UU Pendidikan Tinggi Perkuat Posisi PTS

YOGYA (KRjogja.com) - Pemerintah menegaskan bahwa posisi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sejajar dengan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Selain itu hadirnya UU No. 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi akan semakin memperkuat keberadaan PTS yang selama ini dinilai beberapa pihak dianak tirikan oleh pemerintah. Hal ini ditegaskan oleh Sekretaris Dewan Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Ir. Nizam, M.Sc., Ph.D. pada Sosialisasi UU No. 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi di Balai Senat UGM, Kamis (18/11). Acara selain dihadiri pimpinan universitas dan fakultas juga hadir perwakilan beberapa PTS di Yogyakarta.

“Ini sekaligus menepis pandangan bahwa PTS dianak tirikan atau pemerintah hanya mengutamakan PTN saja,” tegas Nizam. 

Prinsip sejajar antara PTN dan PTS sebagaimana amanat UU Pendidikan Tinggi, kata Nizam, juga berlaku pada pengalokasian anggaran. Nizam menambahkan hadirnya UU Pendidikan Tinggi bukan untuk menggantikan UU Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang telah dibatalkan MK tetapi sekaligus diharapkan akan mampu menjawab tantangan pendidikan yang semakin kompleks. 

“Karena di dalamnya memang ada semangat perluasan dan jaminan akses pendidikan bagi warga negara,” kata Nizam yang juga dosen di jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan UGM itu. 

Di dalam UU Pendidikan Tinggi juga menekankan pentingnya kompetensi dan kualifikasi lulusan dari perguruan tinggi dan bukan semata-mata ijazah. Sementara itu UU Pendidikan Tinggi juga berusaha untuk terus membangun keseteraan, misalnya terkait keberadaan politeknik atau vokasi. 

“Dulu khan lulusan politeknik atau vokasi itu tidak dilirik dan diapresiasi termasuk dari industri. Padahal lulusan dari politeknik maupun sarjana sama-sama diperlukan,” urai Nizam.

Untuk itu seiring dengan tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompleks seperti menyangkut kualitas SDM maupun perluasan dan jaminan akses pendidikan, maka pemerintah berkomitmen melakukan ekspansi dan terobosan agar pendidikan tinggi di Indonesia semakin unggul dan kompetitif. 

Pada kesempatan itu Nizam juga sepakat atas isi amar putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam pembatalan UU BHP, yaitu tidak boleh ada lagi penyeragaman bentuk lembaga pendidikan, pemerintah yang harus bertanggung jawab terkait keuangan penyelenggaraan pendidikan serta tidak ada lagi liberalisasi dan komersialisasi pendidikan. 

Sementara itu Rektor UGM, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc mengatakan UGM bersama 6 PTN lainnya seperti UPI, IPB, USU, Unair, UI, dan ITB saat ini tengah menyiapkan draft statuta terkait disahkannya UU Pendidikan Tinggi tersebut. Statuta ini menurut Pratikno cukup penting karena sebagai pondasi dasar dalam merumuskan kebijakan universitas. 

“Draft statuta bersama enam PTN lain saat ini tengah kita kaji,” kata Pratikno. (Humas UGM/Ndw)
 
Sumber

Film Pendek Simbol Eksistensi Kawula Muda

Jurnas.com | Dikalangan anak muda, film ternyata bukan sekedar sebuah karya seni audio visual. Namun lebih dari itu, film pun kini sudah dianggap sebagai bentuk eksistensi di masyarakat.

Setidaknya itulah pandangan dari sineas kawakan 'bertangan dingin' Hanung Bramantyo. Menurut pria yang kerap melahirkan film berkualitas, dunia film, seperti film pendek maupun film indie, telah menjelma menjadi bagian terpenting di kalangan anak muda.

Hanung mengatakan, film pendek pun merupakan sarana atau medium anak muda untuk menunjukan eksistensi serta jati mereka.

"Jadi film bukan lagi sekedar karya seni, tapi sebagai eksistensi anak muda," kata Hanung yang sukses menggarap film "Ayat-Ayat Cinta" dalam acara jumpa pers di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama komunitas Apresiasi Film Pendek Indonesia 2012, Jumat (19/10).

Selain sebagai sarana eksistensi, film pendek, lanjut pria kelahiran Jogja 1 Oktober 1975. 

ini, film juga merupakan sebuah kejujuran untuk menyeruakan hati nurani, dalam menyikapi berbagai realita kehidupan. 

Menurut Hanung, kegiatan memproduksi film pendek memang patut diapreasi serta didukung berbagai pihak terkait, terutama yang peduli dengan nasib anak muda Indonesia. 

Terlebih, kata pria jebolan jurusan Film Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, anak muda saat ini banyak mendapat stigma negatif, karena kurangnya wadah untuk menyalurkan energi serta kreativitas mereka ke dalam kegiatan yang positif, salah satunya membuat film pendek.

Sumber

Pak Menteri, Berpikirlah Dahulu Sebelum Berucap...

JAKARTA, KOMPAS.com — Orangtua ASS, siswi korban penculikan dan kekerasan seksual oleh sindikat di Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, benar-benar menyesali pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh. Kekecewaan karena insiden yang menimpa ASS, putri mereka, bertambah lagi.

Belum usai rasa penyesalannya pada Yayasan Budi Utomo, tempat sekolah anaknya yang dulu sempat mencemooh dan mengusir ASS dari kelasnya, kini siswi kelas IX itu pun menerima komentar tak sedap dari Mendikbud.

"Saya kecewa dan marah pada Bapak Menteri. Saya tidak takut menyatakan ini, Pak! Harusnya sebelum mengucap sesuatu, Bapak berpikirlah dahulu. Dia anak saya, korban, Pak! Bukan pelaku," seru RG, ibu ASS, dalam konferensi pers di Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA), Selasa (16/10/2012).

"Bapak tahu enggak? Pernah enggak Bapak menanyakan sendiri kepada kami? Kenapa Bapak menyatakannya langsung di depan publik bahwa anak kami melakukannya karena 'suka sama suka'?" tambahnya ketika didampingi suaminya, ASS, dan Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait.

Menurutnya, pemerintah seharusnya memberi semangat dan dukungan terhadap keluarga korban. Namun, ironisnya, pemerintah malah melakukan penghakiman terhadap korban dan sekaligus keluarga korban.

"Kami cukup menderita, Pak. Apakah media tahu bahwa selama itu dia (ASS) dipukuli, enggak dikasih makan, diberi obat-obatan selama satu minggu biar dia hilang ingatan, tak ingat keluarganya. Pernahkah Bapak menanyakan sendiri kepada Yogi si pelaku itu bahwa anak saya yang suka diperlakukan demikian?"

"Saya meminta kepada Bapak. Anak saya juga berhak mendapat pendidikan di Indonesia. Saya melakukan ini biar anak-anak yang juga mengalami kasus yang sama dengan anak saya, mereka tidak mengalami kasus yang saya alami. Saya harap bapak pertimbangkan atau meralat perkataan Bapak? Bapak punya anak tidak? Bapak Menteri pasti tahu rasanya seperti apa?" ungkapnya.

ASS juga kesal

Setelah sekian lama bungkam, ASS kali ini ikut angkat bicara. Dia menyampaikan kekecewaannya dalam kesempatan yang sama.

"Saya marah, saya enggak terima. Masa iya saya mau diperkosa, mau dipukuli orang. Saya enggak suka dibilang melakukan suka sama suka," ungkap ASS.

Remaja berusia 14 tahun yang mengenakan topeng saat konferensi pers itu mengaku kecewa seusai membaca pernyataan Mendikbud yang mengindikasikan dirinya bersalah dari salah satu media cetak.

"Saya tahu dari baca koran, saya enggak terima dan kecewa. Saya cuma pengin kembali lagi ke keluarga seperti biasa. Pengin diterima di masyarakat," kata siswi kelas IX itu.

Sementara itu, Komnas PA sudah mengirimkan surat petisi online yang secara langsung diarahkan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh pada Senin (16/10/2012). Surat yang diunggah melalui situs change.org itu meminta M Nuh untuk melakukan permintaan maaf kepada pelaku dan keluarga korban serta mengakui kesalahannya kepada publik.

Sumber
Kompas Edukasi 

Sekolah Swasta Minta Pemerintah Adil

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekolah swasta di Indonesia menginginkan perhatian dari pemerintah dalam mendukung pengembangan manusia ke depan. Salah seorang peserta diskusi, Merly dari sebuah SMA swasta di Jakarta Pusat merasakan, adanya kesenjangan fasilitas antara sekolah swasta dan negeri yang harus segera diatasi. 

Padahal menurutnya, UU No 22/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 55 ayat (4) memutuskan pemerintah mewajibkan untuk memberikan bantuan yang sama bagi sekolah-sekolah swasta, baik umum maupun madrasa, dalam memperoleh bantuan fasilitas, mulai dari guru pengajar, gedung sekolah, buku-buku pelajaran sampai bahan pendukung pendidikan lainnya.

"Tetapi realita, sekolah swasta pesimis dan ini membuat ketakutan bagi kita semua, bahwa dalam segi donasi pemerintah masih tidak adil. Masa, di sekolah negeri, siswa sudah diberi dana miskin, bahkan masuknya melalui rekening anak. Kita semakin khawatir, mau pemerintah itu seperti apa? Sedangkan sekolah swasta sudah dianak-tirikan. Mengajukan dana saja berbelit-belit caranya," ungkap Merly di hadapan peserta seminar yang terdiri dari kepala atau perwakilan SMA Swasta se-Jabodetabek dalam diskusi 'Tranformasi Pendidikan Menghadapi Era Globalisasi' di SMA Santa Theresia, Rabu (17/10/2012).

Atas peristiwa itu, para pembicara juga setuju dan untuk sementara hanya sekadar menyarankan dan mengingatkan bahwa tanggung jawab pendidikan itu ada pada tiga pilar yaitu pemerintah, dunia usaha, dan publik atau masyarakat.

"Jadi tak ada cara lain yaitu selain dana yang bersumber dari siswa atau CSR, dan metode yang bisa dilakukan adalah subsidi silang kalau ingin mencapai swadaya sekolah," ujar Direktorat Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan, Razali Ritonga.

Adapun Guru besar Ekonomi Universitas Pembangunan Jaya Mayling Oey Gardiner menambahkan, pemerintah juga tetap memberikan bantuan, sebab menurutnya dengan semakin banyak orang yang diberi dari pemerintah, maka semakin ada rasa kecintaan dan pengabdia pada negeri.

"Jadi harus tetap ada bentuk perhatian dari pemerintahj terhadap sekolah swasta, yaitu untuk pembentukan diri. Tetapi kalau tidak ada perhatian, maka khawatir tidak ada sosial return untuk mengabdikan kepada negeri," kata Oey.

Sumber
Kompas Edukasi 

Diakui Sekolah, Senyum Fikri Kembali Mengembang...

JAKARTA, KOMPAS.com - Dengan senyum mengembang, Fikri Nuari (13) duduk di teras Kantor Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Perasaannya lega bercampur senang karena sekarang dirinya dan enam teman lainnya telah diakui kembali oleh sekolah induknya yaitu SMP Negeri 28 Jakarta.

"Seneng karena nanti bisa ke sekolah. Terus nggak banyak ongkos juga karena bisa jalan kaki," kata Fikri pada Kompas.com ketika dijumpai di Kantor Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (17/10/2012).

Seperti diketahui, Fikri dan keenam teman lainnya yang duduk di bangku kelas VII ini belajar di Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM) Johar Baru. Setiap Senin hingga Kamis, anak-anak dari keluarga tidak mampu ini belajar di rumah guru TKBM dan hanya pada Jumat serta Sabtu efektif belajar di sekolah.

Sebelumnya, tujuh anak yang menuntut ilmu di bawah naungan TKBM Johar Baru akan dipindahkan ke SMP Negeri 79 Jakarta. Namun karena setelah disurvei lokasinya terlalu jauh, maka Dinas Pendidikan DKI Jakarta akhirnya mau mengembalikan sekolah induk TKBM Johar Baru ke SMP Negeri 28 Jakarta lagi.

Hal serupa juga diungkapkan oleh guru TKBM Johar Baru, Helmi Ariestiani. Ia berharap agar dengan diterimanya anak-anak kelas VII ini, hubungan dengan SMP Negeri 28 Jakarta dapat terjalin dengan baik.

"Tentunya lega. Anak-anak mendapat haknya kembali. Tapi semoga ini bukan omongan saja, ada realisasinya," ungkap Helmi.

Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini 15 siswa yang duduk di kelas IX juga tak berkesempatan untuk belajar di sekolah sejak SMP Negeri 28 Jakarta direnovasi. Namun untungnya, para siswa ini masih mendapat dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) dan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak seperti adiknya yang kelas VII.

"Besok kami akan bertemu dengan pihak SMP Negeri 28 Jakarta untuk memperjelas kesepakatan yang ada ini," tandasnya.
 
Sumber

Cooming soon ! Tribun Jogja PAF 2012


 

Waktu pembuktian sekolahmu sudah semakin dekat. Seperti air yang mengalir , tidak terasa waktu yang ditunggu-tunggu oleh para pelajar putih abu-abu di Yogyakarta dalam menantikan hadirnya Tribun Jogja Putih Abu-Abu Futsal 2012 akan dimulai pada tanggal 1 Agustus 2012. Para calon peserta sudah dapat mendownload formulir dan persyaratan  peserta di website resmi Putih Abu-Abu Production.

Pagelaran yang akan memasuki tahun ke 4 ini akan menjadi event futsal terbesar yang pernah ada di Yogayarta. Tidak tanggung-tanggung target yang diusung oleh Tribun Jogja Putih Abu-Abu Futsal 2012 ini adalah 45.000 penonton selama berlangsungnya kegiatan ini. Berbagai sajian baru akan ditampilkan oleh seluruh komponen yang tergabung di dalam Tribun Jogja PAF 2012 ini.

Pengumpulan berkas pendaftaran yang akan dilaksanakan pada tanggal 10-22 September 2012 akan menjadi langkah awal dalam menyeleksi calon peserta yang akan menentukan kesuksesan Tribun Jogja PAF 2012. “Dengan semakin berkembangnya kualitas dan kapabilitas Putih Abu-Abu Futsal , maka kami akan menjanjikan ini lah event futsal paling besar dan mengesankan bagi panitia , peserta dan penonton PAF , saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak terutama sponsor-sponsor yang akan membantu kami dalam menyukseskan kegiatan ini.” Imbuh Theodorus Danang selaku pendiri PAF maupun penanggungjawab utama dalam Tribun Jogja PAF 2012 ini.

  Setelah pengumpulan berkas-berkas pendaftaran yang dilakukan oleh para peserta dan kemudian akan diseleksi oleh panitia , pada tanggal 29 September 2012 akan diumumkan daftar peserta Tribun Jogja PAF 2012 bertepatan dengan launching Tribun Jogja PAF 2012 yang akan dilakukan di SMA Muhammdiyah 2 Yogyakarta. Kegiatan akan diteruskan dengan program roadshow ke beberapa sekolah terpilih untuk mempromosikan Tribun Jogja PAF 2012 dibarengi dengan adanya penjualan tiket terusan Tribun Jogja PAF 2012 yang ditujukan untuk para penggemar sejati Putih Abu-Abu Futsal.

Sumber

Pesantren Tebu Ireng Gelar Lomba Karya Tulis


SURABAYA, KOMPAS.com - Unit Penerbitan, Lembaga Sosial dan Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jatim, menggelar lomba karya tulis ilmiah dalam rangka memperingati tiga tahun wafatnya K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Ketua Panitia lomba sekaligus Pengasuh Ponpes Tebu Ireng Jombang, K.H. Salahudin Wahid, di Surabaya, Selasa, mengatakan tujuan lomba dengan sasaran peserta tingkat pelajar/santri SLTA dan tingkat mahasiswa ini, adalah menggali masalah-masalah keumatan, kebangsaan yang masih menjadi masalah aktual dan mendesak untuk dicari pemecahannya.
"Masalah-masalah ini menjadi bagian dari masalah bangsa dan umat Islam yang menjadi kepedulian Gus Dur dan kita semua," ujar adik kandung Gus Dur ini, Selasa (16/10/2012).
Menurut dia, Guna menggali masalah-masalah tersebut sekaligus diberikan solusinya, maka lomba karya tulis ilmiah ini menentukan tiga tema. Pertama, Tantangan Kerukunan Umat Beragama di Indonesia dan Pemecahanya.
Tema ini, kata dia, cukup menarik karena di Indonesia masih muncul fenomena-fenomena keberagamaan. "Kita lihat nanti, apa saja tantangan yang dimunculkan dalam tulisan para peserta dan apa solusi yang ditawarkan," ujarnya.
"Sedangkan, tema kedua yakni Mencari Titik Temu Islam dan HAM Universal di Indonesia," katanya.
Ia mengatakan masih banyak hal yang belum ada pemecahannya antara hal-hal universal dan hal agama. Ia ingin melihat, apa saja hal-hal yang muncul antara Islam dan HAM, kira-kira ada titik temunya atau tidak.
Adapun tema terakhir adalah Bentuk Ideal Peran Organisasi NU di Bidang Politik. Pada tema ini, diulas bagaimana seharusnya peran politik NU di tingkat daerah dan pusat, apakah kebangsaan, kekuasaan atau politik kepartaian.
"Saya berharap, waktu dua bulan cukup bagi peserta untuk menghasilkan tulisan-tulisan ilmiah yang bermanfaat bagi negara. Panitia menunggu materi penulisan mulai 17 Oktober-15 Desember 2012.
Pemenang lomba karya tulis dengan hadiah total Rp16 juta ini, akan diumumkan pada 15 Januari 2012. "Mudah-mudahan, tulisan para pemenang nanti bisa dibukukan. Apabila hasil pemikirannya bagus, bisa disosialisasikan dan dijadikan acuan," katanya.
Bahkan tidak menutup kemungkinan, lanjut dia, hasil karya dari peserta lomba bisa menjadi rekomendasi yang akan diberikan kepada pihak-pihak terkait seperti Kementerian Agama, Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) dan lainnya.

Sumber
Kompas Edukasi                              

Menjadi Penonton atau Pemain di Panggung?


 

KOMPAS.com - Sabtu sore, ketika sebagian orang tengah menikmati akhir pekan, Onno Widodo Purbo berceramah penuh semangat. Di depan seratusan peserta seminar, pakar teknologi informasi dan telekomunikasi ini berupaya menggugah kesadaran mereka untuk berani melawan kemapanan.

Di lantai dasar, para pengunjung berseliweran. Sebagian menikmati gelar wicara (talk show) di panggung terbuka dan sebagian lain sibuk mencobai berbagai teknologi interaktif yang ditawarkan para peserta pameran.

Inilah bagian dari Computer Festival 2012 yang diselenggarakan mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI). Berlangsung di gedung Perpustakaan Pusat UI Depok selama dua hari, 13-14 Oktober, acara ini mencoba mendekatkan pengetahuan di bangku kuliah dengan perkembangan teknologi informasi di dunia nyata, memacu kreativitas, sekaligus bersikap kritis melihat kondisi saat ini.

Mandiri berkomunikasi

Dalam ruang seminar di lantai 6, Onno sibuk memprovokasi hadirin. Dengan tema ”Open Base Transceiver Station (BTS)”, ia tidak hanya memperkenalkan apa itu BTS terbuka, tetapi juga membuka peluang kepada mahasiswa untuk belajar BTS terbuka di ICT Watch, lembaga advokasi berinternet sehat, tempat Onno menjadi penasihat.

BTS terbuka adalah suatu BTS untuk teknologi komunikasi seluler digital—dikenal sebagai Global System for Mobile-communication (GSM)—yang kini menjadi standar global untuk komunikasi seluler di seluruh dunia. BTS GSM yang berbasis peranti lunak ini memungkinkan pemilik telepon seluler saling berkomunikasi tanpa melalui jaringan operator komersial.

Merakit BTS terbuka berarti membangun operator seluler dengan harga yang jauh lebih murah. Kalau operator komersial Indonesia menggunakan perangkat BTS dengan harga Rp 1,5 miliar, BTS terbuka cukup bermodalkan perangkat seharga Rp 15 juta. Namun, alat ini perlu diganti antenanya dan ditambah amplifier agar jangkauan operasi bisa lebih luas. ”Total jadi Rp 150 juta, tetapi ini pun masih sepersepuluh harga BTS komersial,” kata Onno.

Hitung-hitungan penghematan terus berlanjut, berselang-seling dengan pengenalan perangkat BTS terbuka dan uji coba penggunaannya. Jika rata-rata seorang mahasiswa menghabiskan pulsa Rp 50.000 sebulan dan UI lebih kurang memiliki 40.000 mahasiswa, uang yang dibelanjakan untuk pulsa mencapai Rp 2 miliar sebulan.

”Kalau menggunakan open BTS, total pengeluaran seluruh UI hanya Rp 200 juta atau per mahasiswa Rp 5.000. Itu pun hanya sekali sebagai modal awal membeli alat. Untuk pemeliharaan dan operasional pasti jauh lebih murah lagi,” kata Onno.

Maka, Onno pun menantang hadirin yang sore itu memadati auditorium. ”Apa kita masih mau terus-menerus diperas operator? ITB sudah punya, kapan UI?”

Diskusi kreatif

Topik BTS terbuka hanyalah salah satu dari enam seminar selama Sabtu-Minggu lalu. Bertema ”Inovasi Teknologi Terbaru dan Pemanfaatannya”, topik lain yang juga dipenuhi pendengar adalah perdagangan elektronik, perkembangan media sosial, augmented reality, innovation of gamification, dan cloud computing. Yang membanggakan, sebagian besar pembicara masih berusia muda, tetapi dengan pengetahuan yang begitu dalam.

Dalam seminar tentang augmented reality, misalnya, ada Aditia Dwiperdana dari Agate Studio. Lulusan informatika ITB ini, bersama rekan-rekannya di Agate Studio, adalah pencipta smash mania, augmented reality game pertama di Indonesia.

Augmented reality adalah teknologi yang menggabungkan benda abstrak dunia maya dengan lingkungan nyata tiga dimensi. Dalam gim smash mania, pemain seolah-olah bertanding bulu tangkis dengan ponsel sebagai raket. Inilah sensasi baru gim di ponsel meski memainkannya belum seseru bulu tangkis yang sesungguhnya.

”Kelemahannya memang masih harus bolak-balik mengintip ke ponsel untuk melihat arah bola, baru memukul,” kata Dwiperdana.

Menurut Narendra Wicaksono, praktisi augmented reality yang juga menjadi pembicara, kehadiran berbagai teknologi ini membuka peluang besar bagi setiap orang untuk mengembangkan bisnis mandiri.

”Data tahun 2010 menunjukkan, pengunduhan games di seluruh dunia mencapai 2.500 juta dalam setahun dengan nilai 3.000 juta dollar AS,” katanya.

Banyak peminat

Peminat gim memang luar biasa. Di arena pameran, stan Mobile Games Developer War 4 Rookie selalu dipadati pengunjung. Mereka dilibatkan untuk memberikan suara terhadap karya para peserta lomba mobile games.

Bekerja sama dengan Nokia Developer dan Agate Studio, lomba ini diikuti 1.008 orang yang tergabung dalam 252 tim, dengan karya-karya yang kental rasa keindonesiaannya.

Ada gim panjat pinang dan balap karung yang biasa kita saksikan dalam perayaan kemerdekaan, lengkap dengan ikat kepala merah putih. Ada gim becak dan Si Malin yang mengadaptasi cerita rakyat. Setiap tim mendapat bimbingan untuk melalui berbagai tahapan standar agar menghasilkan gim yang layak jual.

Di sudut lain, ada stan karaoke online yang memungkinkan orang bernyanyi bersama dari lokasi berbeda-beda. Penyanyi terbaik dinilai berdasarkan ketepatan nada dan biramanya. Semua asli buatan Indonesia.

”Kami ingin mengedepankan inovasi anak bangsa sesuai dengan tema tahun ini: ’Advancing the Atmosphere of Innovation and Education’,” kata Ikhsan Rahardian, mahasiswa Fasilkom UI angkatan 2010, Project Officer Computer Festival 2012.

Tema itulah yang kemudian diwujudkan dalam empat jenis kompetisi—robotics, perancangan web, mobile games, dan programming—pameran yang diisi 22 stan, seminar dengan 11 pembicara, dan roadshow ke beberapa SMA.

Inilah langkah nyata membangun kedaulatan. Namun, seperti kata Narendra, ”Pilihan ada di tangan kita. Mau menjadi penonton atau pemain di panggung?”

Sumber

Budaya Cium Tangan Guru Akan Digalakkan Lagi

Jurnas.com | BUDAYA siswa madrasah yang mencium tangan guru sebelum masuk kelas layak digalakkan kembali. "Budaya siswa cium tangan guru ini merupakan bagian dari konsep baru yang sedang dikembangkan Kementerian Agama, yang dikenal dengan sebutan desain tri konsep bina siswa," kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Gorontalo, Muhajirin Yanis, Senin (1/10).

Dia mengatakan, tiga konsep pembinaan yang menjadi satu kesatuan ini meliputi pembinaan intelektual, potensi siswa serta akhlak dan mental mereka.

Menurutnya, desain pendidikan ini merupakan strategi menyikapi gempuran perubahan pendidikan yang mengglobal, serta penangkal terjadinya kemorosotan moral umat yang kian terjadi dewasa ini.

Muhajirin mengharapkan, konsep ini dapat menciptakan madrasah yang berkarakter, inovatif, berkompetensi dan menjadi lokomotif bagi madrasah lainnya. "Terjadinya perubahan pola pendidikan termasuk dalam proses pembelajaran saat ini telah banyak mempengaruhi karakter para anak didik kita. Karena itu perlu memberikan pembinaan kepada mereka melalui tri konsep bina siswa," ujarnya.

Konsep ini akan diterapkan di seluruh madrasah tingkat menengah pertama dan menengah atas yang ada di Gorontalo. Antara

Sumber

Wapres : Revitalisasikan Gerakan Pramuka

Jurnas.com | Wapres Boediono mengatakan, kegiatan Pramuka adalah satu jalur utama untuk membentuk karakter mulia putra-putri Indonesia sehingga kegiatan kepramukaan tidak boleh hanya sekedar kegiatan sampingan atau formalitas yang kosong isinya. Kegiatan pramuka harus terus direvitalisasi.

"Kegiatan Pramuka harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan bagi putra-putri kita, mulai dari usia dini," kata Wapres saat membuka Raimuna Nasional X di Bumi Perkemahan Cenderawasih Phokela, Jayapura, Rabu (10/10) sebagaimana dikutip Antara.

Raimuna adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega dalam bentuk perkemahan besar. Raimuna Nasional yang berlangsung 8-15 Oktober 2012 dan diselenggarakan empat tahun sekali itu, diikuti 3.689 pramuka dari 33 provinsi. Turut hadir pada acara tersebut, Menpora Andi Mallarangeng, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Azrul Azwar, dan pejabat Gubernur Papua Syamsul Rivai.

Raimuna Nasional X mengangkat tema "Pramuka Indonesia Bersama Membangun Tanah Papua". Kegiatan yang dilakukan antara lain kegiatan seni budaya, ketrampilan, bakti masyarakat dan alam terbuka.

Wapres mengatakan, Gerakan Pramuka harus menjadi bagian dari kurikulum utama dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh di sekolah-sekolah di Tanah Air.

"Revitalisasi Gerakan Pramuka menuntut komitmen kita semua. Saya minta, seluruh jajaran pimpinan, pembina, dan anggota Pramuka mulai dari Gugus Depan hingga Kwartir Nasional dan dibantu oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, serta masyarakat, mengambil peran aktif dalam ikhtiar nasional ini," kata Wapres.

Sumber

Ekstrakurikuler Disepelekan, Tawuran Merajalela

Jurnas.com | KOMUNITAS Salam Jari Kelingking mengkritisi kebijakan yang banyak dilakukan di sejumlah sekolah yang menjalankan program ekstra kurikuler tanpa arah yang jelas sehingga terkesan sekadarnya saja.

Meski terlihat sepele, hal tersebut dinilai turut menjadi cikal bakal maraknya praktik tawuran di kalangan pelajar. “Secara alamiah, harus disadari bahwa masa muda itu adalah masa-masa mencari wadah berekspresi. Pemuda itu suka melakukan hal-hal yang dianggapkeren dan membuat bangga. Ini harusnya adalah peran ekstra kurikuler di sekolah. Tapi yang ada kan program ekskul di sekolah cenderung disepelekan. Dananya pas-pasan. Pelaksanaannya juga terkesan sekadarnya saja. Maka wajar kalau pemuda-pemuda mencari pelampiasan di luar,” ujar koordinator Komunitas Salam Jari Kelingking, Nanda Putra, di Jakarta, Minggu (14/10).

Pernyataan tersebut diampaikan Nanda di sela aksi yang digelar Komunitas Salam Jari Kelingking dengan membawa bendera berukuran raksasa di Bundaran Hotel Indonesia (HI), pada Minggu (14/10) pagi, di tengah ramainya masyarakat yang menikmati program Car Free Day di sekitar kawasan tersebut.

Awalnya, menurut Nanda, kegiatan ekstra kurikuler memang diadakan untuk mewadahi kreatifitas dan semangat para pelajar dalam berekspresi. Namun kerap kali di banyak sekolah, eksistensi kegiatan ekstra kurikuler tersebut acap disepelekan dengan tidak adanya dukungan dana yang memadai dan juga ketersediaan pembina yang mumpuni.

Kalau memang diperlukan, lanjut Nanda, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) perlu membuat kebijakan dan arahan khusus untuk mengatur pelaksanaan ekstra kurikuler di semua sekolah di Indonesia.

Dengan demikian, diharapkan manajemen program ekstra kurikuler tidak lagi acak-acakan dan dapat secara maksimal mewadahi kreatifitas dan ekspresi pelajar. “Kami sih kurang paham masalah kebijakan-kebijakan. Sudah ada pemerintah yang lebih berkompeten masalah itu. Yang kami tahu, wadah-wadah kreatifitas pemuda di sekolah ini perlu diperbanyak. Jangan kesannya saja banyak untuk gaya-gayaan saat penerimaan siswa, tapi ternyata pengelolaannya nggak jelas. Kalau (ekskul) ini bisa dijalankan maksimal, kami yakin dampaknya akan besar untuk mengurangi praktik tawuran,” tegas Nanda.

Sumber

FSGI Tuntut Mendikbud Mundur


JAKARTA (KRjogja.com) - Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti meminta Mohammad Nuh mundur dari jabatannya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudataan terkait pernyataanya dalam kasus perkosaan yang menimpa siswi SMP di Depok, Jawa Barat.


"Sebagai seorang menteri, seharusnya M Nuh mempelajari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 mengenai Perlindungan Anak. Regulasi itu menegaskan setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi sesuai martabat mereka sebagai manusia, dan harus dilindungi dari kekerasan dan diskriminasi," paparnya dalam konferensi pers di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (14/10).

Retno menuturkan, sikap pemimpin yang cenderung menyudutkan, menghukum, dan mempermasalahkan korban kekerasan seksual, justru akan menyebarluaskan sikap tidak bertanggung jawab dari para pelaku. Karena itu, menuntut M Nuh mencabut pernyataan yang menyudutkan dan merendahkan siswi korban perkosaan di Depok.

"Kedua, FSGI menuntut M Nuh meminta maaf kepada korban, keluarga korban, dan masyarakat Indonesia atas pernyataan yang sangat merendahkan korban," ujarnya. (Ati)

Sumber
KR Jogja

Sejak Dini Harus Diperkenalkan

Ratusan Siswa SMA Mogok UTS


SALATIGA (Krjogja.com)- Ratusan siswa di SMA Negeri 2 Salatiga, Senin (15/10) mohok untuk mengikuti ujian tengah semester (UTS). Aksi ini buntut dari kebijakan pihak sekolah menerima kembali seorang siswa bernama Guruh Nur Izroil yang telah dikeluarkan diduga karena kasus perkelahian.


Dari pantauan wartawan di lokasi SMA Negeri 2 Salatiga, sejak pukul 07.00 WIB ratusan siswa tidak bersedia mengikuti UTS karena mereka kecewa dengan sikap pihak sekolah yang menerima kembali seorang siswa yang “nakal” dan merugikan nama baik.

“Kami kecewa dengan kebijakan kepala sekolah yang mengembalikan Guruh bersekolah kembali padahal sudah dikeluarkan dengan kasus perkelahian,” ujar seorang siswa yang mengaku bernama Anto (16) kepada wartawan.

Aksi ratusan siswa ini dilakukan di dalam pagar sekolah dan mereka berteriak lantaran mengecam kebijakan yang diduga karena ada “tekanan” dari pejabat lebih tinggi sehingga siswa  tersebutyang divonis nakal dan dikeluarkan, lalu bisa kembali lagi bersekolah. “Caranya begini, kami semua dianggap apa,” teriak siswa lainnya.

Hingga pukul 08.20 WIB, aksi ini belum selesai dan masih dilakukan dialog antara Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Salatiga, Purwanto, pejabat Dinas Pendidikan Pemuda Olahraga (Disdikpora) Salatiga dan Kesbangpolinmas Kota Salatiga. “Masih dilangsungkan dialog,” ujar sumber Krjogja.com di SMA Negeri 2 Salatiga. (Sus)

Sumber

Deklarasi Damai Bantul, Siswa “Nakal” Dikumpulkan


BANTUL—Prihatin dengan maraknya aksi kekerasan di kalangan pelajar, Dinas Pendidikan Menengah dan Formal (Dikmenov) Bantul akan menggelar deklarasi damai satu keluarga.
“Dikmenov akan mengadakan acara besar-besaran untuk mengondisikan para pelajar,” kata Kabid Menengah Atas Dikmenov Bantul, Sukarjo, kepada Harian Jogja, Jumat (12/10/2012).
Sukarjo menjelaskan, setiap pelajar yang cenderung nakal di masing-masing SMA dan sederajatnya akan dikumpulkan untuk menghadiri deklarasi tersebut.

Deklarasi damai tahap pertama rencananya akan diselenggarakan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) atau SMK N 3 Kasihan pada Kamis (18/10).
Adapun deklarasi tahap kedua akan diselenggarakan pada Selasa (30/10). Sementara, lokasinya diperkirakan di lapangan Paseban (depan Komplek Parasamya Pemkab Bantul).
Untuk deklarasi damai tahap kedua, Bupati Bantul Ida Surya Widati yang akan langsung menabuh genderang perdamaian antarpelajar dari kalangan SMA dan sederajatnya.
“Para siswa yang cenderung nakal itu akan diberikan pembinaan psikologi dan motivasi agar mampu menorehkan prestasi di dunia pendidikan,” terang Sukarjo.
Sumber