Susah Mengingat dan Menghafal? Ini Solusinya

  JAKARTA, KOMPAS.com — Selama studi, Anda kerap dihadapkan berbagai macam materi kuliah yang harus diingat dan dihafal. Sebagai mahasiswa, Anda mungkin kerap mengalami kesulitan. Sekarang Anda cuma perlu memahami cara yang tepat untuk mengingat dan menghafal. Keduanya ternyata berbeda.

Mahasiswa kerap dihadapkan dengan dua tipe pekerjaan memori atau mengingat. Kerja memori yang pertama dan lebih umum adalah mengingat gagasan tanpa menggunakan kata-kata yang tepat dari buku atau dosen. Memori umum ini ada dalam semua mata pelajaran, tetapi lebih sering penggunaannya pada mata pelajaran seni, ilmu sosial, dan sastra.

Tipe lainnya adalah menghafal secara verbatim atau mengingat kata-kata yang identik dengan sesuatu yang dinyatakan. Tipe menghafal ini terdapat juga dalam semua mata pelajaran, terutama di bidang hukum, drama, ilmu pengetahuan, teknik, matematika, dan bahasa asing. Kata-kata dari rumus, aturan, norma, hukum, garis dalam bermain, atau kosakata harus benar-benar dihafal secara tepat.

Masing-masing tipe mengingat memiliki perannya masing-masing pula sehingga mahasiswa harus tahu waktu yang tepat untuk meningkatkan kerja memorinya sesuai yang dibutuhkan.

Memahami secara menyeluruh materi yang harus dihafal, baik soal hafalan nama maupun rantai kimia itu penting. Pemahaman tersebut berguna untuk memperoleh gambaran tentang serangkaian peristiwa kompleks atau rantai penalaran. Proses pemahaman materi yang harus dihafal atau diingat baik untuk mencoba memperbaiki daya ingat untuk memfungsikan kerja nalar.

Pada saat harus menghafal kata demi kata, cara yang baik untuk dilakukan mahasiswa adalah dengan menggunakan simbol, menandai khusus dalam teks dan buku catatan untuk menunjukkan bahwa bagian tertentu, aturan, data, dan semua unsur-unsur lain yang perlu dihafal dan perlu untuk dipahami. Jika memori verbatim diperlukan, kembali ke materi tersebut atau coba untuk mengulangnya pada waktu senggang, misalnya dengan memanfaatkan waktu perjalanan pulang pergi ke sekolah.

Menemukan minat pada materi tertentu dapat membantu Anda lebih cepat menghafal dengan mudah. Yang pasti, menghafal juga terkait dengan waktu yang Anda gunakan untuk mengulang materi yang perlu dihafal.

Mengasosiasikan materi

Sementara itu, untuk mengingat ide-ide umum bisa mulai dilakukan dengan menutup mata Anda dan mendapatkan gambaran dari penjelasan dan ringkasan yang ada. Cobalah untuk membacanya terlebih dulu. Pilahlah kata-kata kunci yang penting dan digarisbawahi atau dengan model ilustrasi sendiri atau dengan grafis, seperti gambar, diagram warna, dan grafik.

Selain itu, perlu untuk membentuk asosiasi terkait hal-hal yang perlu Anda ingat. Makin kaya asosiasi yang Anda bentuk, makin baik pula Anda mengingat materi tersebut. Cobalah menyampaikan ide yang jelas untuk teman Anda tanpa mengacu pada buku atau catatan dahulu. Anda juga bisa melatih diri Anda dengan menuliskan pertanyaan mengenai materi yang Anda pelajari lalu jawab. Dengan demikian, Anda seakan berlatih mengingat beberapa kali. Namun, tetap cocokkan jawaban yang Anda tuliskan dengan buku pengantar agar jawaban Anda sendiri tak salah.

Memang tak ada cara instan untuk bisa mengingat dan menghafal materi pelajaran atau kuliah Anda. Waktu yang disisihkan hingga mengulang-ulang materi wajib Anda lakukan. Selamat mengingat! 

Sumber

Dapat Beasiswa, Harus Bayar Zakat?

Pertanyaan:
Apakah kita wajib mengeluarkan zakat mal jika kita mendapatkan beasiswa sekolah yang besarnya melebihi 85g emas pertahunnya?
Al Anshori J di Bandung
Jawaban:
Ada dua pendapat ulama dalam hal zakat beasiswa. Pertama, ada ulama yang menjelaskan bahwa beasiswa tidak termasuk dalam obyek zakat dan tidak wajib zakat. Pasalnya, mereka yang mendapatkan beasiswa studi adalah sebagai mustahik dan umumnya beasiswa ada yang bersumber dari dana zakat dan ada juga dari sumber lain. Oleh karena itu pendapat ulama pertama ini menegaskan zakat beasiswa tidak ada sebab Anda dikelompokkan dalam kategori mustahik (orang berhak mendapatkan zakat) yaitu ke dalam golongan fi sabilillah.
Selain itu, beasiswa yang diterima merupakan tamlik muqayyad (pemberian bersyarat). Artinya, dana tersebut merupakan transaksi antara pemberi dana dan mahasiswa untuk menyelesaikan studinya. Kalau begitu, jangankan untuk zakat, untuk kepentingan mahasiswa sendiri pun bila tidak ada hubungannya dengan studi dana tersebut tidak boleh digunakan.
Pendapat kedua, ada ulama yang mewajibkan zakat atas seluruh harta termasuk tabungan dan beasiswa jika melebihi nishab zakat maka wajib berzakat 2,5 persen. Menurut ulama ini, beasiswa bisa dihukumi sebagai pemberian/hadiah dan bisa dihukumi sebagai penghasilan jika itu rutin diterima seperti zakat profesi.
Prof Dr. Quraish Shihab menjelaskan, jika beasiswa yang Saudari terima melebihi kebutuhan hidup, dan kelebihan itu senilai sekitar 85 gram emas, dan dimiliki selama setahun penuh, barulah Saudari wajib membayar zakat sebesar 2,5 persen. Kelompok ini menegaskan, pembayaran zakat ditunaikan setahun sekali, tapi kalau sekiranya setahun terlalu memberatkan bisa diangsur perbulan sekali.
Kasus ini senada dengan ungkapan Abu Ubaid dalam Kitab al-Amwal. Zakat wajib dikeluarkan atas seluruh harta termasuk harta hasil pemberian/hadiah (beasiswa). Sebagaimana dipraktikkan oleh sahabat Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas. Abu Ubaid meriwayatkan dari Hubairah bin Yaryam bahwasanya Abdullah bin Mas'ud memberikan kami keranjang-keranjang kecil kemudian menarik zakatnya. Demikian juga Abu Ubaid meriwayatkan juga Ibnu Abbas tentang seorang laki-laki yang memperoleh penghasilan "Ia mengeluarkan zakatnya pada hari ia memperolehnya".
Menurut hemat kami dari kedua pendapat ulama tersebut, kami lebih cendrung kepada pendapat kedua yang menjelaskan beasiswa wajib dikeluarkan zakatnya setahun sekali (atau bisa juga perbulan sekali takut memberatkan kalau setahun sekali) jika harta tersebut sudah memenuhi kebutuhan hidup dan cukup nishab.
Jadi kalau uang beasiswa yang diperoleh dari beasiswa itu setelah ditabung selama satu tahun dan sisa dari uang yang dimiliki mencapai nisab maka Saudari terkena zakat. Namun jika beasiswa tersebut hanya mencukupi kebutuhan bulanan saja  dan tidak terdapat sisa di dalamnya, kemudian setelah satu tahun ternyata uang sisa tersebut tidak mencapai nisab, maka Saudari tidak terkena kewajiban zakat.

Sumber
Kompas Edukasi
 

Pemerintah Hentikan Pendirian Perguruan Tinggi Baru

JAKARTA, KOMPAS.com- Pemerintah menghentikan sementara pendirian dan perubahan bentuk perguruan tinggi, serta pembukaan program studi baru mulai September 2012. Kebijakan moratorium ini diberlakukan hingga paling lambat pada 31 Agustus 2014.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso, Senin (20/8/2012), menjelaskan, kebijakan ini terkait disahkannya Undang-undang Pendidikan Tinggi (UU PT) oleh DPR yang memuat berbagai ketentuan baru tentang pendirian dan perubahan bentuk perguruan tinggi, pembukaan program studi baru, serta mengamanatkan penguatan pendidikan vokasi.
Untuk itu, pendirian dan perubahan bentuk perguruan tinggi serta pembukaan program studi baru yang akan diusulkan harus diproses berdasarkan UU PT dan peraturan pemerintah yang harus diterbitkan dalam waktu dua tahun.
"Dengan adanya UU PT, kita harus melakukan penataan kembali. Moratorium yang diberlakukan sementara untuk penambahan program studi baru, perubahan bentuk dan perguruan tinggi baru. Jumlah program studi sudah terlalu banyak, bisa mendekati 20.000," jelas Djoko.
Untuk semua usul pendirian dan perubahan bentuk perguruan tinggi serta pembukaan program studi baru yang telah tercatat dalam agenda surat masuk oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sebelum 1 September 2012, akan tetap diproses sesuai peraturan perundang-undangan. Namun, pengecualian dilakukan jika pemerintah memandang perlu untuk diselenggarakan program-program studi tertentu pada wilayah-wilayah tertentu karena kebutuhan negara.
Menurut Djoko, pemerintah merasa perlu menata perguruan tinggi yang ada supaya kualitasnya seperti yang diharapkan masyarakat. Selain itu, penataan ini dibutuhkan untuk mengatur keberadaan perguruan tinggi berdasarkan lokasi dan juga kebutuhan untuk memperbanyak pendidikan vokasi di jenjang pergruuan tinggi.
"Usulan perguruan tinggi yang masuk, masih lebih banyak sosial. Padahal, kita kan butuh meningkatkan pergruuan tinggi di bidang sains, teknik, dan pertanian, termasuk juga yang vokasi," jelas Djoko. 

Sumber

Ada Universitas Pasifik di Morotai

MOROTAI, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara resmi mendirikan sebuah perguruan tinggi di Morotai. Perguruan tinggi itu dinamakan Universitas Pasifik. Mulai hari Senin (30/7/2012) ini, Universitas Pasifik membuka penerimaan mahasiswa baru.

Dengan berdirinya universitas ini, Morotai yang merupakan daerah otonom baru sejak tahun 2008 lalu, sudah memiliki dua buah universitas, yakni Universitas Muhammadiyah dan Universitas Pasifik.

Universitas Pasifik didirikan Pemkab Pulau Morotai melalui sebuah yayasan, yaitu Yayasan Pasifik yang diketuai langsung Sekertaris Daerah Pulau Morotai, Mohdar S Arif. Untuk operasionalnya, dibiayai kolektif antara pemerintah daerah dan yayasan.

"Kini Morotai sudah punya Universitas yang namanya Universitas Pasifik. Jadi saya minta kepada para orang tua agar menguliahkan anaknya di universitas ini," kata Mohdar S Arif, Senin (30/7/2012).

Meski terbilang baru, Universitas Pasifik sudah membuka enam fakultas, yaitu Fakultas Perikanan dan Kelautan, Fakultas Kesehatan, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dari 6 Fakultas ini, terdapat 12 program studi. Saat pertama kali membuka pendaftaran penerimaan mahasiswa baru, para panitia langsung dibanjiri para lulusan SMA.

"Sampai siang ini sudah sekitar 40-an orang yang datang ambil formulir pendaftaran. Mereka datang langsung, karena setelah pengambilan formulir, lalu dikembalikan lagi," jelas Nurnain, salah satu petugas pendaftaran Universitas Pasifik.

Pelaksanaan pendaftaran mahasiswa baru sendiri dilakukan di Gedung SMAN 1 Morotai, karena Universitas Pasifik belum memiliki gedung rektorat.

"Gedung rektoratnya sementara lagi dibangun. Kita berharap pihak rekanan dapat mempercepat pembangunannya agar dalam beberapa bulan ini langsung digunakan," kata Mohdar.

Sementara itu, untuk perkuliahan, Pemkab Morotai dan Yayasan PAsifik masih akan menggunakan sejumlah gedung sekolah, di antaranya SMAN 1, SMA Muhammadiyah, dan MA Gotalamo.

Bupati Pulau Morotai Rusli Sibua mengatakan, Universitas Pasifik  telah melakukan kerja sama dengan Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, berupa pertukaran dosen dan pemakaian alat praktik.

"Target kita kedepan, Univesitas Pasifik tidak hanya menjadi tempat kuliah bagi orang orang Morotai. Tapi juga bagi orang-orang Jepang dan Hongkong pun bisa kuliah di Unpas karena jarak tempuh ke Morotai hanya memakan waktu 3 jam," harap Rusli.

Rektor Universitas Khairun Ternate Gufran Ali Ibrahim menargetkan, Universitas Pasifik akan menjadi universitas negeri dalam jangka waktu 5 tahun ke depan. Pihaknya bersedia membantu yayasan Pasifik untuk mendirikan dan mengelola Universitas Pasifik.

"Ada upaya dari Pemerintah pusat untuk memajukan daerah tertinggal, terluar, dan terdepan. Morotai ada dalam tiga bingkai ini, Sehingga dalam waktu 5 tahun kedepan saya optimis Universitas Pasifik sudah bisa dinegerikan," kata Gufran.  

Sumber

Flag Football Mulai Dikenalkan Di Indonesia

Siang itu Sabtu (21/1) bertempat di salah satu lapangan sepak bola Batununggal,  Bandung, puluhan anak nampak asyik bertanding. Namun meskipun berada di lapangan  sepakbola, mereka rupanya tidak sedang bermain sepakbola.
Dua tim, masing-masing berjumlah 8 orang sekilas nampak tengah memainkan semacam  olahraga American Football. Ini terlihat dari cara mereka bermain dan juga bola yang  mereka gunakan yaitu football (bola kaki), berbentuk oval dan berwarna coklat.
Tim melakukan penyerangan dengan membawa bola menggunakan tangan sambil berlari atau  dilemparkan kepada rekan satu tim. Sedangkan tim yang lainnya berusaha menghentikan  gerak maju mereka. Skor dicetak dengan cara membawa atau meletakkan bola di luar garis  gawang pada sisi endzone lawan, atau menendang bola hingga melewati gawang lawan.
Namun anehnya, meskipun yang mereka lakukan sama persis dengan American Football, namun  mereka tidak mengenakan perlengkapan seperti seharusnya. Mereka hanya mengenakan kaus  dan celana training tanpa menggunakan peralatan pengaman apapun seperti layaknya  American Football. Selain itu, masing-masing pemain mengenakan bendera yang diikatkan  pada pinggang.
Ya, ternyata itu bukan American Footbal, melainkan Flag Football. Puluhan anak tersebut  merupakan peserta yang sedang bertanding dalam Indonesia Flag Football Association  (IFFA) National Friendly Game I. Delapan tim dari lima kota di Indonesia yaitu  Semarang, Bogor, Bandung, Jakarta, dan Surabaya bertanding dalam kompetisi yang baru  pertama kali diselenggarakan di Bandung itu.
Apa Itu Flag Football? Flag Football sebenarnya adalah versi “aman” dari American  Football. Kenapa dikatakan aman? Seperti diketahui, American Football adalah olahraga  yang cukup keras karena mengandalkan kekuatan fisik.
Dalam permainannya, American Footbal juga mempertontonkan kontak fisik yang keras,  karena masing-masing pemain berusaha menahan pergerakan lawan dengan adu badan.  Karenanya, dalam American footbal setiap pemainnya menggunakan alat pengaman mulai dari  pakaian khusus dan juga helm pelindung.
Flag Football disebut sebagai versi aman dari American Footbal karena dalam olahraga  ini kontak fisik dihilangkan. Sebagai gantinya, pemain mencabut bendera (Deflagging)  yang diikatkan di pinggang pemain untuk menghentikan pergerakan. Karena itulah olahraga  ini disebut flag football.
Di Indonesia, olahraga ini masih belum begitu umum di telinga masyarakat. Padahal, di  negara-negara lain, termasuk negara-negara Asean, olahraga ini sudah cukup populer.  Presiden IFFA Denny Yustiadi menuturkan, sampai saat ini memang baru segelintir orang  yang tertarik untuk memainkan olahraga yang kategorinya masih olahraga rekreasi itu.
“IFFA sendiri berdiri awalnya dari komunitas-komunitas kecil flag Football terlebih  dulu. Pertama lahir pada tahun 2002 di Jakarta, tapi kemudian kami vakum dan baru  kembali aktif 2009 lalu,” ucapnya ketika ditemui “PR”, Sabtu (21/1) lalu.
Flag Footbal dibawa ke Indonesia oleh sekelompok orang-orang yang baru mengenyam  pendidikan di luar negeri sekitar tahun 2000 lalu. Namun, karena hanya sekedar  dimainkan oleh mereka saja dan tidak ada sosialisasi apapun terhadap masyarakat, maka  tidak terjadi regenerasi pemain sehingga akhirnya Flag Football saat itu vakum begitu  saja.
Kemudian pada tahun 2009, muncul keinginan dari Denny dkk. yang berhasrat menghidupkan  kembali olahraga tersebut di Indonesia dan memasyarakatkannya. “Kami mulai dengan acara  nonton bareng liga profesionalnya yang kebetulan saat itu ditayangkan. Kami juga banyak  melakukan diskusi-diskusi melalui internet,” ucap Denny. Dari sana, minat masyarakat  rupanya cukup bagus. Berbagi pengetahuan membuat mereka tertarik dan akhirnya Flag  Football mulai menggeliat.
Saat ini, selain di Jakarta sebagai kota lahirnya IFFA, komunitas-komunitas Flag  Football mulai bermunculan di kota-kota lainnya di Indonesia. Diantaranya Bandung,  malang, Pekanbaru, Balikpapan, hingga Palembang. “Tapi rata-rata mereka masih kurang  paham dengan peraturan dalam flagfootball ini. Karena itu di ajang kompetisi pertama  ini kami namakan National Flag Football Friendly Game. Karena juara bukan tujuan  utamanya, melainkan sama-sama berlajar untuk lebih memahami olahraga ini,” ungkapnya.
Peluang Flag Football untuk menjadi olahraga yang diminati masyarakat sangatlah besar.  Meskipun saat ini baru beberapa kelompok saja yang memainkannya, namun bukan tidak  mungkin dalam beberapa tahun kedepan Flag Football menjadi olahraga yang tidak asing  lagi di telinga masyarakat.
Olahraga tersebut terbilang olahraga yang sangat mudah karena tidak membutuhkan  fasilitas dan peralatan pendukung yang rumit. “Pakaian bebas bisa kaus dan celana  pendek atau training, tidak ada pakaian khusus. Lapangan yang kita gunakan juga  fleksible, bisa gunakan lapangan bola, lapangan basket, dan ukurannya juga bisa  disesuaikan karena bisa dimainkan 8 lawan 8, atau bahkan 5 lawan 5,” tutur Denny.
Selain itu, olahraga ini juga tidak memandang postur tubuh. Jika dalam American  Football bisa kita lihat para pemainnya berbadan besar dan tinggi, dalam flagfootball  postur tubuh tidak dilihat. “Mereka yang kurus, gendut, kecil, besar, bisa memainkan  olahraga ini. Tidak perlu takut, karena masing-masing ada posisinya. Yang penting  selama dia masih bisa lari dan memiliki semangat bermain yang tinggi, bisa banget,”  ucapnya. (P-08)***

Sumber

Stop Dendam Turun-temurun di Sekolah!

KOMPAS.com - Tahun ajaran baru kerap dihiasi kepahitan yang sama. Jika tidak soal pungutan liar, ya soal bullying atau kekerasan untuk siswa baru. Yang terakhir, nyaris berulang setiap tahun, bahkan sering kali ditemui dilakukan dengan cara-cara yang sama.

Akhir bulan lalu, publik dikejutkan dengan kasus kekerasan yang dilakukan senior terhadap juniornya di SMA Don Bosco. Seperti biasanya, terjadi selama masa orientasi siswa (MOS) di awal tahun ajaran baru.

Para senior mengajak tujuh siswa kelas I di sebuah tempat, biasanya tempat nongkrong yang cukup jauh dari keramaian, atau paling tidak jauh dari perhatian dan kepedulian orang-orang sekitar, untuk "perkenalan" mental. Siswa-siswa baru yang masih "bau kencur" itu pun diminta duduk dan menunduk sembari para senior menutup wajah mereka dengan jaket.

Dalam keadaan menunduk, gelap karena wajahnya ditutup dan secara psikologis merasa junior tak boleh melawan senior, mereka mengalami tindak kekerasan, antara lain ditempeleng, dijambak, dipukul, dipaksa minum minuman keras dan disundut rokok.

Informasi kekerasan di sekolah ini diawali keberanian seorang orangtua murid untuk mengungkapkan kondisi anaknya yang pulang sekolah dengan tubuh babak belur. Menurut pengakuan sang anak, dia diculik ke sebuah lokasi dan berhadapan dengan 18 remaja. Delapan orang adalah siswa kelas III dan sisanya diduga alumni sekolah tersebut.

Dari pemeriksaan polisi kepada para senior yang akhirnya ditetapkan sebagai tersangka diperoleh alasan para pelaku melakukan kekerasan kepada para juniornya. Status senior adalah alasan utamanya.

"Motivasinya, mereka merasa sebagai senior sehingga menurut para tersangka pelaku, tindakan mereka terhadap beberapa siswa junior tersebut masih wajar," ungkap Kasat Reskrim Polrestro Jakarta Selatan AKBP Hermawan.

Para senior menunjukkan keperkasaan dan "kewibawaan" mereka dengan mengintimidasi para juniornya dan memaksa mereka menuruti semua perintah. Prinsip yang dipegang dari tahun ke tahun sama saja. Pasal pertama, senior tak pernah salah. Pasal kedua, jika senior salah, kembali ke pasal pertama. Maka terjadilah kekerasan.

Dorongan alam bawah sadar
Psikolog anak, Seto Mulyadi, mengatakan masalah kekerasan di sekolah sangat rumit dan kompleks. Pria yang akrab dipanggil Kak Seto ini menilai faktor trauma dan keinginan balas dendam menjadi pemicu remaja untuk melakukan tindak kekerasan kepada pihak yang lebih "lemah" darinya, bisa secara fisik, bisa pula secara status.

Mereka memanfaatkan waktu MOS sebagai salah satu waktu yang tepat untuk melampiaskan dendam karena traumanya.

“(Penyebabnya) sebetulnya banyak dan cukup kompleks. Keinginan untuk menyakiti orang lain dasarnya adalah kurang rasa percaya diri, mungkin juga korban dari perlakuan yang sama sebelumnya. Jadi ada suatu ada dorongan bawah sadar yang kemudian dilampiaskan dengan cara-cara yang tidak layak,” kata Kak Seto dalam dialog bersama Pro 3 RRI, Minggu (5/8/2012).

Masalah psikologis yang muncul adalah umumnya, para senior menyimpan trauma terhadap kekerasan yang mereka juga telah alami sebelumnya. Sebuah perasaan ingin berontak terhadap perlakukan senior mereka sebelumnya, namun tidak pernah bisa tersampaikan. Akhirnya, mereka memilih melampiaskannya pada anak-anak baru di sekolah mereka.

Sebelumnya, Kak Seto mengatakan keinginan untuk melakukan kekerasan itu menjadi nyata karena ada celah antara ruang pengawasan sekolah dan orang tua. Umumnya, kasus kekerasan di sekolah biasanya terjadi sesaat usai jam sekolah. Saat itu, para siswa sudah lepas dari pengawasan sekolah, namun belum sepenuhnya dalam pengawasan orangtua.

Sementara itu, seperti dilansir Antara, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang juga segera melakukan pengkajian terhadap faktor penyebab kekerasan di sekolah memperkirakan bahwa melampiaskan dendam lama sebagai bagian dari tradisi turun-temurun masa orientasi dan banyak menonton tayangan yang mengandung unsur kekerasan menjadi faktor utama.

Faktor trauma dan psikologis serta celah inilah yang dinilainya harus menjadi pintu masuk untuk memulihkan pelaku dan korban serta menyelesaikan kasus kekerasan di sekolah.

Sanksi terapi dan komunikasi
Oleh karena itu, Kak Seto memandang bahwa penyelesaian kasus kekerasan di sekolah juga harus bertolak dari kepentingan pemulihan anak sendiri. Pelanggaran dan kekerasan tetap harus diganjar dengan sanksi yang tegas, namun jangan sampai meninggalkan trauma yang sama untuk si pelaku di masa depan.

Terapi berbeda, masing-masing untuk pelaku dan korban, diberikan di bawah pengawasan psikolog. Langkah ini diambil oleh SMA Don Bosco untuk para siswanya yang terlibat dalam kasus ini.

Para siswa pelaku juga mendapat sanksi berupa kewajiban mengikuti program pembinaan dan konseling selama 20 hari efektif. Mereka diharapkan bisa kembali dengan nilai-nilai pelayanan sosial dalam kehidupannya selanjutnya.

Selain itu, Kak Seto mengharapkan kerja sama orangtua dan sekolah untuk membangun komunikasi yang intensif dengan anak untuk menjembatani celah yang memungkinkan terjadinya kekerasan di sekolah.

"Karena terjadi di antara celah pengawasan itu makanya penting untuk membangun komunikasi. Orangtua dan guru harus bisa lebih dekat, akrab dengan anak-anak agar mereka dibiasakan mengomunikasikan segala sesuatu secara terbuka," kata Kak Seto saat menyempatkan diri membesuk tujuh tersangka pelaku kekerasan di Mapolres Metro Jakarta Selatan.

"Jadi, yang terpenting adalah komunikasi antara guru dan siswa, antara orangtua dan anak-anak. Kalau sudah hubungan terjalin akrab, jika ada hal-hal yang mengganjal, pasti akan dikomunikasikan secara terbuka," tambahnya kemudian.

Menurutnya, penahanan bisa memberi efek jera. Namun yang terpenting, para siswa pelaku mengaku salah dan berani berubah karena itu bisa merugikan masa depannya.

Sekolah harus lebih ketat dalam hal aturan, sementara orangtua juga harus berani mengaku salah dan mau berubah dalam hal mendidik dan mendampingi anak dan remaja. 

Sumber

4 PTN Masuk Jajaran Kampus Terpopuler di Asia

JAKARTA (KRjogja.com) - Sebanyak empat perguruan tinggi negeri (PTN) Indonesia masuk dalam Top Ten 100 kampus terpopuler di Asia, versi pemeringkat Webometrics periode Juli 2012.

Seperti dikutip dari situs webometrics.info di Jakarta, Rabu, empat universitas yang populer di dunia internet tersebut yaitu Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Indonesia UI), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Surabaya (ITS) yang berturut-turut menempati peringkat ke-50, 79, 92 dan 96.

Adapun lima besar Asia ditempati oleh University of Tokyo, National Taiwan University, Kyoto University, National University of Singapore, dan Tsinghua University.

Webometrics melakukan pemeringkatan terhadap lebih dari 20.000 perguruan tinggi di dunia, 361 di antaranya perguruan tinggi asal Indonesia.

Lembaga pemeringkat yang berbasis di Spanyol ini, menetapkan empat parameter peringkat yaitu "presence" yang menggambarkan volume konten global masing-masing perguruan tinggi yang terindeks Google.

"Impact" yaitu kualitas konten yang diukur dengan tautan eksternal dari pihak ketiga dengan data visibilitynya menggunakan dua mesin pencari yaitu Majestic SEO dan Ahrefs.

Selanjutnya "opennes" yaitu yaitu jumlah rich file (pdf, doc, docs, dan ppt) yang terindeks di google scholar, serta "excellence" yaitu karya akademik yang dipublikasikan di jurnal international yang tergolong high-impact dengan sumber datanya diambil dari Scimago. (Ant/Ndw)

Sumber
KRJogja

Butet: Pembusukan Bangsa Terus Dilakukan

YOGYA (KRjogja.com) - Seniman asal Yogya Butet Kartaredjasa mengungkapkan, saat ini proses pembusukan terhadap Bangsa Indonesia terus dilakukan oleh para petinggi bangsa. Ibarat panggung drama, adegan penipuan diri yang berjamaah dan berlapis-lapis terus dimainkan, ditampilkan dalam bentuk pencitraan yang mempesona.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional 'Malunya Jadi Orang Indonesia', Senin (6/8) di kampus UKDW. Acara digelar dalam rangka peringatan 50 tahun universitas tersebut.

"Dan celakanya, para penonton itu mulai percaya bahwa yang sedang dihadapi adalah sebuah pementasan yang bagus. Ini sungguh mengerikan. Semua ramai-ramai menipu diri," tandasnya.

Menurutnya, aktor utama adegan penipuan berjamaah adalah para politisi. Mereka mendikte aktor lainnya, yakni penegak hukum. Mereka saling bermain siasat sana-sini, membuat improvisasi di luar naskah, untuk membuktikan bahwa mereka sudah bermain peran dengan benar.

"Maka sungguh tak mengherankan jika kitab sucipun dijadikan bahan penipuan itu. Jika kitab suci sudah tak dapat digunakan sebagai alat penipuan, entah apa lagi nanti yang akan dijadikan alat penipuan. Mungkin Gusti Allah pun akan di-lobby, dibujuk untuk terlibat dalam penipuan-penipuan berikutnya," ujar Butet disambut tawa hadirin.

Menurutnya hal ini adalah bentuk 'keajaiban' dan 'kejeniusan' bangsa, yakni memampuannya menciptakan ide cemerlang melanggengkan perangkap semu sebagai tujuan hidup. 'Kejeniusan' itupun berlangsung di semua lini kehidupan, termasuk di ranah kebudayaan.

"Ini termasuk akibat ulah Suharto yang selama 32 tahun menyeragamkan semua kebudayaan bangsa dengan budaya Jawa," imbuhnya.

Butet memaparkan pengalamannya bergaul dengan orang Samin (Komunitas Sedulur Sikep) di Pati Jawa Tengah yang saat ini bertarung dengan usaha kapitalis mendirikan pabrik semen. Mereka adalah kaum tani yang tidak bisa dibeli dengan uang, yang jauh lebih mulia dari para ulama dan budayawan yang sudah dijadikan bemper kapitalis pabrik semen.

"Saya ingin memberi inspirasi, bahwa masih ada kearifan luar biasa dari masyarakat Samin, yang harus kita jaga," lanjutnya.

Ia berpendapat, masyarakat dapat melakukan perlawanan terhadap proses pembusukan bangsa, dengan melakukan perubahan di satuan-satuan kecil.  Perubahan ini dapat dilakukan di berbagai sektor, termasuk bidang seni. "Sekarang ini adalah zamannya kolaborasi dari satuan-satuan kecil itu. Dengan begitu sebuah upaya pembentukan identitas dan karakter jadi lebih mudah dilakukan," pungkasnya. (Den)

Sumber

KRJogja 

Pendidikan Gratis, RSBI Menjerit...

 
JAKARTA, KOMPAS.com — Program Pendidikan Gratis 12 Tahun yang digulirkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menuai keluhan. Pasalnya, kebijakan itu tidak diimbangi dengan solusi yang berpihak kepada sekolah yang berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).

Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listiyarti mengatakan, banyak sekolah, terutama untuk SMA, yang berstatus RSBI kebingungan menutupi kebutuhan operasionalnya. Pasalnya, dana penunjang program itu belum juga sampai ke tangan sekolah, padahal tahun ajaran baru telah dimulai.

"Bagaimana tidak menjerit, misalnya untuk membayar listrik, untuk sebulan biaya listrik SMA RSBI bisa mencapai puluhan juta," kata Retno kepada Kompas.com, di Jakarta, Kamis (9/8/2012).

Dia menambahkan, unit cost Bantuan Operasional Provinsi (BOP) juga tidak akan cukup memenuhi biaya operasional SMA RSBI. Dalam perhitungannya, rata-rata biaya SPP SMA RSBI di Jakarta berkisar Rp 1 juta, sedangkan unit cost BOP hanya Rp 400.000 per siswa per bulan.

Meski meningkat drastis dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 75.000, nyatanya BOP baru mampu menutupi kurang dari setengah kebutuhan operasional SMA RSBI.

"Kalau untuk sekolah reguler mungkin cukup, tetapi untuk RSBI? Akhirnya ada program atau keperluan yang dipangkas," tuturnya.

Di tengah semua kesulitan yang dialami sekolah, Dinas Pendidikan DKI Jakarta juga mengeluarkan larangan bagi semua sekolah untuk memungut biaya dari siswa. Sekolah semakin kalut karena ada sanksi tegas jika aturan itu dilanggar.

"Entah bagaimana pemerintah melihat itu, tetapi saya bicara berdasarkan fakta di lapangan," tuturnya.

Sumber
Kompas Edukasi

Dilarang Memungut, tapi Bantuan Kapan Turunnya?

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mencanangkan Program Pendidikan Gratis 12 Tahun mulai mendapatkan kritik. Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listiyarti mengatakan, jika anggarannya tidak mencukupi, dan tanpa dimbangi dengan mekanisme penyaluran yang baik, pada akhirnya akan mengganggu proses belajar di sekolah.

Menurutnya, dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) Provinsi belum mampu menutup seluruh kebutuhan operasional sekolah. Apalagi, dana tersebut belum juga sampai ke sekolah. Padahal, tahun ajaran baru sudah dimulai sejak bulan Juli lalu.

"Akhirnya sekolah jadi sulit menutupi keperluannya. Memungut dilarang, tapi bantuan enggak jelas kapan turunnya," kata Retno kepada Kompas.com, di Jakarta, Kamis (9/8/2012).

Ia menambahkan, banyak sekolah, khususnya jenjang SMA berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) memangkas beberapa program pendidikannya. Tak sedikit, dana insentif untuk para guru juga telat dibayarkan. Bahkan, di beberapa SMA RSBI, banyak siswa mengeluh karena kondisi belajar mengajar di kelas menjadi kurang nyaman. Pasalnya, pihak sekolah menekan pengeluaran. Salah satunya dengan cara menghemat penggunaan listrik yang notabene adalah kebutuhan primer di sekolah.

"Siswa mengeluh karena proses belajar jadi kurang nyaman. Banyak orang tua yang ingin menyumbang, tapi kan sangat berisiko. Pada akhirnya, siswa juga yang dikorbankan," ujar Retno.

Seperti diberitakan, Pemprov DKI Jakarta mencanangkan Program Pendidikan Gratis 12 Tahun. Program tersebut mulai digulirkan awal Agustus lalu, seiring dengan dikeluarkannya larangan melakukan pungutan oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Kompensasinya, dana Bantuan Operasional Provinsi (BOP) untuk jenjang SMA ditingkatkan dengan signifikan. Dari yang sebelumnya hanya Rp 75 ribu, menjadi Rp 400 ribu per siswa per bulan. Jumlah tersebut dinilai tak akan cukup memenuhi kebutuhan operasional sekolah. Pasalnya, rata-rata biaya SPP SMA RSBI di Jakarta sekitar Rp 1 juta. Dua kali lipat lebih besar dari unit cost BOP.

Terkait berbagai keluhan ini, Kompas.com sudah mencoba menghubungi Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto. Akan tetapi, hingga berita ini diturunkan, panggilan telepon belum mendapatkan jawaban. 

Sumber

Ini Jawaban Mendikbud Soal Kritik terhadap UKG

 
JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh menjawab kritik yang dilontarkan oleh publik terkait penyelenggaraan uji kompetensi guru (UKG). Meski masih banyak kelemahan secara teknis maupun substansi dalam penyelenggaraannya, Nuh menegaskan bahwa UKG penting untuk memperbaiki kualitas guru di Indonesia.

"Program ini bukan untuk membuka aib, tetapi untuk melakukan perbaikan kualitas dan kinerja guru. Adapun hasil UKG nanti hanya akan menampilkan nilai rata-rata per provinsi dan kabupatennya saja, bukan perorangan," katanya saat pemaparan lanjutan rapat kerja bersama dengan Komisi X DPR RI, di Senayan, Jakarta, Kamis (9/8/2012).

Nuh tak menampik adanya sejumlah masalah dalam teknis pelaksanaan UKG di berbagai daerah. Namun, menurutnya, kementerian berupaya memperbaiki kegagalan yang sudah terjadi sehingga tidak terulang di gelombang berikutnya.

"Soal trouble yang terjadi, kita terus melakukan perbaikan, terutama hal-hal yang sifatnya teknis. Sebab, program ini konsen pada 2,9 juta guru di Indonesia," tambahnya.

Sudah ada sekitar 514.000 guru yang ikut dalam UKG gelombang pertama. Sisanya, diupayakan ikut dalam gelombang kedua. Selain mendapatkan guru-guru yang dinilai berada di bawah standar, lanjutnya, proses ini akan memangkas sekitar 33.000 guru per tahun yang masuk dalam kategori pensiun.

Guru-guru yang berada di bawah standar akan diberikan pengembangan kompetensi dan kembali melalui pengukuran kinerja dan uji kompetensi berikutnya. Selain itu, Nuh menambahkan bahwa kementerian terus berupaya melakukan perbaikan dalam penyediaan guru-guru baru.

"Untuk guru baru juga, kita akan menggelar seleksi khusus, calon tersebut akan diasramakan untuk memperkuat kompetensi kepribadian dan sosialnya, serta untuk meningkatkan kemampuan mengampu mata pelajaran ganda, mayor minor. Ini untuk mempermudah distributor, dan mereka juga akan diberikan beasiswa biar jadi guru itu tidak susah," tuturnya kemudian. 

Sumber 

Paskibraka, Tak Sekadar Baris-Berbaris

KOMPAS.com - Kegiatan pasukan pengibar bendera pusaka menjadi ekstrakurikuler yang digemari sebagian siswa SMA. Hampir tiap sekolah punya Paskibraka. Ada yang dikemas sebagai ekskul, tetapi ada juga yang menjadi kegiatan mandiri di luar OSIS.
Tugas utama anggota Paskibraka adalah menjadi petugas upacara, seperti pada upacara bendera rutin dan peringatan proklamasi kemerdekaan. Namun, tak berarti mereka hanya bisa berjalan tegap dan seirama bersama anggota Paskibraka lainnya.
Anggota pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) juga dituntut mampu berkreasi membuat formasi-formasi di peleton mereka. Penampilan dalam formasi baris-berbaris biasanya mereka tampilkan dalam lomba yang digelar sejumlah instansi.
Salah satu sekolah yang aktif mengikuti lomba sekaligus mengadakan lomba adalah SMAN 2 Madiun, Jawa Timur (Jatim). Di sini setiap tahun peserta Paskib, begitu mereka biasa menyebut Paskibraka, mengikuti lomba Paskibraka se-Jatim.
Pengurus Paskibraka SMAN 2 Madiun tak hanya menjadi peserta lomba. Mereka juga mengadakan lomba berbaris kreasi dengan mengundang siswa SMA dan sederajat se-Jatim. Peserta lomba mencapai 30 sekolah dari Madiun dan kota-kota lain. Ada dua kategori lomba, peraturan baris-berbaris (PBB) murni dan kreasi.
”PBB murni hanya baris-berbaris biasa seperti hadap kanan-kiri. Kalau PBB kreasi, kita berbaris sambil membuat berbagai formasi,” kata Annisa Dwi Arbaningrum, siswa kelas XII IPS yang menjadi pengurus Seksi Dokumentasi Paskibraka SMAN 2 Madiun.
Prestasi anak Paskibraka sekolah itu lumayan. Mereka pernah menjadi juara pertama lomba PBB murni se-Jatim dan juara ketiga lomba PBB kreasi se-Jatim.
”Kami sering mendapat undangan ikut lomba baris-berbaris. Sekolah yang mengurus keperluan kami, misalnya ke Surabaya atau Kediri,” kata Annis, panggilannya. Pimpinan SMAN 2 Madiun minimal memberangkatkan satu peleton (terdiri 16 orang) plus guru pembimbing.
Siswa SMAN 9 Kota Tangerang, Banten, pun tak kalah aktif dalam Paskibraka. Dita Ardila, siswa kelas XII IPS sekolah itu yang kini menjadi senior tingkat II Paskibraka SMAN 9 Kota Tangerang, mengatakan, Paskibraka dibentuk tahun 2004.
”Pembentukannya berawal saat anak sekolahku dilatih siswa SMAN 3 Kota Tangerang. Sampai sekarang kami menganggap siswa SMAN 3 sebagai senior kami,” katanya.
Pimpinan sekolah itu juga sering mengirimkan siswanya ikut lomba PBB se-Tangerang ataupun Banten. ”Walau belum pernah menjadi juara pertama, siswa sekolah kami pernah menjadi komandan peleton terbaik,” kata Dita yang ikut Paskibraka sejak kelas X.
Di Jakarta, salah satu sekolah yang punya kegiatan Paskibraka adalah SMA PSKD 4 Melawai, Jakarta Selatan. Ratih Sonia Setyawati, Ketua Paskibraka SMA 4 PSKD, mengakui, sebenarnya kegiatan itu sudah bertahun-tahun ada di sekolahnya. Namun, tak banyak siswa yang ikut.
”Di angkatanku paling banyak 15 anak yang ikut Paskibraka,” kata siswa kelas XII IPA ini. Minimnya anggota Paskibraka tak membuat mereka malas berlatih. Mereka tetap berlatih setiap Kamis seusai pelajaran sekolah.
Disiplin dan kompak
Sebagian siswa, termasuk peserta Paskibraka, berpendapat, kegiatan anggota Paskibraka lebih banyak menguras energi dan membuat kulit terbakar matahari. Tiga cewek yang aktif di Paskibraka, seperti Dita, Ratih, dan Annis, mengakuinya.
”Latihan (Paskibraka) bikin kulitku makin hitam, ha-ha-ha,” ujar Dita. Maklum, latihan Paskibraka selalu diadakan di lapangan terbuka saat matahari tengah bersinar terik. Pelaksanaan upacara biasanya juga pada siang hari.
Namun, siswa yang telanjur menyukai Paskibraka pasti tak mau meninggalkan latihan itu. Lalu, apa yang mereka cari dari ”baris-berbaris” ini?
”Aku ingin menjadi petugas upacara yang kebagian membawa bendera Merah Putih atau yang mengibarkannya,” ujar Annis.
Menurut dia, mengibarkan bendera membuat ia merasa makin menghargai kemerdekaan bangsa Indonesia. ”Sewaktu memegang Merah Putih, aku membayangkan betapa susah pejuang kita saat mau mengibarkannya. Ini membuat aku lebih menghargai jasa para pahlawan,” katanya.
Setelah ikut seleksi, Annis menjadi salah satu anggota Paskibraka di kotanya. Ia, tim pelajar SMA lain, dan anggota TNI-Polri akan menjadi petugas upacara pada peringatan HUT Ke-67 RI di Alun-alun Kota Madiun pada 17 Agustus nanti.
Dita dan Ratih yang kebagian menjadi petugas upacara di sekolah masing-masing pada 17 Agustus merasa bangga menjadi pengibar bendera. ”Banggalah, kan, enggak semua orang mau dan mampu menjadi petugas upacara, apalagi bagian pengibar bendera,” kata Dita.
Kekompakan menjadi ciri anggota Paskibraka, tidak hanya kompak antara senior dan yunior, tetapi juga antara anggota aktif dan alumni. Oleh karena itu, di beberapa sekolah, kegiatan Paskibraka tak memerlukan pelatih khusus. Di sini anggota senior atau alumni yang melatih adik kelasnya.
Saat mereka ikut lomba, alumni pun menjadi pendukungnya. Mungkin karena itulah, di sekolah justru jarang ada faktor kekerasan dalam Paskibraka.
”Kalau ada di antara kami yang salah langkah dalam berbaris, tanpa disuruh pun kami push up minimal tiga kali,” ujar Ratih.
Secara umum mereka mengaku mendapat manfaat dari Paskibraka, antara lain lebih disiplin, kompak, dan fokus pada apa yang harus dikerjakan.
”Tiga faktor itu harus kami lakukan saat berlatih dan bertugas,” kata Ratih. Dampak lanjutannya, ia merasa malu bila terlambat ke sekolah. ”Masak anak Paskibraka telat, sih. Ini enggak sesuai ciri kegiatan kami yang penuh disiplin,” katanya.
Tak hanya siswa yang mendapat manfaat, orangtua pun senang anaknya ikut Paskibraka. ”Dua anak saya ikut Paskibraka. Mereka menjadi lebih disiplin, percaya diri, dan sayang kepada teman. Karena itulah yang diajarkan di Paskibraka,” ujar Sudjadi, guru Bahasa Indonesia SMAN 2 Madiun yang membina Paskibraka di sekolah itu. (SOELASTRI SOEKIRNO)

Sumber
Kompas Edukasi
 

Gratiskan Biaya Kuliah, Sultan Ganti Dengan Kayu Jati

 
JAKARTA (KRjogja.com) - Setiap kampus baik negeri maupun swasta yang mau memberikan subsidi kepada orang miskin sampai lulus S-1, maka saya sebagai Gubernur membayar dengan pohon jati .

Demikian disampaikan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kemdikbud Senayan Jakarta, Selasa (31/7) usai menghadiri Sidang Kabinet Terbatas.

Caranya setiap kampus yang mau menyubsidi orang miskin sampai lulus S-1 itu, saya bayar dengan pohon jati pada 15 tahun mendatang, strategi ini sangat membantu  mahasiswa miskin berprestasi bisa menyelesaikan studi S-1.

"Pembayaran biaya kuliah mahasiswa tersebut dengan sebuah pohon jati berusia 15 tahun tersebut. Pogram tersebut telah berjalan selama tiga tahun dan melibatkan sedikitnya enam perguruan tinggi negeri/swasta yang ada di DIY. Kebijakan ini diambil untuk menyiasati terbatasnya peluang masyarakat miskin dalam mengenyam pendidikan tinggi yang berkualitas," ungkap Sultan.

Lahan seluas 10 hektar milik kabupaten/kota telah disiapkan pemerintah daerah. Lahan tersebut akan ditanami ratusan pohon jati yang nantinya akan dimanfaatkan untuk mengganti biaya mahasiswa yang mengambil jenjang S-1 di perguruan tinggi bersangkutan.

"Seandainya satu kampus menggratiskan lima mahasiswa, itu kan sudah lumayan. Harga pohon jati setelah 15 tahun itu sepadan dengan biaya mahasiswa saat berkuliah," ujar Sultan.(Ati)

Sumber
KRJogja

Wamendikbud: Banyak Kepsek Asal Diangkat


Padahal Kemdikbud memiliki lembaga pelatihan dibawah koordinasi Badan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP dan PMP). Para kepsek ini bisa dilatih disini dan diuji dengan batas akhir nilai yang ditentukan.

"Selanjutnya guru yang sudah dilatih ini sah untuk diangkat menjadi kepsek namun Kemendikbud tidak mempunyai kewenangan untuk mengangkat kepsek, hanya sebatas mengirim surat ke daerah bahwa calon kepsek ini layak diangkat menjadi kepsek," jelas Musliar.

Musliar mengakui di daerah banyak yang tidak menjalani pelatihan di lembaga tersebut. Padahal kepsek ini awalnya hanya guru dan tidak semua guru mampu menjadi kepsek karena tidak hanya kemampuan mengajar namun ada pola manenjerial yang mesti dikuasai sang kepsek.

“Kepsek harus punya leadership. Apalagi sekarang MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) sudah berjalan. Aliran dana BOS dan rehab sekolah ini yang menjadikan peran kepsek tak hanya mampu mengajar saja,” ujarnya.

Ada Surat Keputusan Bersama (SKB) Lima Menteri Distribusi Guru yang mengatur penempatan kepsek. Sayangnya pada SKB ini tidak ada aturan sanksi sehingga peraturan ini pun sangat lemah dalam praktek di lapangan. Oleh karena itu dalam revisi UU No 32/2004 tentang Otonomi Daerah Kemendikbud berharap ada perbaikan dalam pengangkatan kepsek di daerah.

“Kepsek seenaknya saja diangkat karena dekat dengan pejabat atau tim sukses. Bahkan guru disekolahnya pun tahu dia tidak mampu menjadi kepsek,” pungkasnya. (Ati)

Sumber
KRJogja

Guru Kritis Mendadak Dimutasi

JAKARTA, KOMPAS.com — Nurdin, guru Bahasa Inggris SMPN 27 Makassar, Sulawesi Selatan, yang juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) Sulsel, mendadak dimutasi, Sabtu (11/8/2012). Surat mutasi yang diterimanya di sekolah pagi ini diduga kuat berkaitan dengan keterlibatannya menggerakkan para guru berunjuk rasa di DPRD Kota Makassar pada Senin lalu.
"Saya kaget, pagi ini ada yang mengantar surat mutasi. Tetapi anehnya, tidak ada tembusan untuk sekolah saya, sekolah baru, maupun dinas pendidikan," kata Nurdin yang mengajar Bahasa Inggris di SMPN 27 Makassar sejak 1996.
Pada Senin lalu, Nurdin bersama sekitar 200 guru di Kota Makassar berunjuk rasa di DPRD Makassar. Mereka protes karena tunjangan profesi guru yang disalurkan di Makassar baru dua bulan pada awal Agustus lalu. Padahal, sesuai ketentuan, seharusnya tiap guru bersertifikat menerima enam bulan tunjangan profesi guru.
Nurdin juga diundang talkshow di sebuah stasiun televisi lokal.
Ia menyebutkan, ada laporan dari Kementerian Keuangan bahwa tunjangan profesi guru sebenarnya sudah disalurkan pada Juni lalu untuk dua triwulan atau enam bulan. "Kami, para guru, kan memperjuangkan hak kami. Ternyata, anggaran tunjangan profesi guru untuk Makassar ada untuk enam bulan, tetapi kenapa ke guru diberikan dua bulan," tutur Nurdin.
Pada Jumat lalu, Komisi D (Pendidikan) DPRD Makassar memanggil para pejabat Pemkot Makassar. Dalam pertemuan ini, Pemkot Makassar mengakui dana untuk membayar tunjangan profesi guru sudah masuk dari Kementerian Keuangan dan siap membayarkan kepada guru sebelum Lebaran.
Sabtu pagi ini Nurdin mendapat surat mutasi yang ditandatangani Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Makassar Muhammad Kasim pada 9 Agustus 2012. Dalam surat itu dinyatakan, Nurdin dipindahkan ke SMPN 38 yang berada di pulau. Untuk menuju sekolah ini harus menggunakan perahu.
"Saya menolak mutasi dengan cara tidak benar. Kalau alasannya disebutkan saya dimutasi karena memimpin demo penuntutan tunjangan profesi guru, saya terima. Tapi alasannya tidak jelas," kata Nurdin.
Nurdin menyatakan akan menggugat Pemkot Makassar. Ia akan meminta bantuan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Kota Makassar. 

Sumber