Guru Mendadak Diminta UKG Tahap 3


JAKARTA, KOMPAS.com - Guru-guru di berbagai daerah mendadak dipanggil, untuk ikut uji kompetensi guru tahap ketiga. Padahal, pelaksanaan uji kompetensi guru yang disosialisasikan pada kalangan guru bersertifikat, dilakukan dalam dua tahap yang berakhir pada 2 November lalu.
Iwan Hermawan, guru SMA negeri di Kota Bandung, Jumat (9/11/2012), mengatakan, dia yang memutuskan untuk memboikot uji kompetensi guru (UKG) sejak tahap pertama, pada Jumat ini mendapat surat panggilan ujian dari Dinas Pendidikan Kota Bandung.
"Guru-guru yang boikot dipanggil lagi untuk ikut ujian. Kami konsisten untuk boikot," kata Iwan, yang juga Sekretaris Jenderal Federasi Guru Independen Indonesia.
Dalam surat Dinas Pendidikan Kota Bandung disebutkan, para guru dipanggil untuk ikut UKG tahap 3 bagi guru dan pengawas. Ujian dilaksanakan pada 12-14 November.
Retno Listyarti, guru SMA negeri di Jakarta, mengaku kaget mendapat undangan panggilan UKG tahap 3 pada Senin lalu pukul 10.00 WIB. Dia dijadwalkan ujian online pukul 13.30 WIB pada hari yang sama.
"Saya memang memboikot UKG. Sebab, pelaksanaan UKG kacau dan tidak jelas tujuannya. Apalagi, panggilan mendadak. Guru-guru dirugikan," kata Retno.

Sumber
Kompas Edukasi

Mendikbud Targetkan 100 Politeknik Hingga 2015

SAMPANG, KOMPAS.com - Mendikbud Mohammad Nuh menargetkan pendirian 100 politeknik baru hingga tahun 2015, karena Indonesia membutuhkan jutaan "skill workers" (tenaga terampil) saat masuk "tujuh besar" negara maju pada tahun 2030.
"Karena itu, kami akan menyiapkan skill workers yang akan dibutuhkan pada saatnya nanti. Caranya, kami akan meningkatkan kapasitas universitas yang sudah ada, tapi kami juga akan mendirikan politeknik baru," katanya kepada Antara di Sampang, Madura, Jatim, Minggu (11/11/12).
Setelah meletakkan batu pertama Politeknik Negeri Madura (Poltera) di Sampang, ia menjelaskan alasan politeknik baru menjadi pilihan adalah untuk menggenjot akses masuk perguruan tinggi dan memenuhi kekurangan ’skill workers’.
"Yang tidak kalah pentingnya, perbaikan distribusi perguruan tinggi yang tidak tersebar di kota-kota besar, karena itu kami mendirikan politeknik baru di Jatim yakni di Sampang (tengah), Banyuwangi (timur), dan Madiun (barat)," katanya.
Secara nasional, katanya, pihaknya akan mendirikan politeknik pada kawasan 3-T yakni terluar, terpencil, dan termiskin, di antaranya Sangihe, Merauke, dan sebagainya. "Untuk memenuhi kekurangan ’skill workers’ itu, kami merencanakan pendirian 100 politeknik hingga 2015," katanya.
Ditanya anggaran pendirian politeknik itu, ia mengatakan pihaknya akan menganggarkan dalam APBN, karena anggaran pendidikan dalam APBN mengalami peningkatan.
"Kalau setiap politeknik membutuhkan Rp 100 miliar, maka untuk 100 politeknik akan dibutuhkan anggaran Rp 10 triliun," katanya.
Setelah meletakkan batu pertama Poltera, Mendikbud sempat memberikan kuliah umum yang dilakukan secara interaktif melalui dialog dengan enam mahasiswa Poltera yang "dititipkan" studi di PPNS dan PENS.
"Pendidikan itu ibarat lift. Kalau mau naik gedung, kita bisa saja menaiki dengan tangga biasa, tapi bisa dengan lift. Pendidikan itu ibarat lift yang berarti naik gedung atau naik jenjang lebih tinggi tanpa susah, karena tinggal pencet," katanya.
Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya pendidikan sebagai kunci sukses. "Untuk masyarakat yang tidak mampu, kami menyediakan beasiswa agar mereka yang hidupnya terbatas juga bisa sukses. Yang penting adalah belajar, aktif berorganisasi, dan patuh kepada orang tua. Insya-Allah, sukses," katanya.
Sumber

Politeknik Negeri Madura 2014 Akan Selesai

SAMPANG, KOMPAS.com - Mendikbud Mohammad Nuh menargetkan pembangunan Politeknik Negeri Madura (Poltera) akan selesai tahun 2014, karena Presiden memang memerintahkan untuk membangun Madura dan bukan membangun di Madura.
"Dua bulan lalu, Presiden membahas khusus masalah pembangunan Madura dalam sebuah rapat kabinet. Beliau berharap untuk membangun Madura dan bukan membangun di Madura. Saya menyampaikan masukan terkait masalah pendidikan," katanya di Sampang, Madura, Minggu (11/11/2012).
Didampingi sejumlah staf Kemendikbud dan para pimpinan ITS, PENS, PPNS, dan Unesa, ia mengemukakan hal itu kepada Antara menjelang kuliah umum kepada 67 mahasiswa Poltera di Pendopo Pamekasan, setelah meletakkan batu pertama Poltera di atas lahan 10 hektar.
Menurut mantan Rektor ITS Surabaya itu, pihaknya telah memberikan dukungan penuh kepada Poltera mulai dari status kelembagaan, dana, dan pendampingan untuk tahap awal.
"Status kelembagaan sudah jelas dengan adanya Permendikbud 67/2012 yang menyatakan Poltera adalah politeknik negeri, sedangkan dukungan dana berkisar Rp 75 miliar hingga Rp 100 miliar yang dikucurkan secara bertahap," paparnya.
Oleh karena itu, katanya, pembangunan Poltera dimulai tahun 2012, kemudian tahun berikutnya mungkin sudah ada ruangan untuk tiga program studi dan secara bertahap hingga 2014 akan dibangun ruangan untuk mencukupi politeknik dengan D3 (diploma-3) itu.
Untuk pendampingan, katanya, Poltera yang belum mempunyai gedung itu sudah memiliki 67 mahasiswa yang "dititipkan" pada PPNS dan PENS, karena Poltera membuka tiga program studi yakni Teknik Bangunan Kapal (PPNS), Teknik Listrik Industri (PENS), dan Teknik Mesin Alat Berat (PPNS).
"Untuk dosen juga sudah ada beberapa orang Madura yang studi S2 dan S3 di ITS, sehingga tinggal ditugaskan untuk kembali ke kampung halaman dengan mengajar di Poltera," tuturnya.
Ia menambahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri berkeinginan untuk datang ke Madura guna melihat langsung berbagai pembangunan yang berlangsung di sana.
"Insya-Allah, awal tahun 2013, Presiden akan melihat langsung sekolah, Poltera, pembangunan gedung rektorat Unijoyo, pembangunan infrastruktur seperti jalan, waduk atau embung, dan sebagainya," ujarnya.

Sumber
Kompas Edukasi

Breaking News November

Kami Segenap Kru dari jesaba News Portal mengucapkan

"Selamat dan Sukses kepada teman-teman Pengurus OSIS, MPK, dan Rohis yang saat ini sedang mengikuti Diklat"
Semoga ilmu yang didapat bisa dipraktekkan dengan baik.

Keaksaraan Modal Bertahan di Era Global


Jurnas.com | Membaca dan menulis merupakan hal penting dalam kehidupan. Terlebih di era globalilsasi yang mengharuskan untuk 'melek', teknologi. Menyadari betapa pentingnya hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus mendorong upaya untuk mengentaskan ketunaksaran di Indonesia.

Wakil menteri Kemendikbud, Musliar Kasim mengatakan, keaksaran merupakan komponen penting dalam menampaki kehidupan.

"Sebelum bekerja harus membaca dan menulis tidak ada kemampuan yang mendasar dari keaksaraan selain calistung untuk bertahan di dunia global," ujar Musliar dalam acara Seminar Internasional bertajuk "Meningkatkan Kekasaran Berbasis Bahasa Ibu dan Teknologi Informasi dan Komunikas" di Hotel Century, Kamis (1/11).

Musliar mengatakan, kesetaraan yang ditunjukan pada tema seminar ini meliputi inklusivitas. Pendidikan inklusif sendiri sangat memperhatikan peran penting bahasa ibu dalam membangun karakter budaya bangsa. Karena, bahasa Ibu adalah cerminan sebuah bangsa. 

"Bukan hanya untuk meningkatkan kualitas bangsa tapi jg peradaban bangsa," kata Musliar.

Namun sayang, lanjut Musliar, hingga kini Indonesia belum memiliki acuan baku yang diimplementasikan ke dalam bentuk kurikulum untuk menanamkan bahasa Ibu sejak dini. 

"Untuk itu, fasilitator dan peserta didik perlu mengembangkan bahan ajar dalam bahasa ibu krena mereka yg mengetahuinya. Dalam konteks keaksaraan orang dewasa, merupakan fondasi dari pembelajaran mereka. Untu itu kita harus menghargai kebhinekaan yg dimunculkan dari bahasa ibu. Ini berguna untuk memajukan ekonomi, kesehatan dan lain-lain. Semua manusai memiliki potensi lebih dari sekedar membaca simbol tapi juga mampu fenomena sosial," katanya.

Sumber

Mencari Ilmu di Museum

KOMPAS/DAHLIA IRAWATIKOMPAS.com - Puluhan siswi berkerudung, pekan lalu, menjejali Museum Probolinggo, Jawa Timur. Dengan bergerombol, mereka mengamati satu persatu koleksi museum itu, lalu mencatatnya dalam selembar kertas.

”Kesenian susah, kalau transportasi bagaimana?” tanya seorang siswi, sambil melongok kertas milik temannya. Sebanyak 46 siswa itu berasal dari Madrasah Tsanawiyah (MTs) Roudhotut Tholibin, Kademangan, Kota Probolinggo. Mereka berkunjung ke Museum Probo linggo dalam rangka studi lapangan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), khususnya pelajaran perubahan sosial dan ekonomi masyarakat.

”Mata pelajaran perubahan sosial bisa dipelajari dari sini. Perkembangan transportasi, sosial masyarakat, dan seni budaya bisa dibandingkan antara sekarang dan masa lalu. Di museum ini anak-anak bisa mengetahui kondisi masa lalu,” tutur Naning Wahyu Dyanti, guru IPS di MTs Roudhotut Tholibin.

Di zaman modern kini, Naning menuturkan, tidak mudah mendapatkan koleksi masa lalu yang bisa dijadikan pembanding dan bahan pengayaan pengetahuan generasi muda masa kini. ”Apalagi kami adalah komunitas pondok pesantren yang tak setiap hari bisa keluar. Museum adalah lokasi yang tepat untuk menambah pengetahuan kami,” ujarnya lagi.

Siswa MTs Roudhotut Tholibin sebagian besar berasal dari luar Probolinggo, seperti Kota Jember, Lumajang, atau Surabaya. Kunjungan ke Museum Probolinggo membuat mereka terpesona.

Intan, siswa kelas III, mengaku senang bisa belajar di luar ruangan, keluar dari rutinitas. ”Ini pertama kali kami belajar keluar. Senang sekali karena belajar jadi tak membosankan,” ujarnya. Hal senada juga dikatakan Hafidhoh, siswi lainnya. ”Di sini kami bisa tahu ternyata batik Probolinggo sangat indah. Jika hanya di kelas, saya tidak paham seperti apa,” katanya.

Usai mengerjakan tugas studi lapangan itu, pelajar itu pun dengan riang berfoto di halaman museum. Mereka juga melihat lokomotif dan tank yang juga menjadi koleksi museum. Canda tawa pun tak lepas dari mulut generasi penerus ini.

Sebagai siswi pondok pesantren, siswi MTs Roudhotut Tholibin hanya memiliki libur sehari setiap minggu, pada hari Jumat. Pada saat itu biasanya mereka pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Adapun sehari-hari, usai sekolah mereka kembali ke pondok, sebelum melakukan aktivitas keagamaan. Studi lapangan pun menjadi salah satu pelajaran favorit mereka.

Belajar memang tidak hanya bisa di dalam kelas. Belajar di luar kelas justru kadang lebih mudah diserap oleh siswa.

Sumber
Kompas Edukasi

Indonesia Belum Miliki Kurikulum Bahasa Ibu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia belum memiliki acuan baku implementasi menanamkan bahasa ibu dalam bentuk kurikulum. Padahal bahasa ibu memegang peranan penting dalam pendidikan inklusif.
"Pendidikan inklusif sangat memperhatikan peran penting bahasa ibu karena mampu membangun karakter budaya bangsa," ujar Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Pendidikan, Musliar Kasim.
Indonesia Belum Miliki Kurikulum Bahasa Ibu
Hal itu dikatakan dia dalam acara Seminar Internasional bertajuk 'Meningkatkan Kekasaran Berbasis Bahasa Ibu dan Teknologi Informasi dan Komunikasi' di Hotel Century, Kamis (1/11). 
Tak hanya berperan dalam kemajuan peradaban bangsa, bahasa ibu juga penting untuk meningkatkan kualitas bangsa.  Untuk itu, kata Musliar, fasilitator dan peserta didik perlu mengembangkan bahan ajar dalam bahasa ibu. "Kita harus menghargai kebhinekaan yang dimunculkan dari bahasa ibu," ucapnya. 
Hal ini berguna untuk memajukan ekonomi, kesehatan dan lainnya. Pasalnya semua manusia memiliki potensi lebih dari sekedar membaca simbol tapi juga mampu fenomena sosial.
Dirinya berujar Kemdikbud akan terus mendorong upaya pengentasan ketunaksaran di Indonesia. Menurutnya, keaksaran merupakan komponen penting dalam menampaki kehidupan. 
"Sebelum bekerja harus bisa membaca dan menulis. Tidak ada kemampuan yang mendasar dari keaksaraan selain calistung (baca, tulis, hitung) untuk bertahan di dunia global," ujar Musliar.

Sumber

Putusan RSBI Samakan Saja, Tak Perlu Ada Pungutan di Sekolah

shutterstock
JAKARTA, KOMPAS.com — Meskipun pungutan pada sekolah berlabel rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud), Aliansi Orang Tua Peduli Pendidikan Indonesia (APPI) tetap berharap pungutan ini ditiadakan.

Sekretaris APPI Jumono membenarkan pungutan dalam bentuk donasi sebagai dalih untuk pembenahan sarana-prasarana sekolah berkelas RSBI ini memang sesuai dengan Permendikbud. Namun, hal ini semakin menguatkan bahwa pendidikan yang dianggap berkualitas hanya diperuntukkan bagi kalangan yang mampu.

"Memang ada kuota 20 persen bagi siswa yang tidak mampu. Tapi, masalahnya anak-anak tidak mampu yang secara kualitas pendidikan mampu itu lebih dari 20 persen," ujar Jumono saat dijumpai di Mahkamah Konstitusi, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (30/10/2012).

Karena itu, pihaknya ikut mendukung percepatan putusan kasus RSBI yang menggugat Pasal 50 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jika gugatan ini dikabulkan, status RSBI akan dihapuskan dan pungutan berdasarkan Permendikbud tersebut juga akan hilang.

"Jadi, semuanya sama dan setara. Tidak ada yang diharuskan untuk memberikan pungutan," jelas Jumono.

Pada kenyataannya pungutan yang disebut sebagai alat untuk perbaikan sarana-prasarana dan kualitas pendidik tidak menunjukkan apa pun. Sarana-prasarana bagi peserta didik masih jauh dari memadai dan kualitas pendidik juga masih kurang mumpuni dalam tataran sekolah bertaraf internasional.

Seperti diketahui, orangtua akan dimintai pungutan secara beragam tergantung tingkatan sekolahnya. Di tingkat sekolah dasar (SD), pungutannya berkisar Rp 175.000-Rp 300.000. Pada tingkat sekolah menengah pertama (SMP), pungutan berada pada angka Rp 350.000-Rp 750.000.

Sumber
Kompas Edukasi

Yuk, Belajar Bahasa Melalui Novel


JAKARTA, KOMPAS.com - Buku-buku novel atau karya sastra fiksi, secara efektif mampu memengaruhi bahasa seseorang. Pengarang novel Dewi 'Dee' Lestasi menyadari hal itu. Melalui karyanya, Dee memang juga bertujuan memberi pengajaran bahasa Indonesia kepada para pembacanya.

"Menurut saya, novel atau fiksi adalah medium yang sangat efektif untuk pengembangan bahasa. Formatnya yang populer akan disukai banyak orang," ucap Dee kepada Kompas.com usai menerima penghargaan Bulan Bahasa untuk buku kumpulan cerita 'Madre' karangannya di Balai Bahasa, Jakarta, Selasa (30/10/2012).

Melalui karya fiksi, Dee tidak hanya berusaha memasukan bahasa yang baik dan benar, ia juga melakukan pendalaman bahasa dalam setiap karya-karyanya. Dengan begitu, pembaca bukan hanya sekadar tahu karangannya, namun secara implisit. pun mengetahui beberapa teknik berbahasa.

"Prinsip saya dalam menulis buku adalah menciptakan kisah dan karakter yang menarik, dan kemudian menggunakan bahasa Indonesia dengan sebaik-baiknya," tutur penulis Supernova dan Perahu Kertas itu.

Menurutnya, penuturan sebuah kisah sepenuhnya ditopang oleh bahasa. Oleh karena itu, setiap penulis atau pengaran novel perlu memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Melalui novel-lah, penulis memberikan pembelajaran berbahasa yang baik kepada para pembacanya tanpa ada kesan menggurui.

"Benar, dalam berkisah pasti kita berbahasa. Pembaca pun berarti belajar bahasa. Untuk itu menggunakan bahasa yang baik akan memiliki nilai pembelajaran bagi pembacanya, tapi tanpa menggurui tentu saja," tandasnya dengan senyuman.

Sumber
Kompas Edukasi 

Ajak Anak Belajar di Science Film Festival 2012!

JERIN
JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk ketiga kalinya, Science Film Festival yang menyuguhkan berbagai film pendek dengan konten edukatif untuk anak-anak kembali digelar di Indonesia. Sebanyak 17 kota di Indonesia telah siap menyelenggarakan kegiatan dari tanggal 1-15 November.

Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, mengatakan bahwa animo masyarakat terutama anak-anak cukup tinggi terhadap kegiatan ini. Hal ini terbukti dengan bertambahnya kota penyelenggara Science Film Festival pada tahun ini.

"Tahun sebelumnya, ada 12 kota yang terlibat. Saat ini sudah mencapai 17 kota, tentunya ini pencapaian yang baik dan membuktikan bahwa belajar ilmu pengetahuan dapat dengan cara yang menyenangkan," kata Anies saat jumpa pers Science Film Festival Indonesia di Blitzmegaplex, Jakarta, Kamis (1/11/2012).

Ia mengungkapkan bahwa selama ini pelajaran-pelajaran di sekolah selalu dianggap membosankan karena anak-anak hanya duduk di kelas dan pengajaran berjalan satu arah. Dengan kegiatan ini, anak-anak bisa menemukan cara baru untuk belajar dan memahami ilmu pengetahuan tanpa terbebani.

Tahun ini, Science Film Festival mengangkat tema besar tentang air. Tujuan dari tema ini adalah untuk mengingatkan kembali pada anak-anak untuk menjaga sumber daya alam yaitu air yang keberadaannya terus berkurang jika tidak dikonservasi.

"Temanya memang cocok sekali dengan Indonesia yang merupakan negara bahari. Dari sini, anak-anak diajarkan untuk menjaga kualitas air yang merupakan sesuatu yang vital dalam kehidupan," ujar Anies.

Adapun sasaran utama dari acara ini adalah anak-anak usia 9-14 tahun. Sebagian besar film berasal dari Filipina, Jerman, Indonesia, Kanada, Perancis dan Thailand yang telah dialihbahasa ke dalam bahasa Indonesia agar lebih cepat dipahami oleh anak-anak.

Nantinya, anak-anak tidak hanya sekedar menonton film saja di dalam bioskop. Namun setelah selesai menyaksikan berbagai film pendek tersebut, anak-anak akan diajak untuk mencoba eksperimen-eksperimen kecil berdasarkan film yang telah ditonton.

Science Film Festival yang sudah dijalankan sejak 2005 ini merambah beberapa negara ASEAN seperti Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand dan Vietnam mulai 15 Oktober hingga 15 Desember 2012. Namun tiap negara diberi jatah waktu penyelenggaraan selama dua pekan.

Indonesia yang mulai menyelenggarakan kegiatan ini pada tahun 2010 menangguk animo yang baik dengan 12.000 penonton. Pada tahun berikutnya, sebanyak 27.000 orang ikut meramaikan acara ini. Untuk tahun ini, tentu saja diharapkan minat anak-anak Indonesia semakin bertambah.

Di Jakarta, kegiatan yang digelar atas kerja sama Goethe Institut Indonesien, Kedutaan Besar Jerman di Indonesia, Universitas Paramadina, HiLo School, Institut Francais Indonesie (IFI) dan Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman (Ekonid) ini akan digelar di lima tempat, yaitu GoetheHaus Jakarta, Universitas Paramadina, PPIPTEK Taman Mini Indonesia Indah, Universitas Multimedia Nusantara dan SD Kristen Calvin. Keterangan lebih lanjut bisa dilihat di laman resmi kegiatan ini.

Sumber
Kompas Edukasi

Bahasa "Alay"? Biarkan Saja...


JAKARTA, KOMPAS.com — Tren bahasa alay terus merebak. Tak hanya di kalangan anak muda, tetapi juga di antara orang dewasa. Bahasa pergaulan yang mulai populer tahun 2009 ini pun masih sajangetren sampai saat ini dalam berbagai variasi. Bahasa ini makin masif karena media massa memopulerkannya lewat iklan dan tayangan-tayangan.

Menanggapi fenomena ini, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Mahsun, tak ambil pusing. Bahasa gaul anak muda ini tidak dinilainya sebagai suatu permasalahan yang besar.

"Tidak apa-apa, biarkan saja!" katanya kepada Kompas.com sambil tertawa di Jakarta, Kamis lalu.

Bahasa alay, lanjutnya, tak akan bertahan lama. Menurut Mahsun, tren ini hanya akan berkembang dalam rentang waktu terbatas saja dan tidak akan berefek buruk jika anak dan remaja tahu tentang posisi bahasa alay yang sebenarnya.

"Biarlah untuk sesaat dan hanya untuk kepentingan pergaulan anak muda. Selama kita dapat menumbuhkan kesadaran bahwa bahasa alay juga merupakan bagian dari varian bahasa kita, mereka pun tahu caranya berbahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai tempatnya," terang Mahsun dengan santai.

Menurutnya, sehebat apa pun bahasa di dunia pasti memiliki keberagaman, baik itu jenis, idiom, maupun tata bahasanya. Bahkan, setiap bahasa akan terus mengalami perkembangan dan perubahan. Hanya, para ahli bersepakat untuk memiliki satu standar bahasa yang nantinya dapat digunakan oleh suatu masyarakat tertentu. Dengan demikian, bahasa tersebut menjadi satu bahasa yang dimengerti banyak orang sehingga pesan satu sama lain dapat tersampaikan.

"Jadi, tidak bisa dihindari hal seperti itu. Tinggal kita tahu menempatkan posisi berkomunikasi seperti apa? Menjaga supaya tidak seenaknya berbahasa, juga menjaga pertumbuhan bahasa biar tidak liar," ujarnya lagi.

Mahsun menambahkan, masyarakat dan medialah yang justru memiliki peran yang sangat berpengaruh dalam menjaga standar bahasa yang sudah dimiliki. Masyarakat dapat membantu pemeliharaan bahasa dengan memeragakan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Media pun dapat menjaga sajian bahasa lisan maupun tulisannya dengan benar.

Sumber
Kompas Edukasi

ICW Minta MK Percepat Putusan RSBI

JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah pernah meminta kejelasan terkait kasus sekolah rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), Indonesia Corruption Watch (ICW) akhirnya mendatangi Mahkamah Konstitusi (MK) untuk mengajukan percepatan putusan kasus RSBI. Pasalnya, perkara RSBI ini telah berjalan selama setahun sejak diajukan.

Koordinator Monitoring Pelayanan Publik ICW, Febri Hendri, mengatakan bahwa pihaknya telah mengajukan masalah RSBI ini sejak Desember 2011. Sementara itu, pembacaan kesimpulan dari proses sidang yang telah berjalan sudah dilakukan pada Juni lalu. Namun, keputusan dihapuskan atau keberadaan RSBI ini tidak kunjung ada.

"Padahal, banyak perkara yang diajukan pada saat yang sama, dan keputusannya telah dikeluarkan oleh MK," kata Febri saat dijumpai di MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (30/10/2012).

Dalam kesempatan ini, ia mengutip paragraf ketujuh penjelasan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang MK yang menyebutkan bahwa kekuasaan kehakiman yang dijalankan MK harus dijalankan dengan sederhana dan cepat. Hal ini jelas mengharuskan MK cepat dalam menjalankan proses dan memutuskan kasus.

"MK harus segera memutus perkara ini. Jika MK tidak memenuhinya, maka kami akan mengajukan sengketa pada Komisi Informasi Pusat," ungkap Febri.

Uniknya, ICW membawa surat raksasa yang berisi permohonan percepatan putusan masalah RSBI yang kemudian kali ini diserahkan kepada MK. Selain itu, ICW juga membawa surat dengan isi serupa yang berasal dari Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI).

"Sengaja kami berikan yang besar agar terlihat. Untuk putusan, kami hormati apa pun itu. Tapi jika tidak kabulkan, langkah selanjutnya kami masih belum tahu," ujar Febri.

Seperti diketahui, materi yang digugat adalah Pasal 50 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal ini telah menjadi dasar hukum penyelenggaraan 1300-an sekolah berlabel RSBI. Keberadaan RSBI ini dinilai telah mendiskriminasi warga negara miskin dan tidak sesuai dengan UUD 1945. Jika pembatalan pasal ini dikabulkan, maka status RSBI harus dihapus dan penyelenggaraan satuan pendidikan berkurikulum internasional juga dilarang.

Sumber

Pakailah Bahasa Sesuai Konteks dan Tempatnya


JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam keseharian, orang Indonesia setidaknya menggunakan dua dari berbagai varian bahasa Indonesia, seperti bahasa daerah, bahasa nasional maupun bahasa asing. Pengamat Pendidikan, Arief Rachman, mengatakan bahwa orang Indonesia cenderung menggunakan berbagai bahasa tersebut mengakibatkan penggunaan yang kerap tidak sesuai tempatnya. Bahkan terkadang mengikis bahasa ibu yang semestinya dilestarikan.

"Di Indonesia ini tidak ada yang monolingual. Hampir semuanya multilingual. Paling tidak berbicara bahasa Indonesia dan bahasa prokem," kata Arief, saat jumpa pers seminar internasional meningkatkan keaksaraan berbasis bahasa ibu dan teknologi informasi dan komunikasi di Hotel Atlet Century, Jakarta, Rabu (31/10/2012).

"Kata lo-gue itu kan sekarang jadi bahasa prokem. Tapi karena lebih sering digunakan, terkadang bahasa prokem ini masuk dalam konteks formal," ujar Arief.

Untuk itu, ia mengatakan bahwa ilmu-ilmu tentang kebahasaan harus ditanamkan dengan baik tidak hanya melalui pendidikan formal melainkan juga dalam bentuk pendidikan non-formal. Menurutnya, kualitas pendidikan yang baik harus ditopang oleh pendidikan non-formal ini.

"Kontribusi pendidikan non-formal ini cukup besar bahkan tidak terbatas terhadap dunia pendidikan itu sendiri. Tapi juga dalam kehidupan sehari-hari," jelasnya.

Selanjutnya, ia mengapresiasi adanya seminar keaksaraan dengan mengembangkan bahasa ibu ini. Pasalnya, jika tidak dimulai seperti ini maka bahasa ibu untuk daerah-daerah tertentu akan punah dan tidak bertahan.

"Coba sekarang yang orang tuanya Batak dan Jawa. Bisa enggak anaknya yang lahir di Jakarta ngomong dengan salah satu bahasa daerah itu? Saya yakin hanya sedikit. Ini jika dibiarkan maka akan hilang," tandasnya.

Sumber
Kompas Edukasi

Pendidikan Mahal, Pekerja Anak Marak

JAKARTA, KOMPAS.com - Pendidikan di Indonesia yang terus berbenah tampaknya belum bisa menyentuh semua elemen masyarakat yang ada di Indonesia khususnya untuk anak-anak kurang mampu. Hal ini kemudian memunculkan para pekerja anak yang merupakan generasi putus sekolah.

Sebenarnya, faktor penyebab munculnya para pekerja anak ini cukup beragam. Sementara itu, yang terus mengemuka saat ini faktor penyebab adalah karena masalah sosial ekonomi dan kesejahteraan keluarga yang tidak mencukupi sehingga mengharuskan anak-anak ini harus bekerja.

Sementara itu, Direktur Pengawasan Norma Kerja Perempuan dan Anak Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Kemenakertrans, Adji Dharma, mengatakan bahwa ada faktor lain yang melatarbelakangi anak-anak ini menjadi pekerja anak.

"Bukan hanya masalah sosial ekonomi saja. Ada faktor lain juga. Itu yang kami coba tuntaskan bersama dengan Kemendikbud," kata Adji, di Yayasan Al Himatuzzainiyah, Cakung, Jakarta, Rabu (31/10/2012).

Adapun faktor lain yang menyebabkan anak usia sekolah ini menjadi pekerja anak yaitu budaya masyarakat yan berpandangan anak adalah aset keluarga sehingga harus menjadi tulang punggung keluarga. Kemudian adanya diskriminasi gender, permintaan pasar yang tinggi terhadap pekerja anak karena bayarannya murah dan yang terakhir lemahnya penegakan hukum terhadap masalah ini.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa jika anak-anak ini terpaksa harus bekerja, maka ada beberapa hal yang wajib diketahui terkait pekerja anak. Hal wajib ini sama sekali tidak boleh dilanggar karena berpengaruh pada tumbuh kembangnya.

"Untuk mulai bekerja harusnya berusia 18 tahun ke atas. Tapi jika terpaksa di bawah itu, maka anak bekerja tidak boleh lebih dari tiga jam per hari, pekerjaannya harus ringan dan tidak membahayakan keselamatan jiwa, fisik serta perkembangannya sebagai anak," jelas Adji.

Durasi waktu bekerja ini dimaksudkan agar anak-anak ini tidak kehilangan waktu belajar dan bermain. Untuk itu, adanya pendidikan layanan khusus ini diharap dapat menjadi solusi sehingga anak-anak ini tetap terpenuhi kebutuhan pendidikannya agar menjadi sumber daya manusia berkualitas.

"Anak bekerja tidak boleh jam kerjanya seperti orang dewasa. Kalau mereka sudah jadi pekerja anak, maka kebanyakan lupa sekolah, sulit dikembalikan ke sekolah," tandasnya.

Sumber
Kompas Edukasi

Bikin Koran Sekolah, Enggak Susah Kok...



KOMPAS.com - Sudah pernah membayangkan bagaimana membuat koran? Susah enggak ya? Nah, MuDAers di Surabaya enggak hanya membayangkan lho, mereka langsung praktik bikin koran sekolah. Dari mulai tulisan, foto, sampai desain, semua dikerjakan oleh mereka. Keren, kan. Ketahuan deh, bikin koran sekolah itu enggak ada susahnya kok. Tinggal kalian, mau aja!

Kompas MuDA bekerja sama dengan BRI dan Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, menggelar acara Festival MuDA pada 19-21 Oktober 2012. Bertempat di Kampus Universitas Katolik Widya Mandala, Kalijudan, Surabaya, MuDAers Surabaya mengikuti kompetisi koran sekolah, kompetisi dance dan band. Hadiahnya Piala Wali Kota Surabaya, lho...

Peserta kompetisi koran sekolah mencapai 23 tim sekolah. Karya-karyanya dipajang di pintu masuk kamp us. Sebelum memamerkan karyanya, pada 28 September lalu, mereka sudah mendapat pelatihan jurnalistik, fotografi, dan desain grafis yang diberikan awak Redaksi Kompas.

Selain mendapat pelatihan teori, seluruh peserta juga diajak bertemu dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Kesempatan itu tidak disia-siakan para peserta yang segera saja mewawancarai Wali Kota. Bukan hanya wawancara, mereka juga berfoto bersama dengan wali kota. Ada juga koran yang memajang foto mereka bersama Risma.

Nah, dengan berbekal bahan-bahan wawancara dan pelatihan teori, seluruh tim ditantang untuk membuat sebuah koran yang siap dibaca oleh masyarakat. Panitia mensyaratkan koran diisi satu tema yang berkaitan dengan Kota Surabaya. Berbagai permasalahan kota, seperti taman kota, kekerasan, dan pendidikan dikupas tuntas dalam satu halaman oleh setiap tim. Artikel utama disandingkan dengan sosok dan foto Wali Kota Surabaya yang terpampang dengan apik.

Tulisan MuDAers dari Surabaya cukup bagus, meski kadang-kadang masih kesalahan tanda baca yang kurang tepat. Ayo, lain kali lebih teliti ya!

Tampilan masing-masing koran keren-keren lho. Desain, layout, maupun gaya bahasanya top banget. Bukan hanya tulisan dan layout yang dipercantik, tim juga diharuskan membuat iklan sponsor yang menarik. Mereka membuat desain iklan berupa tulisan dan gambar.

Membagi waktu

Pada awalnya, bagi MuDAers, membuat koran dengan empat halaman bukan sesuatu yang mudah. Yohanes Agustinus, yang menjadi Ketua Tim SMA Karitas 3, Surabaya, mengaku sulit untuk membagi waktu antara sekolah dan berdiskusi membuat koran.

Tim itu membuat koran dengan nama Gita Karitas III yang mengangkat tema sekolah berkualitas. Dalam artikel utamanya, mereka mengkritisi tentang sistem pendidikan di Indonesia.

”Awalnya, setelah kami wawancara dengan Wali Kota Surabaya, kami mulai bekerja untuk membuat koran. Saat penyusunan artikel ini, bertepatan dengan ujian tengah semester, jadi kami belajar sambil menyisihkan waktu untuk membuat koran,” kata Yohanes.

Setelah melakukan penilaian yang lumayan ketat, para juri pun memilih para pemenang. Pemenang I diraih oleh SMAK St Agnes, diikuti oleh SMAK St Louis 1 (Pemenang II), dan SMA St Carolus (Pemenang III). Panitia juga memberikan hadiah kepada tim dengan Tulisan Terbaik kepada SMAK St Agens, Layout Terbaik SMAK St Louis 1, Iklan Terbaik SMAK St Hendrikus, dan Juara Favorit MAN Sidoarjo.

Mengapa SMAK St Agnes bisa menjadi tim dengan tulisan terbaik? Koran Arkansas yang dibuat oleh SMAK St Agnes mengambil tema tentang trafficking. Keunggulan koran itu, memuat sebuah feature tentang ruang terbuka yang dibutuhkan oleh masyarakat di kota. Berbeda dengan koran sekolah lainnya, yang sebagian besar mengisi halaman keduanya dengan berita yang diambil dari harian Kompas.

Kompetisi Dance dan Band

Fetival MuDA juga meriah dengan acara kompetisi dance dan band. Kompetisi dance modern seru banget sehingga menyedot perhatian para pengunjung, apalagi ada battle dance di akhir acara.

Sebagian peserta memakai lagu-lagu Korea yang memang asyik dipakai untuk mengiringi gerakan lincah si penari. Lagu ”Gangnam Style” milik penyanyi Korea, Psy, juga mewarnai lomba dance. Tentu saja, para penari mengenakan kostum dengan warna-warna cerah seperti merah, hijau, dan kuning. Semuanya keren abis.. bikin para juri bingung memilih pemenangnya.

Vania Maya Carissa, siswi kelas XI SMAK Frateran mengungkapkan, untuk menyiapkan tari modern yang ditampilkan bersama teman-temannya itu hanya butuh waktu satu minggu. Namun, Vania memang berlatih menari modern setiap minggu bersama teman-temannya sehingga saat akan mengikuti lomba hanya tinggal menyamakan gerakan.

”Latihan sendiri, cari gerakan sendiri, enggak ada pelatihnya. Gerakannya kami bikin sendiri, disesuaikan dengan lagunya,” kata Vania.

Nah, gimana MuDAers, seru kan? Semuanya bisa berkreasi sesuai dengan minatnya masing-masing. Bisa tampil narsis, dapat hadiah pula. Selamat buat para pemenang ya… .(SIE)

Sumber
Kompas Edukasi