari pembangunan nasional demi satu tujuan yaitu nasionalisme, cinta tanah air dan kedamaian.

Turut hadir pada kegiatan tersebut, Asisten Intelijen Pangarmabar Kolonel Laut (E) Hendrawan, Kadislambairarmabar Kolonel Laut (S) Darmansyah, Kadiskesarmabar Kolonel Laut (K) Dr. Ganesha Wandawa, drg, Sp.Perio, Sahli Pangarmabar Kolonel Laut (S/W) Endang Susilowati dan para Komandan Satuan Koarmabar.
 
Sumber

Pendidikan Politik Usia Dini Sangat Penting

Jurnas.com | PENDIDIKAN politik sejak usia dini dinilai sangat penting untuk dilakukan. Cara ini diyakini akan memberikan dampak positif sangat besar bagi generasi penerus bangsa. “Saya kita itu penting ya, bahwa negara itu harus dikenalkan kepada setiap warga negara sejak dini. Karena bagaimanapun negara sudah menjamin hak-hak semua warga negara sejak dalam kandungan. Karena harus kenal sejak dini bagaimana negara ini harus berjalan dan memenuhi kebutuhannya,” kata Pakar Hukum Tata Negara, Andi Irman Putera Sidin kepada Jurnal Nasional saat meninjau kegiatan parlemen cilik pada Stand DPD RI-Kidszona di Makassar, (9/12).

Sehingga, sambung Irman, para generasi penerus bangsa yang mengikuti pelatihan tata cara berparlemen bisa mengembangkan bakat dan kemamupuan diri secara benar dan tepat. Selain itu melalui pelatihan tersebut para anak yang berusia antara 7-15 tahun tahu bagaimana caranya untuk menyatakan pendapat di muka umum. “Jadi anak-anak itu bisa tahu bagaimana dia menyuarakan aspirasi teman-temannya, kawan-kawan, ataupun orang tua dalam sebuah forum,” sambung Irman.

Hal lain yang juga diperoleh anak-anak dengan pendidikan politik sejak dini adalah, mereka akan paham bagaimana tidak bersikap curang. Seorang politikus sejati, lanjut Irman, harus mampu mengimplementasikan sikap-sikap politiknya tanpa harus merugikan pihak lain meskipun tujuannya tetap harus tercapai. “Ini menjadi penting guna pendidikan politik yang minimal dia bisa pahami bahwa mengelola negara itu tidak boleh culas, tidak boleh curang, tidak boleh nyontek. Kira-kira begitu. Kalau mengerjakan ujian tidak boleh nyontek, tidak boleh suka meminta kepada temannya, tetapi harus memperbanyak memberi kepada orang yang lain,” lanjut Irman.

Hal terpenting yang harus diberikan kepada anak-anak terkait pendidikan berpolitik itu sendiri menurut Irman adalah tentang sikap mental dan moral. “Seperti misalnya dalam lingkungan dia harus bisa peduli pada lingkungannya. Dia harus bisa beri pertolongan bagi yang membutuhkan. Itu menjadi penting untuk mereka terus kembangkan. Terutama adalah kejujuran alami yang sekarang mereka masih miliki dan harus terus dipupuk. Ini yang paling penting buat pembelajaran,” tukas Irman.

Sekjen DPD RI, Siti Nurbaya Bakar yang ditemui menjelaskan bahwa pelaksanaan parlemen cilik tersebut bertujuan untuk memperkenalkan parlemen sebagai bagian dari proses politik di tanah air. Sejak Agustus 2011 hingga saat ini, Siti menilai pelaksanaan kegiatan tersebut telah memberikan dampak yang sangat positif kepada anak-anak. “Misinya sih untuk memperkenalkan parlemen Indonesia. Kalau yang saya ikuti sih pengenalan-pengenalan cara berparlemen seperti ini membentuk keberanian anak untuk mengaktualisasikan keinginannya, maupun menyampaikan ekspresinya. Saya kira akhirnya larinya ke manusia berkarakter. Jadi sangat bagus sekali,” kata Siti.

Melihat hasil yang sangat menggembirakan, Siti mengaku pihaknya sedang mempersiapkan agar kegiatan serupa bisa dilaksanakan pada kota-kota lain seperti Jakarta. “Iya, kita sedang mempersiapkan segala sesuatunya agar ini bisa dikembangkan pada daerah-daerah lain,” ucap Siti.

Yuli (40) seorang ibu yang anaknya mengikuti kegiatan parlemen cilik mengaku sangat mendukung agar kegiatan serupa ditingkatkan kedepannya. Menurut Yuli, puteranya yang bernama Sammy Andreas (7) menjadi lebih berani untuk mengutarakan isi fikirannya. Selain itu Yuli juga mengaku puteranya tersebut terlihat lebih percaya diri saat berhadapan dengan orang banyak. “Anak saya itu jadi lebih berani ngomong dengan orang banyak. Hanya saja kalau bisa frekuensinya lebih ditingkatkan lagi kegiatan ini,” katanya.

Sumber

Setop Jadi Guru, Jika Tidak?

Setop Jadi Guru, Jika Tidak?REPUBLIKA.CO.ID,  PARUNG -- Disela kesibukannya berusaha memberikan sumbangsih kepada dunia pendidikan, praktisi pendidikan, Asep Sapa'at mencoba untuk tidak pelit berbagi ilmu. Saat ini ia menanti publikasi buku yang mencerminkan pemikirannya.

"Judulnya, Stop Menjadi Guru, Jika Tidak..," kata dia kepada ROL, Rabu (12/12).

Ia menuturkan menjadi guru di Indonesia itu bukan pilihan. Sebab, ada kemungkinan banyak guru Indonesia memilih untuk mengajar di luar negeri. Sebabnya, yang terjadi saat ini adalah memutuskan jadi guru di Indonesia itu pilihan.

"Saya paham, bagaimana hidup menjadi guru. Buku itu perjalanan hidup saya, ada satu dorongan membuat guru jadi lebih baik," kata pria yang pernah menjadi guru itu.

Melalui buku itu, lanjutnya,  kalau tidak sanggup menjadi guru ya tidak usah. Profesi guru itu tidak terbatas pada kelas dan ruang tapi peranan lain, yang intinya berkaitan dengan pendidikan.

"Bagi saya, guru itu  pelaku kehidupan. Banyak guru yang garing. Tentu itu ada yang salah dari guru.  Disinilah, saya belajar, perbaiki diri, dan banyak pengalaman yang ingin dibagikan," kata dia.

Sumber


Jangan Hanya Meniru Pendidikan Luar Negeri...


JAKARTA, KOMPAS.com - Selama ini, pemerintah selalu menggaungkan untuk meningkatkan daya saing anak bangsa melalui pendidikan agar siap menghadapi tantangan globalisasi. Lantaran hal tersebut, pemerintah kerap menjadikan pendidikan di luar negeri sebagai acuan untuk memperbaiki pendidikan di tanah air.

Praktisi pendidikan dari Universitas Paramadina, Abduh Zein, mengatakan bahwa perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia bukan hanya sebatas untuk bersaing saja. Pasalnya, tantangan globalisasi sesungguhnya bukan semata-mata untuk persaingan.

"Sekarang selalu disebut untuk meningkatkan daya saing. Jangan berpikir mau bersaing saja. Karena bersaing ini mau tidak mau dipaksa melihat standar luar," kata Zein, saat focus group discussionMenyoal Kurikulum 2013 di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (14/12/2012).

Menurutnya, terlalu banyak intensitas pemerintah dan masyarakat membandingkan kemudian mengadopsi metode pendidikan dari luar membuat masalah yang sebenarnya terjadi di dalam pendidikan Indonesia sendiri tidak terselesaikan dengan tuntas.

"Bahkan jadi cenderung terabaikan. Tiap negara itu tidak sama. Boleh saja mengadopsi tapi harus tetap dilihat masalah utama di negara sendiri ini apa. Lihat dulu ke dalam," ujar Zein.

Ia memberi contoh bahwa Indonesia memiliki banyak sekolah pertanian baik dari jenjang sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Namun pada kenyataannya negara yang dikenal dengan negara agraris ini tidak mampu mengembangkan sektor pertanian dengan baik. 

"Bahkan bahan pokok kita sebagian besar masih diimpor. Ini karena terus melihat ke luar. Sehingga potensi dan ciri khas yang dapat dikembangkan dalam pendidikan jadi terabaikan," tandasnya.

Sumber
Kompas Edukasi

Kurikulum 2013 Ditolak


JAKARTA, KOMPAS.com- Forum Komunikasi Peduli Pendidikan Republik Indonesia (FKPPRI), yang beranggotakan pakar, praktisi, dan pengamat pendidikan menolak kurikulum 2013. Perubahan kurikulum dinilai tidak berdasarkan kajian yang menyeluruh.
"Belum ada riset dan evaluasi  yang mendalam dan sungguh-sungguh tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), baik berdasarkan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi maupun Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan," kata Koordinator FKPPRI Darmin Mbula dalam surat pernyataan sikap yang diterima, Senin (17/12/2012).
Kurikulum model KTSP yang dikembangkan berdasarkan pedoman dan rambu-rambu yang ditetapkan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) menghargai otonomi guru dan sekolah serta keanerakagaman budaya dan konteks setempat.
Kurikulum model KTSP memberi peluang bagi guru dengan harapan model KTSP dapat menjadi pedoman bagi  guru dalam menyusun silabus yang sesuai dengan kondisi sekolah dan potensi daerah masing-masing. Sedangkan kurikulum 2013 jelas tidak menghargai otonomi guru, sekolah, dan daerah.
Kurikulum 2013 amat sentralistik, bertentangan dengan semangat reformasi yang menghendaki desentralisasi, yaitu desentralisasi pengelolaan pendidikan agar dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan kondisi daerah.
Bukti nyata desentralisasi pengelolaan pendidikan ini adalah diberikannya kewenangan kepada sekolah untuk mengambil keputusan berkenaan dengan pengelolaan pendidikan, seperti tercermin dalam pengelolaan kurikulum, baik dalam penyusunan maupun pelaksanaannya di sekolah.
Sebaliknya, untuk kurikulum 2013, baik perencanaan maupun penyusunan silabus serta penyusunan dan penerbitan buku pelajaran ditentukan dan dilakukan oleh Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (sentralisasi).
Hal ini berdampak pada deprofesionalisasi guru dan mengabaikan konteks sosial budaya dari komunitas lokal yang amat ditekankan oleh model KTSP (2006).
Perubahan atau pergantian KTSP (2006) ke kurikulum 2013 tidak berdasarkan alasan yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan serta landasan hukumnya tampak mengada-ada sebagai rasionalisasi perubahan kebijakan.
Penyusunan Kurikulum 2013 tidak berdasarkan kajian yang mendalam dan transparan terhadap situasi yang  menjadi alasan kuat perlunya kurikulum 2013. Rumusannya amat sangat normatif berdasarkan spekulasi tanpa dukungan hasil riset dan ujicoba inovasi di lapangan.
Sosialisasi atau uji publik kurikulum 2013 tidak fair, hanya pada kalangan dan waktu terbatas, tidak disertai dokumen kurikulum yang dirancang, hanya dalam bentuk file powerpoint dan tergesa-gesa.
"Masyarakat tidak diberi ruang dengar pendapat, dan ada kesan 'dipaksakan', hanya sekadar legitimasi. Toh Pemerintah tetap akan memaksakan berlakunya kurikulum 2013. Masyarakat bingung seolah-olah dipaksa 'membeli kucing dalam karung', yang belum jelas alasan, tujuan, bentuk, dan isinya," papar Darmin.
Jumlah mata pelajaran dalam kurikulum 2013 dikurangi dengan maksud mengurangi beban belajar siswa, namun muatannya berlipat ganda karena mengikuti alur pikiran kompetensi inti dan jumlah jam pelajaran per minggu ditambah. Dampaknya adalah beban belajar siswa semakin berlipat ganda.
Selain itu, rumusan kompetensi inti tidak berdasarkan kajian mendalam dan hasil riset dan inovasi. Hubungan antara kompetensi inti dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran tidak koheren sehingga berdampak meningkatnya kepadatan kompetensi dan materi pada tiap mata pelajaran.

Sumber
Kompas Edukasi

Kerja Sama Telkom dan Disdikpora: Seluruh Sekolah di DIY akan Pasang Internet

JOGJA—Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY berupaya memperluas akses pendidikan melalui intenet. Keterbukaan teknologi canggih mendorong setiap pihak melakukan perubahan, termasuk dunia pendidikan.
Kepala Disdikpora Baskara Aji menyampaikan saat ini internet bukan lagi barang mewah, melainkan kebutuhan primer bagi setiap orang. Berangkat dari kebutuhan ini, Disdikpora menggandeng PT Telkom Tbk.
Regional Jawa Tengah dan DIY untuk menyelenggarakan jaringan internet melalui wifi di sekolah-sekolah. Kebijakan ini disebutnya dapat menjadi salah satu solusi pemerataan pendidikan maupuan pertukaran informasi disetiap daerah.
“Hal ini menjadi keinginan Sri Sultan Hamengku Buwono X  sebagai Gubernur DIY, mewujudkan cita-cita pendidikan berkualitas bagi masyarakat di DIY,” jelasnya saat melakukan penandatanganan nota kesepakatan kerja sama Program Penerapan Internet Indonesia Wifi Sekolah antara  Disdikpora DIY dengan PT Telkom Tbk Regional Jateng-DIY di Kantor Disdikpora, Jumat (14/12/2012).
Kerja sama ini disebutnya tidak hanya membuahkan hasil bagi anak didik, juga meringankan beban sekolah karena mendapat keringanan biaya jaringan internet. Sehingga dana yang ada dapat dipergunakan untuk kebutuhan pendidikan yang lain.
Aji mengatakan untuk menunjang jaringan internet yang akan dipasang PT Telkom Tbk, pihaknya akan melengkapi fasilitas pendukung seperti unit komputer. Pasalnya sampai saat ini Disdikpora masih memiliki sisa kontrak pemberian bantuan 150 unit komputer oleh Japan International Cooperation Agency (JICA).
Dalam kesempatan yang sama, General Manager PT Telkom Tbk Regional IV Jateng-DIY Aris Dwi Cahyanto mengatakan dunia pendidikan menjadi penggerak utama layanan internet di Indonesia. Dari data yang dimiliki BUMN ini, diketahui 60%-70% pengguna internet di Indonesia ialah mahasiswa dan pelajar.
“Karena itu, pendidikan menjadi fokus utama pengembangan teknologi informasi dan komunikasi kami,” terangnya. Pembelajaran melalui internet ini diyakininya dapat semakin memperkuat SDM lokal sehingga mampu bersaing dengan generasi muda negara lain.
PT Telkom, ujarnya juga selalu siap mendukung Kemendikbud RI dalam mengembangkan konten belajar berstandar unggul bagi seluruh sekolah melalui konten rumah belajar atau kelas maya.
Sumber